
Dara menggelengkan kepalanya, ucapan Rian membuatnya sakit hati. Bagaimana bisa dia berkata hal seperti itu saat keadaannya seperti sekarang, Dara memang tidur satu ranjang dengan Biru, tapi mereka hanya tidur saja. Dan Dara bukan anak kecil yang tidak tahu tidur macam apa yang di maksudkan oleh Rian.
"Mending Mas pulang aja. Mas bikin kepala aku pusing!"
"Kamu belum jawab pertanyaan aku dia juga kah yang jadi alasan kenapa kamu berubah fikiran lagi Dara?"
Dara masih terdiam, merasakan pandangannya berkunang kunang. Sementara Rian sudah berjalan lebih dekat.
"Bukankah kita sudah sepakat? Kau membatalkan perjanjian bodoh itu karena aku yang akan bertanggung jawab terhadap anak itu Dara!"
Lagi lagi Dara terdiam, dia memilih menghempaskan tubuhnya di sofa single disamping ranjang, membiarkan Rian bicara sesukanya. Pria itu tidak tahu sepusing apa dirinya karena masalah ini.
"Dara!"
"Mas ... Sumpah kepalaku pusing banget!"
"Iya kan Dara, sampai sikap mu berubah padaku. Padahal aku datang karena ingin melihatmu dan kondisi anak kita."
"Mas ... Tolong pergi! Apa Mas gak bisa lihat aku ini lagi pusing?"" sahut Dara dengan memijat pelipisnya yang berdenyut.
Dia kembali bangkit dan tiba tiba saja pandangannya menjadi gelap. Seketika saja tubuhnya lemah dan tidak berdaya dan ambruk begitu saja. Beruntung Rian cepat menangkapnya kalau tidak, sudah pasti Dara jatuh ke lantai.
"Astaga Dara!"
Gadis 19 tahun itu tidak sadarkan diri dan kali ini dia tidak berpura pura. Rian mengangkat tubuhnya ke atas ranjang dan segera memanggil kedua orang tuanya.
Baskoro dan juga Sophia masuk kedalam kamar, mereka berdua panik melihat putrinya lagi lagi tidak sadarkan diri.
"Kenapa lagi dengan Dara. Dari kemarin selalu pingsan?" celetuk Rian.
"Ini mungkin karena tubuhnya lemah apalagi sekarang dia tengah hamil," sahut Sophia yang mengelus ngelus kepala putri semata wayangnya.
"Dan itu ulahmu!" tunjuk Baskoro dengan marah, "Sekarang lebih baik kau pulang dulu, jangan terlalu menekannya seperti ini. Om sudah katakan untuk menunggu bukan?" ujar Baskoro lagi dengan membuka pintu kamar.
__ADS_1
Rian akhirnya keluar dari kamar, namun dia tidak juga pergi dari rumah Dara setelah Baskoro kehilangan kesabaran kepadanya.
"Om!"
"Tolong Rian! Om nanti akan kabari apapun itu padamu!"
Baskoro hanya mengangguk kecil, Rian memang menantu idamannya tapi dia sangat menyayangi Dara dan tidak ingin terjadi apa apa lagi padanya.
"Sebaiknya kita panggil dokter Pap!" ucap Sophia saat Baskoro menutup pintu kamar.
Baskoro mengangguk lagi ke arah istrinya, sungguh dia sendiri bingung dengan keadaan seperti ini. Dan tidak lama merogoh ponsel dan kali ini dia menghubungi dokter untuk datang dan memeriksa Dara.
Melihat Dokter datang, Rian yang sejak tadi menunggu di ruangan tamu tentu saja khawatir, dia mengikuti dokter dengan kembali masuk ke dalam kamar.
"Dokter tolong periksa apakah calon anak saya baik baik saja?" Celetuk Rian dengan wajah panik.
Baskoro dan Sophia pun ikut mangangguk ke arah Dokter.
Dara mengerjap ngerjapkan mata saat Dokter memeriksa nadi di pergelangan tangan dan langsung tersenyak dengan menarik tangannya.
Dara menatap satu persatu orang yang berada di kamarnya, ibu dan ayahnya juga Rian yang tampak khawatir. Namun terasa ada yang kurang karena ketiadaan Biru.
"Mam ... Tolong suruh Mas Rian pergi dari kamarku." cicitnya pelan.
"Kenapa sayang? Rian juga mengkhawatirkanmu, Papa sudah menyuruhnya pergi tapi dia tidak mau pergi karena cemas padamu."
Dara menggelengkan kepalanya, Itu namanya gak tahu diri, udah di suruh pergi dari tadi malah diem aja. Batin Dara.
Sophia pun akhirnya membawa Rian kembali keluar dan menunggunya saja, sementara Baskoro pun ikut keluar setelah Dokter menepuk lengannya.
"Beri aku waktu untuk memeriksanya sendiri, Dara mungkin tidak nyaman dengan banyak orang seperti ini!"
Setelah melihat semua orang pergi, Dokter kembali memeriksanya dengan hati hati dan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Apa yang kau fikirkan Dara? Aku lihat kandunganmu bagus tapi tidak dengan dirimu," Ujarnya seraya menuliskan sesuatu di kertas kecil.
Dara menghela nafas, kejadian kejadian tidak terduga dalam hidupnya. Tiba tiba hamil dan hidupnya kacau, kedatangan dua pria secara tiba tiba dalam hidupnya juga mengagetkannya, ancaman ancaman Biru yang ingin tidur dengannya juga kemarahan Rian yang tidak masuk akal. Semua itu membuat kepalanya sering pusing namun Dara tidak berani mengatakannya pada orang lain termasuk Dokter.
"Kalau perlu bantuan jangan sungkan untuk memintanya. Semua orang menyayangimu Dara. Dan kamu pasti kuat, suamimu mana?"
"Dia ...?!"
Bahkan Dara tidak tahu Biru ada dimana, pergi kemana dan apa yang dilakukannya. Padahal semua orang tahu jika Birulah yang membuatnya hamil, tidak ada satupun dari mereka yang tahu jika Rianlah ayah kandung anaknya.
Dokter terlihat tersenyum, dia menggenggam tangan Dara dan membuatnya tenang. "Ibu hamil memang mengalami mood swing, perasaan yang tidak bisa di mengerti orang lain dan ini salah satunya, cepat lelah dan banyak fikiran. Tapi suami adalah obatnya, suruh suamimu pulang agar dia bisa menemanimu."
Dara menelan saliva, bagaimana mungkin mengatakan semua itu pada Biru.
Tidak lama pintu terbuka, Baskoro dan Sophia kembali masuk ke dalam.
"Bagaimana Dok?"
"Berikan ini dua kali dalam sehari. Dan sepertinya Dara memang kelelahan saja, dia perlu istirahat yang cukup dan jangan memberikan fikiran fikiran yang terlalu berat padanya, jangan lupa suruh suaminya untuk lebih banyak meluangkan waktunya menemani." ujarnya dengan menepuk lengan Baskoro lalu beranjak pergi.
Baskoro mengangguk mengerti, walaupun itu tidak mungkin dia lakukan. Bagaimana Biru bisa melakukannya sedangkan dia hanyalah seorang penipu. Rianlah yang harus banyak menemaninya ketimbang Biru.
Dan pintu kembali terbuka, Rian masuk dan langsung menghampiri ranjang dimana Dara yang tengah terbaring.
"Bagaimana dengan anakku. Dia baik baik saja bukan?"
Sophia tersenyum melihatnya, Rian begitu perhatian dan tampak sangat peduli pada Dara dan juga kehamilannya. Sementara Baskoro terlihat mengangguk anggukan kepalanya, merasa tidak salah jika Rianlah yang terbaik bagi putrinya. Sedangkan Dara hanya terdiam melihat Rian yang terus berlebihan dalam sikapnya.
"Pap ... Sepertinya Rian memang harus tinggal di sini."
Dara tersentak mendengarnya, dia menggelengkan kepalanya. Apa jadinya jika Biru dan Rian tinggal bersama, dan sudah bisa di bayangkan akan sepusing apa dia menghadapi mereka berdua.
"Gak bisa Mam ... Semua orang juga tahu jika Biru lah ayah dari anak ini, bukan Rian!"
__ADS_1
"Tapi kata Dokter kamu memang harus banyak di temani sayang, ya dengan Rianlah. Rian kan ayahnya!"
"Iya Mam ... Tapi Mas Rian masih belum jadi suami Dara, suami Dara sekarang masih Biru. Apa yang nanti di katakan orang orang Mam?"