
Flash back On
Pagi pagi sekali Dara sudah pergi ke kampus dengan di antar oleh supir pribadinya. Gadis yang semalam menginap di rumah sakit itu sengaja meminta supir untuk melewati gedung G.G Corps yang berada di tengah kota.
"Non ... Jaraknya jauh dari kampus, Non Dara tidak takut telat nantinya?"
"Gak apa apa, kita hanya lewat aja Pak, lagi pula jalanan belum rame, pasti belum macet parah!" sahutnya dengan terus mengecek informasi dari internet mengenai G.G Corps. Satu hal yang membuatnya penasaran adalah dia melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam bersama seorang pria yang berdiri di samping mobil.
Mobil itu mirip dengan mobil yang dikenakan Biru tempo hari, mobil mewah keluaran lama yang sudah tidak ada di pasaran, dan sudah sangat langka.
"Non ... Ini dia gedungnya!" ujar supir memberitahukannya,
"Coba berhenti sebentar Pak!"
Supir menganggukkan kepalanya, lalu menepikan mobilnya. Dara menatap gedung besar dan tinggi menjulang itu.
Dan tiba tiba tanpa sengaja kedua matanya menangkap sebuah mobil yang persis dia lihat di internet, dengan plat nomor yang sama yang dikenakan Biru.
Dara diam menunggu, sampai dia melihat Alex keluar dari mobil itu. Gadis itu tersentak melihatnya sampai tangannya bergetar karena melihatnya.
"Itu ... Itu Biru!" gumamnya tanpa suara saat melihat seseorang keluar dari mobil selain Alex. Dara memang tidak melihat wajahnya secara langsung, namun dia bisa mengenali Biru hanya dari belakang saja. Tinggi dan fostur tubuh Biru yang tegap.
"Kenapa Non ... Apa Nona berniat bekerja di sini? Aku dengar mereka sering membuka program workshop untuk anak anak SMA." celetuk supir pribadinya.
Dara tidak menjawabnya, dia hanya menggeleng kecil saja. "Jalan Pak!"
Berada di kampus sepanjang hari membuat Dara tidak bisa konsentrasi, fikirannya terpecah menjadi dua. Sosok pria yang mirip dengan Biru membuatnya penasaran, siapa dan untuk apa dia di sana. Dara juga mengingat jika perusahaan itu adalah perusahaan yang membeli saham terbanyak milik ayahnya. Biaya rumah sakit yang tiba tiba lunas dan kehadiran Alex di rumah sakit sesaat sebelumnya.
Dara hanya menyambungkan kejadian kejadian tidak terduga yang di alaminya. Soal uang darinya yang tidak pernah Biru pakai, soal uang pemberian ayahnya yang tidak dia sadari juga.
Sampai akhirnya dia pulang dan menuju ke rumah sakit. Bertanya pada sang ayah tentang G.G Corps dan jawabannya benar benar mengagetkan. Sebuah perusahaan besar yang memiliki jaringan luas dan kuat, berpusat di luar negeri dan sangat selektif. Lalu tiba tiba membeli saham.
Flash back Off.
"Bi ... Aku memang sayang dan cinta sama kamu, tapi aku juga gak suka di bohongi!"
Biru terdiam, menatap Dara tanpa kedip lalu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Maaf Dara, banyak hal yang aku belum katakan padamu. Tapi asal kamu tahu kalau aku tidak pernah berniat membohongimu sedikitpun, hanya saja ak___!"
"Jadi siapa kamu sebenarnya? Apa maksudnya dengan hal yang belum kamu katakan itu. Hah?" Nada bicara Dara sedikit naik, mendengar Biru yang bahkan tidak menyelesaikan ucapannya sendiri.
Gadis itu bangkit dari duduknya, menyimpan lap dimeja begitu saja. Secepat kilat Biru mencekal lengannya dan ikut bangkit hingga kedua berhadap hadapan.
"Tolong jangan pergi sebelum aku menjelaskan semuanya!"
Dara menatapnya nanar, berjalan mengikuti Biru yang mengajaknya pergi. Mereka berdua berjalan menuju rooftop yang berada di kafe itu dan berhenti di tengah tengah.
Semburat orange yang jelas dilangit sore itu menjadi saksi disertai cicit cicit burung yang mulai kembali beterbangan dan pulang ke sangkarnya.
Biru merengkuh kedua bahu Dara dengan tatapan sendu. "Apa kau berjanji tidak akan marah kalau aku jujur semuanya?"
"Tergantung!"
"Semua yang aku lakukan sampai detik ini hanya karena mu Dara! Tidak ada niatan aku membuatmu marah dan merasa di bohongi!"
"Sudahlah, katakan saja apa hubunganmu dengan G.G Corps?"
Dara tidak ingin banyak basa basi, dia langsung menembaknya tanpa ragu. "Ziandra Maheswara ... Biru Sagara Maheswara! Itu nama keluargamu bukan?"
"Katakan Biru!"
"Ya ... G.G Coprs itu perusahaan keluargaku!"
Deg!
Tatapan Dara kini berkaca kaca, mulai ada rasa hangat yang menjalari kedua matanya hingga terasa perih.
"Aku tinggal di luar negeri sampai aku tanpa sengaja hampir menabrakmu, kamu pingsan dan aku membawamu ke rumah sakit!"
Dara ingat betul, itu hari dimana untuk pertama kalinya dia bertemu Biru. Ya ... Aku ingat, kamu bilang kamu lagi liburan.
"Tanpa banyak tanya kamu mengajakku kerja sama saat aku tahu kamu hamil!"
Ya ... Dan kamu bilang gak mau, kamu bilang kamu gak butuh uang. Padahal aku memberikan semua uang tabunganku.
__ADS_1
Dara masih bicara dalam hati, nyatanya dia sendiri yang tidak pernah percaya pada Biru, selalu mengatakan hal hal buruk terhadapnya karena penampilan Biru yang tidak mencolok.
"Sampai kamu bilang kalau aku ini hanya penipu!"
"Stop!" teriak Dara, mulai merasa dia yang malu sendiri karena tidak pernah percaya pada Biru.
Dan jika Biru terus melanjutkan ucapannya, maka Daralah yang lebih banyak menuduh tanpa bukti.
"Kenapa. Aku belum mengatakan semuanya!"
"Udah cukup, aku udah tahu bagian itu!"
Biru tersenyum, "Kamu tidak marah?"
"Aku gak tahu! Terus kamu juga yang beli saham Papa aku? Bayar rumah sakit juga?"
Biru mengangguk, "Aku harap aku tidak membuatmu merasa tidak enak, tapi aku sungguh sungguh ingin membantu, aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu!"
Entah apa yang harus Dara katakan, dia tidak sanggup mendengarnya sendiri. Perasaan ingin marah dan kesal pun hilang dengan sendirinya karena dia sendiri yang mengambil kesimpulan tanpa mencari tahu kebenarannya atau hnaya sekedar mempercayai ucapan Biru.
Dara berbalik arah, dia memilih untuk pergi dengan rasa bersalah. Keluarganya begitu jahat pada Biru, tapi Birulah yang justru membantu keluarganya.
"Hey ... Kamu mau kemana? Jangan marah ... Please, aku minta maaf karena aku tidak jujur padamu, tapi aku bersumpah aku tidak berniat melakukannya. Aku hanya ingin dikenal sebagai diriku sendiri tanpa melihat siapa orang tuaku Dara!"
Dara tidak berani menatap kedua mata Biru, dia memilih menundukkan kepalanya.
"Aku memang melihatmu sebagai Biru saja, sampai hari ini aku tidak tahu siapa sebenarnya kamu dan aku jadi malu!"
Biru kembali merengkuh kedua pundaknya, dan menatap Dara. "Jangan malu padaku Dara, aku belum pernah melihatmu telanjang!" ujarnya dengan terkekeh lalu menarik tubuh Dara dan memeluknya.
Bugh!
"Biru aku serius!"
"Aku juga serius Dara, maafkan aku!"
Dara menengadahkan kepalanya, menatap wajah Biru yang tersenyum. "Aku yang harusnya minta maaf padamu. Aku benar benar malu padamu!"
__ADS_1
Biru menggelengkan kepalanya. "Jangan pernah merasa seperti itu Dara. Sebelum kamu tahu pun aku justru takut kalau kamu marah,"
"Apa ini juga bagian dari rencanamu?"