
"Terima kasih. Mommy memang terhebat."
Agnia tersenyum penuh kebahagiaan mendengar kata-kata penuh penghargaan dari Biru. Dia merasakan kebanggaan yang mendalam atas pengakuan tersebut. Dalam dadanya terasa campuran perasaan bahagia, haru, dan terima kasih.
"Terima kasih, sayang. Aku hanya ingin memberikanmu yang terbaik. Kamu adalah anugerah terindah dalam hidupku, dan aku selalu akan mencintaimu tanpa syarat. Kita adalah keluarga, tidak peduli apa pun yang terjadi. Kita akan selalu saling mendukung dan menciptakan masa depan yang cerah bersama," kata Agnia dengan suara lembut.
Biru tersenyum dan merangkul ibunya dengan erat. Dia merasakan kehangatan cinta sejati yang meliputi mereka berdua. Dalam momen itu, mereka merasakan kekuatan keluarga dan kesatuan yang tak tergoyahkan.
Mereka tahu bahwa tak peduli apa yang terjadi di sekitar mereka, mereka dapat menghadapinya dengan keberanian dan keyakinan, karena mereka memiliki cinta yang kuat dan saling mendukung. Bersama-sama, mereka akan melalui segala rintangan dan menghadapi masa depan dengan penuh harapan.
Ketika mereka berdua merangkul dengan erat, mereka merasakan kekuatan keluarga yang tidak dapat diukur dengan kata-kata. Mereka tahu bahwa cinta dan kesatuan mereka adalah sumber keberanian dan kebahagiaan yang tak tergantikan.
Trak Trak Trak!
Dua langkah kaki terdengar mantap, dan suara decakan terdengar keras.
"Duh ... Duh! Ada apa ini?" katanya saat melihat ibu dan kakaknya berpelukan. "Kok aku gak di ajak?" katanya lagi.
Air, tersenyum penuh keceriaan dan sedikit kecewa melihat ibu dan kakaknya yang sedang berpelukan tanpa mengajaknya.
"Aduh, maafkan kami, Air! Kami terlalu terbuai dalam momen ini," kata Agnia sambil tersenyum dan mengulurkan tangan untuk memeluk adiknya. "Sini sayang ... Kamu juga ingin di peluk?"
Air terlanjur kecewa, dia hanya mengerdik dan duduk di tengah tengah mereka.
"Kalian berdua hebat hebat!"
"Kamu juga bagian dari keluarga kita yang hebat, sayang. Ayo, gabung dalam pelukan keluarga hebat kita ini!" seloroh Biru dengan terkekeh.
Agnia juga tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya dong, Air! Kamu selalu menjadi bagian penting dalam hidup kita. Mari kita berpelukan sebagai tanda kasih sayang dan persatuan kita sebagai keluarga."
"Lebay ... Aku gak mau!"
Namun Air justru tersenyum cerah dan segera mendekat pada sang ibu, menabrakkan dirinya ke dalam pelukan hangat Agnia. Mereka kembali berpelukan dan merasakan kekuatan dan kehangatan keluarga yang menyatukan mereka.
Mereka tahu dengan pasti bahwa keluarga mereka adalah tempat di mana mereka selalu bisa merasa diterima, dicintai, dan dihargai.
"Pokoknya aku gak mau kalau gak di ajak pelukan!"
__ADS_1
"Bodoh! Tempatku jadi sempit gara gara kamu dan masih bilang seperti itu!"
Air terkekeh, menjulurkan lidah ke arah kakaknya. Keluarga mereka memang selalu saling mendukung, saling mengasihi, dan saling menghargai. Mereka adalah tim yang tak terkalahkan dalam menghadapi segala hal yang akan datang.
Dalam momen itu, mereka merayakan kehadiran satu sama lain dan berusaha untuk selalu bersama, berbagi kegembiraan, mengatasi kesulitan, dan membangun masa depan yang indah bersama sebagai keluarga yang tak tergantikan
Air merasa wajahnya terengus saat Biru terlalu menghimpitnya.
"Kenapa sih ... Sempit ini! Lagian masih mau peluk peluk Mommy. Sana peluk kak Dara aja!" tukasnya dengan wajah ditekuknya. Dia sedikit iri melihat kedekatan antara Biru dan Dara. Ia merasa iri karena merasa ditinggalkan oleh kakaknya. Meskipun Air mengerti bahwa Biru juga memiliki hak untuk membentuk hubungan dan menghabiskan waktu dengan orang yang dicintainya, namun perasaan iri dan kesepian tetap menghantuinya.
"Kenapa ... Air cemburu ya?" goda Biru, sudah lama juga dia tidak mengajak adiknya itu bercanda seperti biasanya.
"Tidak ... Untuk apa aku cemburu ...weee!" ujarnya kembali menjulurkan lidah.
Air mencoba menekan perasaan iri dan mengingatkan dirinya sendiri bahwa cinta dan perhatian Biru tidak berkurang untuknya. Namun, terkadang sulit untuk menahan perasaan cemburu saat melihat Biru selalu memprioritaskan waktu dengan Dara daripada dengannya.
Mungkin Air merasa bahwa ia tidak cukup penting bagi Biru atau bahwa mereka tidak memiliki ikatan yang kuat seperti yang dimiliki Biru dan Dara. Perasaan ini membuatnya merasa kesepian dan ingin mendapatkan perhatian dan waktu yang sama dari kakaknya.
Namun, dalam keadaan ini, Air juga perlu mengungkapkan perasaannya kepada Biru dengan jujur. Mungkin mereka bisa mencari cara untuk lebih menghabiskan waktu bersama, berbicara, atau melakukan kegiatan yang mereka nikmati bersama.
"Sayang, kakakmu sudah menikah. Dan dia sudah punya kewajiban yang lain selain keluarganya, pekerjaannya dan sekarang di tambah istrinya. Hm?" Agnia mengelus rambutnya dengan lembut.
"Tapi kakak lupa kalau kakak juga punya adik?"
Dalam keluarga, setiap anggota memiliki kebutuhan dan perasaan yang berbeda. Penting bagi mereka untuk saling mendengarkan, memahami, dan menciptakan ruang untuk menciptakan keseimbangan dan kebahagiaan bersama. Dengan kerja sama dan komunikasi yang baik, mereka dapat membangun hubungan yang erat dan saling mendukung dalam keluarga yang penuh kasih sayang.
"Kak, selalu menghabiskan waktu dengan Dara? Tadinya aku selalu ikut kan. Aku juga ingin diajak kak!"
"Gara gara tidak di ajak? Maafkan aku, Air. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa ditinggalkan. Dara adalah seseorang yang sangat penting bagiku, tapi itu tidak berarti aku mengabaikanmu."
"Tapi aku merasa seperti itu, kak. Aku iri melihatmu selalu bersama Dara dan aku merasa terlupakan!" dengusnya.
"Hey anak-anak, mari kita bicarakan ini bersama-sama. Biru, Air merasa cemburu dan merindukan perhatianmu. Mungkin ada cara kita bisa menjaga keseimbangan dalam keluarga kita!"
" Maaf, Air. Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu. Kamu sangat berarti bagiku, dan aku ingin kalian berdua bahagia. Mungkin kita bisa membuat jadwal khusus untuk menghabiskan waktu bersama, termasuk waktu kita berdua tanpa Dara. Hm?"
"Itu ide yang bagus. Aku senang Kak Dara gak perlu di ajak." Air terkekeh.
__ADS_1
"Sayang. Mommy juga ingin melihat kalian berdua akur dan bahagia. Kita bisa membuat komitmen untuk meluangkan waktu khusus untuk kegiatan bersama, seperti bermain game, menonton film, atau hanya sekadar berbicara seperti ini?" tukas Agnia, "Tapi jangan lupakan juga Dara. Sekali sekali ajak dia pergi bersama sama. Hm?"
"Aku setuju. Air, maafkan aku jika aku terlalu fokus pada Dara. Aku mencintaimu dan aku akan berusaha lebih baik untuk memperhatikanmu." ujar Biru mengelus rambut Air.
Air terperangah, kakak yang sering menggodanya dan mengajaknya ribut kini terlihat dewasa sekali.
Agnia senang mereka saling mendengarkan, mengungkapkan perasaan, dan mencari cara untuk menjaga keharmonisan keluarga. Meskipun ada perasaan cemburu dan ketidak nyamanan, namun dengan komunikasi yang baik, mereka bisa mencapai pemahaman dan keakraban yang lebih dalam. Agnia merasa bahagia melihat kedua anaknya dapat menyelesaikan perbedaan mereka dengan cara yang baik dan saling mendukung satu sama lain.
Biru juga sibuk dalam pekerjaannya di perusahaan. Meskipun ada beberapa masalah pribadi yang sedang dihadapinya, Biru tetap fokus dan berkomitmen untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaan. Dia menghabiskan banyak waktu dan energi untuk mengatasi tantangan dan mengambil langkah-langkah strategis guna menjaga kelangsungan dan pertumbuhan perusahaan.
Biru bekerja keras untuk menjaga hubungan baik dengan karyawan dan mitra bisnis. Dia terlibat dalam pengambilan keputusan strategis, mengawasi operasional perusahaan, dan memastikan semua departemen berjalan lancar. Meskipun ada tekanan dan tantangan yang harus dihadapi, Biru tetap tegar dan berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan.
Selain itu, Biru juga berusaha untuk mengembangkan diri dalam bidangnya. Dia terus memperluas pengetahuan dan keterampilannya melalui pelatihan dan pendidikan lanjutan. Biru percaya bahwa dengan terus belajar dan berkembang, dia dapat memberikan kontribusi yang lebih besar pada perusahaan dan mencapai tujuan bisnis yang diinginkan.
Meskipun kesibukan dalam pekerjaan, Biru tetap memprioritaskan keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi. Dia menyadari pentingnya waktu untuk keluarga dan menjaga hubungan yang harmonis dengan keluarganya. Biru berusaha untuk mengatur waktu dengan bijak agar dapat memberikan perhatian dan kehadiran yang dibutuhkan oleh keluarganya.
Namun, dengan sikap yang tegar, fokus pada tanggung jawabnya, dan komitmen untuk menjaga keseimbangan, Biru berusaha melakukan yang terbaik dalam semua aspek kehidupannya.
"Kakak, juga selalu sibuk dengan pekerjaan! Kamu bahkan lupa untuk mengajakku ke tempat-tempat seru. Padahal selama di indonesia. Aku kayak orang bego yang gak tahu apa apa!"
Biru terkekeh, itu memang benar. "Maaf, Adikku. Aku memang sedang sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk. Tapi tenang saja, kita akan menyempatkan waktu untuk bersenang-senang bersama nanti ya!"
"Tapi Aku gak mau kamu ajak Dara! Jangan diajak!"
"Dara Itu adalah pasangan hidupku, Air. Kita harus memberikan perhatian pada pasangan kita juga, kan?"
"Ya ... Tapi aku juga ingin mendapatkan perhatian dari kakakku!"
"Tentu, Air. Maaf jika aku terlalu fokus pada pekerjaan. Aku akan mencoba lebih memperhatikanmu dan meluangkan waktu bersama kita. Seperti yang Mommy katakan, Dara sesekali di ajak juga!"
Air mencebik tapi dia memang tidak bersungguh sungguh dalam ucapannya yang tidak ingin mengajak Dara. "Janji ... benar?
"Ya, sungguh-sungguh. Ayo, besok kita bisa pergi ke taman bermain bersama. Bagaimana kalau tempat baru itu?"
"Ok, kak. Tapi jangan lupa, aku ingin mendapatkan giliran pertama di wahana yang paling seru!"
Biru terkekeh, "Deal! Giliran pertama untukmu, adikku tercinta."
__ADS_1
Percakapan lucu seperti itu membuat Air merasa lebih diperhatikan oleh Biru dan mengurangi rasa kesalnya. Biru menyadari pentingnya memberikan waktu dan perhatian pada adiknya, dan mereka berdua bisa menikmati momen-momen menyenangkan bersama.
"Kok udah nikah kakak jadi aneh!"