Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.35(Pergilah)


__ADS_3

Biru benar benar mengabaikan panggilan ke dua orang tuanya, sekalipun Alex sudah memohon mohon dan membujuknya karena dia ikut terseret selama ini.


Biru memilih melajukan mobil untuk kembali pulang ke rumah Dara, namun tepat saat Biru menghentikan mobilnya, dia melihat beberapa mobil ada di halaman rumah Baskoro.


"Ada apa?" gumamnya dengan kedua alis yang mengernyit menatap suasana yang cukup ramai.


Dan saat dia hendak turun, dia melihat Rian yang baru saja masuk ke dalam rumah. Sampai Biru memutuskan untuk berdiam diri sejenak sambil mencari tahu apa yang terjadi di rumah Baskoro.


"Pak ... Sini pak!" desisnya pada petugas keamanan yang sedang bertugas.


Pria berseragam security itu berlari ke arah mobil. "Mas ...? Kenapa tidak masuk Mas?"


"Ada apa di dalam Pak?"


"Oh ... Itu keluarga Mas Rian yang datang."


Biru semakin mengernyit, "Keluarga Rian. Ada masalah apa?"


"Wah saya tidak tahu Mas. Lebih baik Mas masuk saja agar tahu Mas."


Biru mengangguk, sementara security itu berlalu pergi. "Ada apa keluarga Rian datang kemari yaa?" gumamnya sebelum memutuskan untuk turun.


Suara tawa terdengar renyah, samar samar terdengar orang orang bercengkrama saat Biru memutuskan untuk masuk saat itu juga.


"Kau sudah datang rupanya!" ujar Rian yang berdiri dengan memegang segelas air berwarna orange.


"Ya ...!"


Rian berdecih, menyimpan gelas yang di pegangnya di atas meja dan berjalan ke arah Biru.


"Sayang sekali Biru, kini tamatlah riwayatmu!"


Biru masih tidak mengerti apa maksud dari ucapan Rian, kedua matanya menyisir ruangan dan melihat keluarga Prasetya.


Pria 22 tahun itu sudah mulai merasa ada yang tidak beres saat melihat mereka semua, terlebih tatapan mereka padanya sangatlah aneh.


Ini semua pasti ada hubungannya dengan pembatalan kerja sama dengan Anderson, aku yang tidak boleh masuk ke dalam gedung perkantoran dan secara otomatis aku tidak boleh bekerja disana. Batin Biru menerka nerka.


Dan semua terkaannya benar, Baskoro bangkit dari duduknya dan langsung menghampirinya.


"Kemasi barangmu sekarang juga dan pergilah, aku akan memberikanmu kompensasi."


"Kompensasi. Untuk?" tanya Biru mulai waspada.

__ADS_1


"Pembatalan pernikahan. Kau fikir apa. Hm?" sela Rian menohok.


"Apa ... Papa mertua, bukankah kita sepakat. Kenapa kalian suka sekali berubah ubah!" Biru menyoroti Baskoro dengan tajam.


"Ini tidak akan pernah berubah lagi, aku sudah mengurusnya. Dara akan segera mengajukan pembatalan pernikahan. Semua sudah siap. Dan aku akan memberikan apa yang kau minta tapi tinggalkan rumah ini sekarang juga!"


Biru tergelak, "Haissshh ... Kalian fikir yang aku membutuhkan uang kalian?"


Rian mendorong satu bahu Biru, meremehkannya dihadapan semua keluarganya yang kala itu memperhatikan mereka.


"Sudahi sandirwaramu Biru! Katakan saja apa yang kau mau, kami akan memberikannya padamu."


Biru menatap tangan Rian yang menyentuh serta mendorongnya, lalu dia berdecak. "Kau tidak perlu ikut campur. Urusanku dengan Dara dan ayahnya. Bukan denganmu dan keluargamu!"


Seorang pria paruh baya dengan setelan perlente berjalan menghampirinya. Situasi yang membuat Biru terjepit. Pria itu berdecih seraya berkacak pinggang.


"Kau pemuda pemberani. Hah?" ujarnya dengan tertawa.


Biru masih melihat satu persatu dari mereka, jangan fikir dia akan takut pada situasi dimana dia merasa di serang keroyokan.


"Siapkan apa yang dia mau!" ujar Prasetya dengan dingin, lalu kembali duduk di tempatnya duduk tadi.


Baskoro membawa Biru ke samping rumah, masuk ke sebuah ruangan dengan meja billiar di dalamnya.


"Papa mertua, bukankah kita sudah sepakat. Dan kau sudah setuju. Jangan menyesal kemudian hari!"


Biru berdecak, ancamannya yang dipakainya dulu kini tidak lagi berlaku. Baskoro memiliki kekuatan karena adanya keluarga Prasetya. Tadinya Biru berfikir hanya dia yang tidak menyukainya saja, dan melihat sekarang ini. Dia yakin sumbernya ada pada Rian.


Sementara Rian datang menyusulnya dengan membawa berkas ditangannya dan langsung menyimpannya di atas meja.


"Bagaimana kalau papa menyiapkan dia untukku?!" tunjuknya pada Rian. "Aku rasa itu sebanding."


"Dia. Maksudmu Rian?"


Biru mengangguk, menatap Rian dengan sengit, "Dasar pengecut!"


Bugh!


Rian langsung memukul wajah Biru dan membuatnya terhuyung ke belakang, tidak terima begitu saja, Biru pun membalas pukulannya.


Bugh!


Keduanya saling menyerang, sampai ada dua pria besar masuk dan mencekal dua tangan Biru dan memeganginya.

__ADS_1


"Sialan ... Kalian semua pengecut!" teriak Biru seraya berusaha melepaskan diri, namun sayang. Tenaganya kalah saat dua pria memeganginya dengan kuat.


"Cuihhh!"


Rian mengelap ujung bibirnya yang berdarah, lalu berjalan mendekati Biru dan mencengkram pipinya dengan kuat. "Kau bilang apa tadi. Kau ingin aku?"


Biru menatapnya tajam, namun dia tidak mampu melawan apalagi melepaskan dirinya sendiri. Dan dengan cara pemaksaan kedua pria besar memegangi tangannya agar menanda tangani berkas yang dibawa Rian.


Sudah ada tanda tangan Dara yang tercantum di berkas yang dibaca sekilas adalah surat pembatalan kontrak sekaligus surat pembatalan pernikahan. Entahlah Biru tidak sempat lagi membaca keseluruhannya.


Bugh!


Biru dihempaskan begitu saja hingga dia jatuh tersungkur. Namun dia langsung bangkit dan menatap tajam ke arah mereka.


"Beginikah cara kalian hah. Cara kotor dan licik?"


"Apapun caranya tidak penting, yang penting kau tidak bisa lagi memanfaatkan Dara dan keluarganya!" Ucap Rian dengan berseringai saat melihat surat yang sudah ditanda tangani.


Baskoro mengangkat sebuah koper kecil ke atas meja dan membukanya, terlihat sejumlah uang berjejer rapi di sana. "Ini uangmu ... Pergilah sejauh mungkin dan jangan mengganggu kami lagi atau kau akan menyesal."


Trak!


Baskoro kembali menutup koper dan mendorongnya ke arah Biru. "Pergilah sebelum Dara melihatmu!"


Sementara Rian tertawa, mengambil berkas diatas meja dan menyerahkannya pada Baskoro. Biru sedikit tergelak, lalu menghela nafas panjang.


"Kalian berdua sangat cocok. Sangat disayangkan Dara memiliki ayah sepertimu, padahal Dara sangat bangga padamu!"


Dua orang pria tinggi yang berdiri di belakang Biru kini kembali mencengkram kedua tangannya hingga Biru lagi lagi tidak bisa berkutik.


"Seret dia keluar!" seru Baskoro.


Dua pria itu mengangguk dan menyeret Biru. Namun Biru tetap memberontak.


"Lepas ... Aku bisa pergi sendiri!"


Rian mengangguk, membuat dua pria itu melepaskan Biru dan membiarkannya walaupun terlihat keduanya sangat waspada. Biru kini menghembuskan nafas panjang, dan memgambil koper berisi uang yang berada di atas meja.


"Tunggu saja. Kalian pasti akan menyesal!" ucapnya dengan berlalu pergi dan keluar dari rumah Baskoro.


Rian dan Baskoro bisa bernafas lega, keduanya tertawa membayangkan semua rencana berjalan mulus. Dan pembatalan pernikahan antara Dara dan Biru akan segera di proses.


Brak!

__ADS_1


Biru melemparkan koper berisi uang begitu saja saat dia menaiki taksi yang kebetulan lewat.


"Sial ... Untuk apa aku bawa uang mereka ini!" Ucapnya dengan sedikit meringis karena luka dipelipis dan di bibirnya. "Shittt ... Arggrrhh!!"


__ADS_2