Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.58(Bukan Rian)


__ADS_3

"Tidak seru kalau kau membalasnya sekarang! Tunggu sampai semua urusan selesai Bi. Percaya padaku!"


Langkah Biru terhenti, Alex selalu bisa diandalkan saat emosinya tidak terkendali.


"Kita mainkan otak, bukan otot! Tidak usah barbar menghadapi mereka yang ambisius!" terang Alex lagi.


Biru menatapnya, Alex tampak dewasa dengan umurnya yang sekarang, padahal umurnya jelas lebih tua dibandingkan Alex.


"Kau benar Alex ... Aku harus menahan diri agar semua rencanaku berjalan mulus. Tapi aku tidak tega melihat Dara dalam kesulitan!"


"Justru dengan kau diam saja dan tidak berbuat gegabah itu membantu Dara, tenang saja. Rian tidak mungkin sepengecut itu menyakiti Dara! Kecuali dia hanya menginginkan anak yang di kandung Dara saja!" celetuk Alex menohok.


Ucapan Alex tentu membuat Biru tersentak, dia menoleh pada Alex dengan tatapan tajam. Sekalipun Alex hanya bicara asal namun cukup menusuk bagi Biru.


"Brengsekk ... Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Bagaimana pun juga seorang anak tidak boleh dipisahkan dengan ibu kandungnya!"


Alex terdiam mendengarnya, ucapan Biru sedikit menyayat hatinya, Biru memang selalu frontal bicara, sementara dirinya kerap berhati hati.


"Ayo kita pergi!" ucapnya dengan berlalu begitu saja."


Sementara Biru kembali heran melihatnya, dia menyusulnya keluar setelah memastikan semuanya.


Dara sendiri masih terdiam, tidak bertanya lebih lanjut apa Rian yang melunasi biaya rumah sakit atau bukan, sampai dia yakin jika bukan Rian orangnya.


Tapi dia juga tidak berani mengatakan apapun pada ibunya mengenai hal itu, melihat Prasetya dan Rian masuk ke dalam ruangan dan melihat Baskoro yang belum sadarkan diri.


"Ku dengar saham perusahaannya saat ini merosot tajam?" cicit Prasetya dengan terus menatap Baskoro.


Sophia jelas mendengarnya, tidak ada siapa siapa di ruangan selain dirinya. Dan sudah pasti Prasetya bicara padanya.


"Orang kantor sudah mengabari jika kantor saat ini sudah baik baik saja, mereka menjual beberapa saham dan mengurusnya dengan baik!"


"Kenapa tidak mengabariku lebih dulu? Aku bisa membeli saham dengan jumlah besar," sentaknya pada Sophia.


"Aku tidak tahu soal itu!" jawab Sophia yang memang tidak pernah terlibat apapun soal bisnis suaminya.


Prasetya mendengus kesal, "Dasar wanita ... Selalu tidak bisa diandalkan, mereka hanya bisa merongrong saja!"


Sophia tersentak, menatap Prasetya yang berbalik dan melangkah keluar serta Rian yang tersenyum tipis mengikuti ayahnya.

__ADS_1


Dara yang berdiri di depan pintu ruangan pun mendengarnya, hatinya sakit mendengar kakek dari anaknya itu bicara seperti itu pada ibunya.


"Aku sudah menghubungi Mas Rian berkali kali! Tapi tidak diangkatnya. Jadi jangan salahkan Mami karena Mami sendiri tidak tahu!" sentaknya dengan marah.


Rian menghampirinya dan merengkuh kedua bahunya. "Dara ... Papa tidak bermaksud bicara kasar pada ibumu, walaupun seharusnya Ibumu segera menghubungi kami jika terjadi sesuatu di kantor. Sahamku disana hanya 10% saja, bisa kau bayangkan jika semuanya hancur? Perusahaan Papamu bisa saja bangkrut dan itu berimbas pada keluargaku juga. Aku akan dianggap sebagai anak yang tidak becus. Kau tidak mau itu terjadi bukan. Karena itu mohon bantuannya. Jadilah calon istri yang baik jika masih ingin aku bantu!" ungkapnya dengan tersenyum. "Kabari aku kalau Papamu sadar ya!" ujarnya lagi dengan mengelus pipi Dara.


Dara berjingkat, memundurkan kepalanya sedikit ke belakang. Tidak sudi dirinya di sentuh oleh Rian yang ternyata sifatnya semakin berubah saja.


Janji janji manisnya hanyalah isapan jempol belaka, dia membantu karena adanya timbal balik. Dan Dara merasa bersyukur karena saham perusahaannya dibeli pihak lain dibandingkan keluarga Rian.


Bisa dibayangkan jika mereka menikah, keluarganya bisa saja tidak akan dihargai bahkan lebih parah mungkin akan di jadikan keset kaki.


"Mas pergi dulu ya ... Mas sangat sibuk mengurus pekerjaan, dan itu semua demi masa depan kita!" ujarnya dengan mengelus rambut Dara.


Dara hanya terdiam, menatap Rian dengan tajam sampai pria itu melangkahkan kakinya. Dan langsung masuk ke dalam ruangan tanpa menunggu lebih lama lagi.


Terlihat Ibunya duduk di samping ranjang, dengan wajah sendu dan bibir bergetar. Bisa jadi sedih karena ucapan Prasetya tadi. Dara menghampirinya, bagaimanapun juga merekalah orang tuanya sekalipun dia marah dan kesal tapi Dara sangat menyayangi kedua orang tuanya.


"Andai semua ini tidak terjadi, kau pasti sekarang sedang berada di luar negeri, kuliah di kampus favorite dan tinggal dengan nyaman."


Dara menggigit bibirnya saat mendengarnya. Bukan hanya ibunya saja yang menginginkan hal itu, dia pun sama. Tapi bukankah nasi sudah jadi bubur?


Sophia menggelengkan kepalanya. "Sekretaris Papa yang tahu."


"Bisa aku tahu nomor sekretaris Papa?"


Sophia memberikan nomor kontak sekretaris suaminya, orang kepercayaan Baskoro yang mengatur semuanya supaya perusahaan aman dan damai.


Dara menghubunginya dan meminta informasi tentang siapa yang membeli saham saham perusahaannya.


Sekretaris papanya mengirimkan sebuah file berisi semua informasi dasar yang memang harus diketahui pihak keluarga Baskoro dan Dara berniat membukanya.


"Dara!"


Teriak ibunya dari dalam ruangan, Dara berlari masuk dan melihat ayahnya membuka kedua matanya yang sendu.


"Papa sudah sadar sayang!" ucap Sophia, "Dia mencarimu!"


Niat Dara membuka file terlupakan begitu saja saat melihat Ayahnya sadar, dia segera menghampirinya sementara sang ibu memanggil dokter.

__ADS_1


"Pap ...! Maafin Dara."


Baskoro menggelengkan kepalanya, menatapnya sendu dengan air mata bergelayutan.


"Suruh Rian kemari Dara, Papa ingin bicara!"


"Pap ... Papa istirahat saja, gak perlu banyak fikiran. Perusahaan kita baik baik saja!" ujar Sophia yang baru saja datang bersama beberapa Dokter.


Dara mengernyit, setahunya dokter yang menanganinya hanya satu orang saja. Namun sekarang kenapa banyak sekali dokter ahli.


"Mami yang minta dokter sebanyak ini?"


Sophia menggelengkan kepalanya, "Mami tidak tahu Dara, mereka datang begitu saja. Apa kau sudah lihat biaya administrasinya. Ini pasti sangat mahal. Mami takut tabungan kita tidak cukup!"


Dara terdiam, siapa yang menyiapkan pelayanan rumah sakit selengkap ini jika Rian saja tidak merasa melakukannya. Gadis itu terus berfikir seraya melihat dokter dokter itu memeriksa kondisi ayahnya.


"Kondisi tuan Baskoro saat ini stabil, kita akan tunggu sehari atau dua hari lagi sampai hasil pemeriksaan lainnya keluar."


"Terima kasih Dok!" ucap Sophia.


Satu persatu Dokter pun keluar, Dara ikut keluar mengikuti mereka.


"Permisi Dok, ada yang ingin aku tanyakan!"


Dokter yang paling terakhir menoleh dan berhenti dan menanti Dara.


"Siapa Dokter yang merawat Papa? Kenapa banyak sekali"


Dokter tersebut tersenyum, "Kami semua!"


"Tapi Dok masalah administrasi."


"Maaf soal Administrasi bisa ditanyakan langsung ke tempat administrasi saja!" ungkap Dokter itu.


Dara tidak menemukan jawaban satu pun atas pertanyaannya, hingga dia kembali masuk ke dalam ruangan dan langsung mendudukkan diri di sofa sementara Sophia tengah menyeka wajah Baskoro yang masih terlihat pucat sekali.


"Ah ... Aku baru ingat!" gumam Dara yang langsung merogoh ponselnya guna melihat file yang tidak sempat dia lihat.


File yang berisikan saham saham yang ditawarkan juga saham yang terjual dan tersisa. Dua matanya lincah mengikuti layar menyala yang dia gulir dan berhenti di file teratas dimana nama perusahaan yang paling banyak membeli saham diperusahaan papanya.

__ADS_1


"G.G. Corps. Perusahaan apa itu?"


__ADS_2