Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.49(Bikin penasaran)


__ADS_3

Gak bosen othor minta maaf karena lagi lagi update draft yang sama... Wkwk, update bab 47 dr mlam kemaren malah kena review sehari semalam, othor coba up lagi krn kesel gk bisa up bab baru, tkutnya duluan bab baru munculnya, dan benar saja bab 48 muncul duluan setelah review 5 jam wkwkwk. nunggu review sistem rasanya warbysah...


Mohon maaf lahir batin dari othor sabondoroyot. Bab yang sama udah pasti othor ganti ya. tunggu sistem nya lancar dulu.


.


.


Agnia berdecak saat melihat Biru yang sempoyongan saat membuka pintu kamar hotel, sementara putranya itu hanya tersenyum lalu berhambur memeluknya dengan wajah tanpa dosa.


"Biru ... Lepas, kamu bau sekali!"


"Tidak ... Buktinya tadi kami berpelukan! Aku sangat senang hari ini Mami,"


"Kau ini ... Bisa bisanya bersenang senang dengan minum minum seperti ini." ujar Agnia dengan menjewer anaknya itu.


"Aku tidak melakukan apa apa, kami hanya bicara dan berpelukan saja, dan sedikit ber___" Biru meringis dan terus tertawa, saat ibunya kembali mendaratkan pulukan padanya, namun tidak merubah apa yang dia rasakan hari ini yang luar biasa menurutnya karena bisa mengetahui perasaan yang sesungguhnya dari Dara.


"Rasa sakit ini tidak seberapa dibaandingkan hatiku yang bahagia." cicitnya dengan terus tetawa.


Agnia yang kesal kembali memukul bahunya dengan keras, hingga Biru kali ini mengaduh.


"Mami dukung Biru kan. Mami akan selalu bantu Biru apapun itu kan? Biru cinta sama Dara Mam ... Biru gak peduli kalau Dara hamil anak orang lain, Biru akan nerima apapun itu Mami." ujarnya dengan menggosok bahu dan lengannya yang sakit lalu meghempaskan tubuh di atas ranjang.


Agnia menghela nafas melihatnya, Biru benar benar mirip sang Daddy, bodoh soal cinta dan wanita. Dia pun menghubungi seseorang yang bisa memberikan informasi tentang Dara yang yang kemungkinan belum jauh.


Pucuk di cintaa ulam pun tiba, Agnia menemukan sebuah kunci mobil yang tergeletak di lantai, dengan sigap dia meminta seseorang untuk memeriksa CCTV di luar hotel, tempat parkir dan juga di mana saja sampai ibu dari dua anak itu dapat melihat wajah Dara dengan jelas.


"Kau pergi bawa ini." ucapnya pada salah satu pegawal suaminya. "Cari alasan untuk mengantarkannya pulang, antarkan dia dengan selamat!"


Pria tinggi tegap dengan seragam hitam hitam itu mengangguk dan mulai mencari keberadaan Dara.


"Nyonya ... Sepertinya dia tidak percaya padaku!" ujarnya di aer phone yang terhubung dengan rekannya yang kini menjaga Biru.

__ADS_1


"Bangunkan Biru, suruh dia katakan sesuatu!"


Zian yang baru saja masuk hanya menggelengkan kepalanya saat meihat sang istri ikut repot mengurusi anak laki lakinya yang sulit di atur itu.


"Saat aku bilang kita tidak akan benar benar meninggalkannya sendirian bukan berarti kita berdua ikut terlibat langsung seperti ini! Bukankah kau bilang dia sudah dewasa dan bisa menyelesaikannya sendiri?"


"Dad ... Kamu tahu Biru sepertimu? Mana bisa aku lepas begitu saja, aku gak mau Biru melakukan hal yang konyol hanya karena mencintai wanita yang jelas jelas sudah hamil karena orang lain, kita harus tahu kenapa dia bisa hamil dan membuat Biru yang harus tanggung jawab dan sekarang dia di buang gitu aja. "Aku tidak rela anakku diperlakukan seperti ini. Enak saja!" Dengus Agnia dengan menghempaskaan tubuhnya di sofa dengan menatap Biru yang tertidur pulas di atas ranjang.


Zian menghela nafas, bukan hanya Agnia yang melakukannya, dia bahkan menemui Prasetya secara langsung di sela kesibukannya hanya untuk melihat satu persatu orang orang yang meremehkan putranya.


Ada banyak macam orang di dunia bisnis, dan Zian bisa tahu bagaimana Prasetya dari awal bertemu saja, dia bisa bayangkan sesulit apa Biru saat itu tanpa membawa embel embel nama keluargaanya, dan jelas sekali jika mereka tife orang yang melihat rendah orang lain yang berada di bawahnya.


Semua merendahkannya karena menganggap Biru tidak punya apa apa. Zian menatap putra pertamanya itu, memang benar apa yang di katakan istrinya, mereka memang tidak akan tinggal diam saat melihat putranya kesulitan.


"Tenang saja Baby ... Tidak ada satu pun yang bisa merendahkan putra kita, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Mereka harus tahu jika putra kita adalah laki laki hebat." ujarnya dengan mengelus lengan sang istri, "Jadi stop membantu pekerjaannya, biarkan dia belajar soal pekerjaan kantornya. Hm?" ucapnya lagi .


Agnia terkesiap, tidak ada yang luput darinya apapun itu, terlebih soal pekerjaan Biru yang dia kerjakan.


"Daddy ...!"


"Ya ... Aku mengerti! Maaf ...."


Zian mengangguk lalu merengkuh bahu sang istri da memeluknya. Mereka tidak sadar jika Biru saat ini sedang memperhatikan keduanya.


"Mam ... Dad, apa kalian tidak mengerti kalau aku ini masih sendiri?"


.


Sementara itu kendaraan yang membawa Dara baru saja melaju. Gadis itu termangu saat pria yang diakui teman oleh Biru itu membuatnya kembali penasaran.


"Hah ... Beliau?"


Supir mengangguk, tidak menjelaskan secara rinci siapa yang di maksud dengan panggilan beliau itu. Membuat Dara terdiam dengan sejuta pertanyaan yang kembali muncul di fikirannya.

__ADS_1


Kenapa dia memanggil temannya pake panggilan beliau, kaku banget. Aneh banget. Batin Dara yang terus memperhatikan pria yang kini menyetiri dirinya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sesuai perintah yang dia terima jika harus melajukan mobil dengan hati hati sampai mereka tiba di depan rumah Dara.


Dara lagi lagi tercengang, pria yang disebut teman Biru itu tahu alamat rumahnya pula, apa yang tengah direncanakan Biru sampai memberikan semua informasi dirinya.


"Non ... Kita sampai," ujarnya dengan keluar dari mobil dan langsung membuka pintu untuk Dara.


"Terus kamu pulang bagaimana?" tanya Dara yang keluar dari mobil.


"Itu mudah, temanku akan datang kemari untuk menjemputku. Selamat malam Non Dara!" ucapnya lagi dengan sedikit tersenyum, sampai sebuah mobil berhenti tepat di depannya, dan pria itu masuk lalu mobil tersebut segera melaju.


Dara mengerdik, dia tidak ingin terlalu keras berfikir soal apapun yang membuatnya penasaran. Yang pasti diakembali percaya jika Biru melakukan hal itu untuknya.


Baskoro melihat anaknya yang baru saja kembali, dia juga melihat sosok pria yang mengantarkannya pulang.


"Dari mana saja kaamu?"ucapnya dengan nada yang tinggi.


"Pap? Aku ...."


"Siapa yang mengantarkanmu tadi. Apa dia bocah tengil itu?"


"Pap ... Namanya Biru, bukan boah tengil!" Dara langsung naik ke langsung naik ke lantai 2 rumahnya menuju kamar dari pada meladeni ayahnya yang tidak akan mengerti apapun penjelasannya.


"Kau masih membela anak kampung tidk tahu diri itu Dara?" teriak Baskoro yang semakin kesal.


Dara yang hendaak masuk ke dalam kamar kembali menolehkan kepala ke arah sang ayah yang berdiri tepat di bawah tangga,


"Apa Papa tahu kalau Biru memiliki black card dan kartu akses presiden suite di hotel Blue moon? Apa dia masih Papa bilang kampungan sementara sekelas Rian aja gak punya kartu yang hanya bisa di miliki oleh orang orang berpenghasilan besar?" ungkap Dara saking kesalnya.


Baskoro terdiam kaget,"Apa maksudku?"


"Ku fikir Papa yang seharusnya lebih tahu,"

__ADS_1


Bukan hanya Baskoro yang penasaran juga sebenarnya, melainkan Dara pun. Gadis itu mengangguk ke arah sang ayah lalu masuk dan menutup pintu kamar.


"Siaal ... Kenapa aku bilang itu sama Papa! Aku aja belum tahu pasti apa kartu itu asli atau palsu."


__ADS_2