Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.109(Izin Dokter)


__ADS_3

Kecewa ... Jelas kecewa, tidak pernah terlintas di fikiran Biru jika Dara yang manis dan baik hati juga hanya bisa menangis saat kecewa kini memendam kebencian yang dalam terhadapnya. Rasa cinta yang tumbuh diam diam dihati Dara untuk Biru entah pergi kemana sekarang.


"Pergi Biru! Aku gak mau lihat kamu di sini lagi, tinggalkan aku dan anak itu ... Kamu gak perlu tanggung jawab karena dia bukan anakmu, aku bisa mengurusnya sendiri. Pergilah!"


Tubuh tegap Biru seolah membeku ditempatnya, bak tersambar petir di teriknya matahari. Jelas itu tidak mungkin, tapi kenyataannya itu mungkin saja terjadi.


Bukan hanya Biru, tapi Sophia juga tercengang mendengarnya dan tidak menyangka Dara akan bicara seperti itu.


"Dara!"


Namun Biru menggelengkan kepalanya pada ibu mertuanya itu. "Tidak apa Mami ... Biar Biru pergi dari sini agar Dara tenang."


Akhirnya Biru beranjak pergi, dia keluar dari ruangan inap itu dan menghela nafas panjang. Dia memutuskan untuk pergi ke ruangan dokter untuk bicara dan mengupayakan Dara agar bisa di ijinkan keluar dengan penjagaan khusus.


Sophia berdecak kesal menatap Dara, dia segera menyusul Biru keluar dan mencarinya. Namun Biru sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.


Biru berbicara dengan dokter mengenai kondisi Dara dan menjelaskan situasi yang terjadi padanya.


Dengan susah payah Dokter pun membantunya. Dia memberikan izin khusus agar Dara bisa pergi ke pemakaman ayahnya. Dan semua berkat Biru.


Setelah menemui Dokter Biru memilih untuk keluar dari kawasan rumah sakit untuk mencari angin segar untuk mendinginkan fikirannya sendiri.


Tidak berselang lama Dokter pun masuk untuk melakukan pemeriksaan lanjutan mengenai kondisinya.


"Bagaimana keadaanmu Dara?" tanya Dokter penggantu Dokter Siska yang sudah memilih pensiun. "Kau tampak sedih. Apa ini ada hubungannya dengan pemakaman ayahmu? Ku dengar upacara penghormatan dilakukan hari ini."


Dara tidak menjawabnya, dia hanya diam saja. Sementara Sophia mengangguk. "Benar Dok ... Tapi kondisi Dara tidak memungkinkan untuk pergi."


"Kata siapa tidak boleh pergi!" kata Dokter itu terkekeh. "Aku akan memberikan izin khusus padamu agar kamu bisa pergi. Dengan catatan akan ada 2 suster yang akan menemanimu!" lanjutnya lagi.

__ADS_1


Dara terkejut. Serius? Dokter mengizinkanku?


"Ya, aku mengerti betapa pentingnya momen itu bagimu. Tapi ada beberapa syarat yang harus kita ikuti dengan ketat untuk memastikan keamananmu. Kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan hati-hati. Bagaimana?"


Dara bersorak gembira. "Terima kasih, Dok! Aku benar-benar ingin hadir di pemakaman ayahku. Aku berjanji akan menjaga diriku dengan baik. Dokter juga kirimkan 2 suster dan 1 dokter atau siapapun itu terserah Dokter saja."


Dokter kembali tersenyum. "Aku senang bisa membantumu dan melihatmu mendapatkan kesempatan untuk mengucapkan selamat jalan pada ayahmu. Kita akan menjaga keamananmu dan memastikan semuanya berjalan dengan baik. Tunggu sebentar ya!"


Dokter terlihat mencatat sesuatu, lantas dia memberikannya pada seorang suster yang berdiri disampingnya.


Sophia yang ikut senang menghampiri Dokter wanita itu. "Dok ... Meskipun aku khawatir, aku juga mengerti betapa pentingnya momen ini bagi Dara. Aku juga akan bekerja sama untuk memastikan perjalanannya ke pemakaman berjalan dengan lancar dan aman."


Dokter menggangguk lirih dengan tersenyum ke arah Sophia dan juga Dara. "Iya Nyonya Sophia ... Pastikan tidak ada hal buruk yang terjadi ya, kalau tidak mungkin Bi .... Maaf aku harus pergi. Nanti akan ada suster kemari dan membantu kalian." sambungnya lagi, dengan cepat dokter segera pergi sebelum mulutnya tanpa sengaja mengatakan hal yang sebenarnya.


Mereka tidak pernah tahu bagaimana Biru membujuk Dokter sampai Dokter itu mau membantunya dengan memberikan izin pada Dara, mengingat kondisi Dara sendiri saat ini.


Melihat Dara dibawa dengan aman dan nyaman, membuat Biru tersenyum. Dia sengaja bersembunyi dan memastikan Dara maupun Sophia tidak melihatnya. Lebih baik karena hal itu bisa membuat Dara lebih tenang lagi.


Flash back On


Biru bersikeras membujuk Dokter, walau nyatanya itu sangat sulit.


"Aku faham kekhawatiran anda terkait kondisi Dara, tetapi pemakaman ayahnya adalah momen yang sangat penting baginya. Dan aku ingin memastikan bahwa kita dapat menemukan solusi yang aman untuk memenuhi keinginannya. Itu saja!"


"Biru, saya mengerti pentingnya momen itu bagi Dara, tetapi sebagai dokter, tanggung jawab saya adalah menjaga kesehatan dan keselamatan pasien saya. Membiarkan Dara meninggalkan rumah sakit dalam kondisinya saat ini memiliki risiko yang tidak dapat diabaikan." tukas Dokter padanya.


"Biarkan aku bicara dokter Siska. Dia pasti lebih faham."


"Percuma saja, Dokter Siska sudah pergi hari ini. Dia tidak mungkin bisa mencampuri urusan rumah sakit ini lagi sekalipun anda minta bantuannya!"

__ADS_1


Biru akhirnya menghela nafas. "Aku menghargai kepedulian dan tanggung jawab Anda, Dokter. Namun, apakah ada kemungkinan untuk memberikan izin dengan persyaratan tambahan? Misalnya, kita bisa menjadwalkan kunjungan Dara dalam waktu yang terbatas dan mengatur transportasi yang aman dengan protokol pencegahan yang ketat. Aku akan menyiapkan semuanya. Dokter hanya perlu keluarkan izin. Itu saja!"


"Saya memahami keinginan Anda untuk memenuhi keinginan Dara, tetapi sebagai profesional medis, saya harus mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi. Saat ini, saya masih merasa bahwa risiko tersebut tidak dapat diatasi dengan tindakan tambahan apa pun."


Biru lagi lagi menghela nafas. "Dokter, aku sangat memahami keputusan Anda. Tapi aku harap Anda dapat mempertimbangkan lagi dengan sebaik-baiknya. Dara sedang mengalami momen berduka yang sangat berat, dan kehadirannya di pemakaman dapat memberikan dukungan emosional yang sangat penting bagi dirinya. Bisa jadi itu akan jadi obat agar bisa lebih baik lagi. Hm ... Ayolah Dokter tolong bantu aku!"


"Saya akan mempertimbangkannya kembali, Biru, tetapi saya perlu menekankan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan saya sebagai dokter yang bertanggung jawab terhadap kesehatan Dara. Saya akan segera memberitahu Anda keputusan terakhir setelah mempertimbangkan ulang situasinya!" Dokter yang mulai geram dengan bujukan Biru bangkit dari duduknya, dengan menyimpan stetoskop di saku jubahnya.


"Kalau begitu sama saja bohong, Dokter tidak mungkin mengizinkannya. Sekarang ... Beri izin saja, aku yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Kalau perlu aku akan membawanya ke luar negeri. Dokter disana lebih mengerti keadaan mental pasien dibandingkan kondisinya. Sekalipun harus meninggal tapi mereka meninggal dengan bahagia dan tidak meninggalkan perasaan bersalah!" ucap Biru yang kesal karena Dokter terus mempersulit keadaan yang sudah sulit baginya.


Dokter menatapnya, melihat kesungguhan Biru dan niatnya memberikan yang terbaik untuk Dara. Hatinya tersentuh karena ucapan terakhir Biru.


"Baiklah Biru. Aku akan ijinkan, tapi kau yang akan tanggung resikonya kalau terjadi apa apa!"


Biru mengangguk, dia sangat berterima kasih pada Dokter. Bahkan dia mengecup pipi dokter wanita itu saking bahagianya.


"Terima kasih Dokter Er ... Aku sayang padamu!"


"Kau ini sembrangan saja!" Dokter terkekeh melihat prilaku pria muda dengan tekad bulat itu. "Untung saja aku sudah senior dan tidak akan terbawa perasaan kalau kau menciumku seperti ini!"


Biru akhirnya tertawa. "Ini rahasia kita ya Dok ... Aku juga tidak ingin di anggap ca bul karena mencium dokter yang sudah tua!"


Flash back Off.


Bruk!


"Kau tidak ikut?" kata Alex dengan menepuk bahu Biru dari samping.


"Apa sudah siap semua?"

__ADS_1


__ADS_2