Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.63(Dua orang tua)


__ADS_3

"Jadi ini yang namanya Dara?"


Dara tersentak kaget, tidak menyangka jika pria paruh baya yang di panggil Daddy itu tahu namanya. Gadis itu mengangguk, dengan terus menggenggam tangan Biru dengan erat dan tidak mau di lepaskan.


"Halo Om aku Dara ... Aldara Dwi Pratiwi." ucap Dara dengan ragu ragu.


"Aku sudah tahu!" cicit Air.


"Apa kalian tidak pegal terus berpegangan tangan seperti itu?" tukas Zian lagi, tidak merespon apa apa saat Dara memperkenalkan dirinya


Suara nya saja mirip Biru, begitu pun dengan nada bicara dan suara kaku dengan bahasa yang baku. Mereka mirip sekali dan mau tidak mau Dara melepaskan tangan Biru, namun Biru justru menggenggamnya semakin kuat.


"Iya ... Udah kayak mau nyebrang aja!" timpal gadis disampingnya.


Biru berjalan menghampiri mereka, dia menyuruh Dara untuk duduk. "Jangan hiraukan intervensi mereka!"


"Heh enak saja kita meng intervensi! Dasar anak itik nyasar,"


Biru mendekati adiknya, menggusel kepalanya hingga rambutnya berantakan, "Diam kau! Sudah aku bilang aku tidak suka di panggil begitu!"


"Aargghh!! Daddy lihat kakak, nyebelin banget sih. Kakak gak tahu selama apa aku di salon?"


"Kakak tidak peduli! Dasar nakal!"


Zian menghela nafas melihat kelakukan kedua anaknya, tapi diam diam dia melirik ke arah Dara yang tampak tegang dan menahan senyuman seraya melihat Biru dan Air bertengkar.


"Air ...!" sentaknya, membuat kedua anak keturunannya berhenti saling menggusel.


Begitu juga dengan Dara, dia kaget dan refleks menyodorkan satu gelas yang berisi air putih di hadapannya.


Zian mengernyit, menatap wajah Dara yang sulit di artikan. Sementara Biru langsung menariknya dan menyuruhnya duduk. Dan Air tergelak sampai suaranya bergelegar.


Biru menajamkan tatapan kearah adiknya, begitu juga dengan sang ayah, barulah Air berhenti tertawa.

__ADS_1


"Adikku bernama Air ...!" bisik Biru ditelinga Dara.


Gadis itu menelan saliva, merasa ingin masuk ke lubang cacing karena malu. Perlahan lahan melirik ke arah Air dan tersenyum. Begitu juga dengan Zian, dia tampak menahan diri untuk tidak tertawa.


"Kau tegang sekali Dara! Rilexs saja, kami tidak semenakutkan itu!"


Air mengangguk lirih, setuju dengan apa yang dikatakan ayahnya.


"Iya ... Hanya kelihatannya saja menakutkan, padahal sangat menakutkan. Iya kan Dadd, apalagi yang duduk duduk di sana!" timpalnya lagi dengan menunjuk Biru dengan dagunya.


Sang kakak hanya mendengus dengan kedua mata yang membola tajam ke arahnya. Lalu berpura pura tersenyum saat sang ayah menatapnya juga. "Ya ... Baiklah Air, kau mengajakku perang!"


Air tertawa lagi, tapi kali ini dia melingkarkan tangan pada lengan sang ayah, seolah sedang mencari dukungan.


"Mana Momy?" tanya Biru mencari ke segala arah, baru sadar jika dia belum melihat Ibunya sejak tadi.


"Ngapain kakak tanya tanya Mami. Mau ngadu?"


"Air!" Zian memanggilnya dengan nada yang lebih lembut, karena dia tidak pernah bisa keras pada Air.


"Bagaimana keadaan ayahmu Dara?"


Dara kembali tersentak, orang tua Biru benar benar tahu siapa dirinya. Atau Biru menceritakan segala tentangnya.


"Papa udah baik baik aja dan udah pulang Om," jawabnya malu malu.


Zian terlihat mengangguk anggukan kepalanya, "Apa Biru sering berbuat salah padamu?"


Deg!


Justru aku yang sering menuduhnya tanpa bukti, aku juga sering memakinya dan menyebutnya seorang penipu. Batin Dara menjawab.


"Enggak kok Om ... Biru baik!"

__ADS_1


Zian kembali mengangguk, "Benarkah. Aku tidak percaya!"


"Aku benar benar baik Dad, tidak pernah mencari masalah!" pungkas Biru dengan cepat.


Tidak lama pintu kembali terbuka, dan Agnia masuk dengan beberapa kantong paper bag di tangannya.


"Ah ... Kalian sudah berkumpul ternyata, maaf Mami telat!" ucapnya dengan menyimpan paper bag di atas meja.


Dia langsung melirik ke arah Dara dengan tersenyum sementara Dara tidak mampu mengedipkan kedua mata saat melihatnya.


"Hai Dara ... Apa kabar?"


"Tante ...?"


"Hm ... Ini Tante, Dara gak nyangka kita ketemu lagi kan? Itu karena ucapan Dara yang berharap kita ketemu lagi kan."


"Berharap apanya, Mami sendiri yang sengaja menemui Dara!" celetuk Biru.


Dara benar benar tidak menyangka, tidak pernah menyangka jika wanita yang saat ini tertawa adalah wanita tempo hari yang ditolongnya.


Biru melihat ke arah Dara, menggenggam tangannya yang terasa dingin. "Mami bikin Dara takut!"


Agnia terperangah, "Benarkah? Dara kamu takut sayang?"


"Eng ... Enggak kok Tante! Dara cuma gak nyangka kalau Tante itu Maminya Biru."


"Benarkah? Apa tidak ada mirip miripnya dengan Tante?"


"Baby ... Kau sama saja dengan Biru! Kenapa kau harus menemui Dara seperti itu?"


"Dad, apa Daddy yakin cuma Mami yang lakukan hal kayak gitu. Apa Daddy enggak?"


Zian dan Agnia berdebat soal mereka yang sama sama saling ikut campur, baik soal pekerjaan maupun soal hubungan putra mereka. Dara yang diam saja melihat keduanya lalu melirik ke arah Biru.

__ADS_1


"Dad ... Mam ... Apa kalian tidak malu ribut di depan Dara? Oh ayolah, jangan membuat aku yang malu karena ini Dad ...! Dua orang tua memalukan!"


__ADS_2