
Mereka berjalan ke arah pintu lift yang terbuka, keduanya masih menahan tawa dengan tangan saling menggenggam.
"Rupanya kalian di sini?"
Dara menolehkan kepalanya, begitu juga dengan Biru. Keduanya tersenyak kaget saat melihat Prasetya berada di belakangnya.
"Om Pras?" cicit Dara.
"Ya ... Kau kaget melihatku di sini Dara? Kenapa ... Apa aku mengganggu kalian? Apa kau tahu saat ini ayah dari anakmu sedang kritis di rumah sakit dan kalian tidak punya empati sedikitpun terhadapnya?"
"Kenapa kau berharap kami berempati padanya setelah apa yang dia perbuat?" tukas Biru, "Aku rasa kau sudah tahu apa yang dilakukan putramu sampai dia terluka seperti itu dan kritis!" tukasnya lagi.
Prasetya mengulas senyuman dengan dingin. "Ya ... Kau memang hebat, kau memang berkuasa, dan kau juga pintar bicara! Dan kau ... Ini semua adalah kesalahanmu," tunjuknya pada Dara.
Dara tersentak kaget, kedua tatapannya nanar saat melihat Prasetya menatapnya tajam.
Sejurus kemudian Biru melangkah dan merangsek kerah kemeja yang di kenakan Prasetya. "Kau bilang apa. Katakan sekali kali? Kau lupa siapa di sini yang menjadi korban?"
"Biru ... Hentikan!" Dara histeris saat Biru mendorong Prasetya hingga mundur dan terhimpit di dinding tembok dengan kedua tangan semakin kuat merangsek kerahnya. Gadis itu terus menarik lengan Biru agar melepaskan Prasetya.
"Biru ... Lepaskan Bi! Gak perlu kayak gini!"
Biru akhirnya menghempaskan Prasetya yang kini terbatuk batuk memegangi lehernya. "Kau lupa sesuatu Pras!"
Prasetya menatapnya dengan dingin, dia lupa perjanjian yang sudah Rian tanda tangani di perusahaaan.
"Tapi kau tahu sendiri kalau aku hanya kebetulan bertemu, aku tidak sengaja datang kemari dan menemuinya!"
"Pergi!" tukas Biru lagi.
Prasetya terkekeh melihat Dara, tatapannya memang sulit di artikan sampai dia berlalu begitu saja.
Dara menghela nafas, seraya terus menatap punggung Prasetya, lagi lagi dia harus mendengar seseorang mengatakan semua yang terjadi karena kesalahannya. Bahkan dalam waktu bersamaan Prasetya dan juga Intan mengatakan hal yang sama.
"Ayo pergi Dara!"
"Tunggu Bi! Apa yang kamu tahu tentang Rian, kamu tahu kejadian Rian kritis kan?" tanyanya pada Biru.
"Bi?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Biru menghela nafas, sementara Dara menatapnya dengan penuh harap. "Kenapa semua orang menyalahkanku Bi?"
"Rian dan wanita yang bernama Intan Aurora ... Aku melihat mereka berdua di salah satu klub malam, dan wanita itu menyebut namamu Dara!"
"Hah ... Siapa, Intan Aurora?"
"Ya ... Teman sekolahmu bukan?"
Dara mengangguk, ada apa diantara Rian dan juga Intan, setahunya mereka tidak saling kenal.
"Memangnya kenapa mereka, mereka tidak mungkin saling kenal, lagian juga Intan langsung pergi ke luar negeri dan tidak tahu apa yang terjadi padaku ... Kecuali ... Kecuali karena emang mereka terlibat!"
Ucapnya dengan membalikkan tubuhnya. "Aku akan ke rumah sakit!"
"Hey ...!"
"Aku akan kerumah sakit untuk mencari tahunya!"
"Tunggu! Kau tenang saja dan jangan fikirkan apa apa, ingat kau ini sedang hamil. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada kandunganmu?"
"Bi ... Aku harus tahu kenapa semua ini terjadi padaku. Aku akan ke rumah sakit dan bertanya pada Rian!" jawab Dara tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Aku tahu Dara! Tapi kita pergi besok saja. Aku akan mengurusnya untukmu!"
"Kamu tunggu aja, aku mau pergi sendiri!" ucapnya melangkah keluar dari gedung apartemen.
Biru mencekal lengannya, kali ini lebih kuat dari sebelumnya hingga tubuh Dara berputar ke arahnya.
"Dengar Dara ... Kamu jangan gegabah! Ini sudah malam dan tidak akan bisa menemui Rian."
"Bi ... Aku mohon! Aku ingin semua ini berakhir, aku ingin tahu apa Intan yang aku anggap sahabat itu ada hubungannya seperti kamu bilang Bi. Kamu harus nya ngerti perasaan aku!"
Biru menghela nafas, seraya kembali melepaskan cekalannya.
"Dara ...! Oke Dara, tapi aku akan mengantarkanmu! Apapun yang akan terjadi nanti, kau harus terus disampingku. Mengerti?"
Dara mengangguk lirih saat tangan Biru menyusut air matanya yang mulai turun.
Inilah yang tidak aku inginkan Dara, kembali melihatmu bersedih karena semua ini tidak ada habisnya. Tapi aku rasa kamu berhak tahu Dara. Batin Biru.
__ADS_1
Keduanya segera masuk ke dalam mobil, Biru langsung menginjak pedal gas dan melaju dengan cepat.
"Bi ... Maafkan aku! Gak seharusnya aku "
"Astaga Dara, kenapa kau terus meminta maaf padaku? Kau tidak bersalah sayang,"
"Thank Bi ... Maafkan aku! Maksudku ...! Aku gak seharusnya libatin kamu sejauh ini dalam masalah aku!"
"Hey ... Kau istriku Dara, sudah sepatutnya aku kau libatkan meskipun kejadian ini ada sebelum kita bertemu. Kau tenang saja, tidak hanya Rian dan Prasetya yang akan menerima balasannya. Tapi temanmu juga jika dia benar benar terbukti membantu mereka!"
Dara menatap Biru dengan tatapan nanar seraya menggigit bibirnya sendiri. Entah apa yang akan dia alami jika tidak pernah bertemu Biru. Pria itu merogoh ponsel miliknya dan mengubungi Alex.
"Cari tahu dimana Rian dirawat!"
Sesudahnya dia kembali menutup sambungan telepon begitu saja tanpa menghentikan laju kendaraannya. Sampai sebuah notifikasi di ponselnya terdengar.
"Ini dia!"
Biru mempercepat kecepatan kendaraannya setelah mendapatkan informasi dimana Rian di rawat, dengan Dara yang kembali diam dan hanya sesekali menatap Biru.
Mobil berhenti tepat di depan rumah sakit, tanpa menunggu lama Dara turun kemudian langsung masuk, begitu juga dengan Biru di sampingnya yang selalu memegang tangannya dengan erat sampai berada di depan ruang informasi.
Dara yang hendak bertanya tentang Rian urung melangkah saat Biru menahannya lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu dia dimana!"
Dara mengangguk, kembali mengikuti langkah Biru didepannya. Dan mereka melewati 2 koridor panjang untuk sampai di ruang kawasan VIP rumah sakit. Sejurus kemudian kedua mata Dara terbeliak saat melihat Intan yang tengah berdiri di depan sebuah pintu ruangan.
"Itu Intan bukan. Temanmu?"
Dara mengangguk, jadi apa yang dikatakan Biru benar, Biru melihat Intan sahabatnya dan juga Rian, pria yang menghamilinya.
Dara melangkah, namun Biru kembali menahannya seraya menggelengkan kepalanya. "Tunggu!"
Terlihat beberapa orang polisi baru saja keluar dari ruangan Rian, dibelakangnya Prasetya mengikuti dengan wajah lirihnya.
"Gimana Om ...?"
Terlihat Intan menghampiri Prasetya, mereka berdua terlihat sedang bicara. Rupanya Prasetya melaporkan kejadian itu pada polisi dan mengusut pelaku pemukulan. Biru tersenyum tipis melihat orang orang tersebut tengah menyelidiki kejadian itu sementara pelaku juga berada di sana.
__ADS_1
"Kenapa Bi?"
"Kita tidak perlu repot repot mengurus mereka Dara, sekarang saja mereka sudah terjebak dalam permainannya sendiri!"