Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.68(Tidak mungkin)


__ADS_3

"Yang mana pimpinannya! Apa yang tengah itu?" Cicit Rian.


"Papa tidak tahu, kita tunggu saja!"


Suara deheman terdengar keras dari seorang pria yang datang terakhir, kepala manager umum yang mengurus semuanya sejak awal.


"Baiklah, meeting akan segera mulai. Sebelumnya saya minta maaf, karena Pimpinan akan sedikit datang terlambat. Hari ini kita meeting dengan beberapa perusaahaan yang terkait, kami ingin mendengar visi dan misi perusahaan dan akan mempertimbangkannya. Lalu kemudian Pimpinan sendiri yang akan menyeleksi perusahaan yang berpotensi lebih besar dan berkembang lebih pesat bersama G.G Coprs." ucapnya dengan lantang.


Riuh tepuk tangan terdengar sesaat sesudah manager itu bicara. Lalu para staff yang terdirk dari 7 orang itu berdiri dan berjejer. Menunggu para tamu undangan menyerahkan semua persyaratan yang akan masuk seleksi.


Rian dan Prasetya tercengang saat mengetahui jika mereka bukanlah satu satunya perusahaan yang ingin dekat dan bekerja sama.


Dan tiba tiba seseorang masuk dan langsung menghampiri Manager umum dan membisikinya.


"Pimpinan sudah datang dan akan segera masuk!" bisiknya.


Terlihat Manager mengangguk, lantas orang itu kembali keluar. Dan beberapa saat kemudian pintu kembali terbuka.


Dua orang pria pertama masuk, berjas hitam hitam juga dengan memakai kaca mata hitam dengan aer phone yang terpasang di masing masingnya di ikuti oleh Biru yang masuk dengan gagah lalu kemudian Alex berada di belakangnya dan dua orang pria lagi di belakangnya.


Biru sama sekali tidak sedikitpun tersenyum, rahangnya tegas dengan tatapan tajam. Langsung duduk di tempat yang di tunjukan manager untuknya.


Rian dan Prasetya terperangah melihat sosok yang mereka pukuli semalam, dengan bekas luka di sudut bibirnya yang kini terlihat samar.


"What the F U C K K K!!" desis Rian. "Itu si Brengsekk?"


Biru menatap Rian dengan tajam, raut wajahnya benar benar menakutkan, lalu tiba tiba berseringai tipis.


Seringaiannya sama persis seperti yang mereka lihat semalam, Biru benar benar terlihat berbeda saat ini.


"Apa apaan ini?" dengus Prasetya.


Padahal Biru tampak hanya diam saja, semua staff yang bekerja untuknya terlihat sibuk dengan berkas berkas berada di depan mereka. Biru yang menatap Prasetya dan juga Rian.


"Perhatian semuanya, Pimpinan kami sudah datang, beliau sendiri yang akan membuat keputusan hari ini. Ditangannya lah kesuksesan perusahaan kalian berada. C.E.O sekaligus pemilik G.G Coprs. Pak Biru Sagara Maheswara." ujarnya dengan keras.


Membuat Rian dan Prasetya benar benar terhenyak mendengarnya. Mereka tidak menyangka jika pria yang mereka remehkan adalah seorang yang memiliki kuasa besar di perusahaan G.G Coprs.

__ADS_1


"Ayo kita pergi Pap!" ucap Rian pelan, semua akan berantakan dan berfikir Biru akan membuat usahanya sia sia.


Sudah di pastikan jika Biru tidak akan melihat proyekan mereka sedikit mungkin, bahkan melihat tatapan tajamnya saja membuat mereka yakin jika Biru tidak akan melirik mereka.


Alex berjalan menghampiri mereka, "Khusus untuk kalian. Pak Biru ingin bicara langsung. Mari ikut saya!"


Tak lama Biru bangkit, tanpa kata dan langsung keluar dari ruangan dan di ikuti oleh Alex.


Rian dan Prasetya saling bertatapan, hingga dua oria berkaca mata hitam memghampiri mereka dan menuruhnya ikut.


"Mereka jelas akan membalas perbuatan kita Pap. Lebih baik kita pergi sekarang dari pada mati!"


"Kau tenang saja, bukan hanya dia yang memiliki pengawal. Kita juga punya!" ucap Baskoro dengan merogoh ponselnya dan menyuruh para pengawal yang menunggu di lobby perusahaan untuk masuk dan berjaga jaga di sekitar mereka.


Tampak Biru sudah menunggu di sebuah ruangan, dengan Alex yang berdiri di belakangnya saat Rian Prasetya masuk ke dalam.


"Apa apaan ini! Kau sengaja menjebak kami. Kau fikir kau hebat. Hah?" Prasetya langsung marah, dia melemparkan berkas miliknya ke lantai.


Biru menoleh, lalu tersenyum. "Aku memang hebat, hanya saja kalian tidak tahu. Silahkan duduklah!"


Prasetya kembali menatapnya tajam, sementara Rian menatap Ayahnya.


Dua orang pria menggiring mereka untuk duduk, sementara Biru masih berdiri dengan satu tangan berada di sakunya. Melirik Alex tanpa kata lalu mengangguk.


Alex meletakkan sebuah map berwarna merah dihadapan mereka berdua.


"Silahkan dibuka, dibaca lalu putuskan dengan segera!"


Prasetya membukanya dengan ragu ragu, lalu terbeliak melihatnya. Map itu berisi berkas kerja sama perusahaan yang sudah ditanda tangani oleh Biru dan itu benar benar di luar dugaan mereka.


"Apa maksudnya?"


"Perusahaan kalian sudah diterima tanpa seleksi apapun. Jika kalian setuju maka semuanya akan segera berjalan!" terang Alex.


"Benarkah? Apa kau yakin itu?" Ujar Prasetya dengan melirik Biru.


Biru tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Dengan satu syarat. Jangan pernah menikahi Dara. Maka aku akan berikan apapun yang kalian butuhkan. Sangat mudah bukan?"


Rian tersentak menoleh pada ayahnya. "Pap ... Itu tidak mungkin!"


"Ini lebih menguntungkan Rian. Coba kau fikirkan. Hah?"


"Tapi Pap! Bagaimana dengan Om Baskoro dan Dara sendiri. Juga anak yang di kandung Dara. Cucu Papa!"


Biru kembali tersenyum lagi. "Fikirkanlah baik baik. Aku beri waktu dua hari untuk memutuskannya. Satu hal lagi, keuntungan ini hanya kalian yang dapatkan, perusahaan lain tidak ada yang aku loloskan. Dan semua peluang milik kalian. Perusahaan kalian akan menjadi satu satunya rekanan bisnis perusahaan G.G corps!"


Sesuatu yang menggiurkan memang bagi Prasetya dan juga Rian. Semua bisa mereka dapatkan tanpa harus saling bersaing dan bersikut sikutan. Sebuah rencana brilian tanpa otot.


Tidak ada yang perlu Prasetya fikir lagi, apalagi dalam waktu dua hari. Dia langsung mengambil bolpoin dan menanda tangani berkas itu.


"Ini salah Pap!" cicit Rian yang merasa aneh.


"Diamlah. Biar Papa yang urus!"


Alex tersenyum, mengambil berkas lalu membuka helai kedua. "Dan ini perjanjiannya. Silahkan di baca baik baik!"


Rian tersentak kaget saat membacanya. Perjanjian yang mereka buat sangat licik menurutnya.


Poin pertama berisi jauhi Dara dan anaknya, poin kedua, tidak ada pernikahan diantara mereka. Dan jika melanggar maka G.G coprs akan mengambil alih perusahaan Prasetya Daya Utama.


Rian marah dan tidak terima, "Kalian licik! Mana bisa begitu. Bagaimana pun juga Anak itu adalah anakku! Aku tidak akan sudi menanda tanganinya!"


"Rian! Sudahlah. Itu syarat yang mudah!" celetuk Prasetya.


"Tidak Pap ... Bagaimana pun juga anak itu anakku! Aku tidak mungkin membiarkannya."


Biru tergelak, lalu bertepuk tangan. Dan dua orang pria berkaca mata hitam itu langsung memegangi Rian, memaksanya menanda tangani berkas yang sudah di tanda tangani Prasetya sendiri.


Biru melakukannya sama persis ketika Rian melakukan pemaksaan secara licik padanya saat pembatalan pernikahan. Bahkan bolpoin dan posisinya kini sama persis.


Rian berontak, mencoba melepaskan diri dari cekalan kedua pria berkaca mata itu, namun tetap tidak bisa,


"Kau licik Brengsekk!" serunya kesal.

__ADS_1


Biru mendekat ke arahnya, mencengkram kedua pipinya dengan kuat.


"Benarkah. Apa kau ingat kalau kau juga melakukan hal seperti ini padaku? Tapi bedanya apa yang aku lakukan lebih menguntungkan kalian!"


__ADS_2