Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.92(Aku akan memecatmu)


__ADS_3

"Kita tidak perlu repot repot mengurus mereka Dara, sekarang saja mereka sudah terjebak dalam permainannya sendiri!"


Dara menoleh ke arahnya, "Apa maksudmu Bi?"


Biru lupa jika Dara memang tidak tahu apa apa, lantas dia hanya tersenyum saja padanya, "Lupakan Dara, anggap aku tidak katakan apapun, sebaiknya kita pergi dari sini,"


"Enggak Bi, aku masih harus tanya kenapa Intan ada di sana juga." Ucap Dara yang melangkahkan kaki ke arah Intan.


Intan yang tanpa sengaja melihatnya terlihat kaget, membuat Dara semakin yakin perkataan Biru jika mereka saling mengenal.


"Kamu ... Ngapain kesini?" tanya Intan yang terlihat tidak suka melihatnya.


"Harusnya aku yang bicara kayak gitu, kenapa kamu ada di sini, apa kamu ada hubungan dengan Rian dan keluarganya?"


Intan menatapnya jengah dengan kedua tangan yang bersidekap dada.


"Bukan urusanmu!"


Dara pun juga menatapnya, Intan adalah sahabatnya, tapi baru kali ini dia tidak bisa memahami sahabatnya sendiri itu.


"Apa kamu dan Rian punya hubungan?" katanya lagi.


Intan tidak menjawab pertanyaan Dara, tatapannya nyalang ke arah Biru lalu kembali menatap Dara.


Tiba tiba mereka dikagetkan dengan kemunculan Prasetya yang langsung terlihat marah.


"Dara ... Kau fikir siapa kau berani bertanya hal yang tidak sopan seperti itu pada Intan?"


Prasetya menghampiri Dara dan mencekal tangannya, "Ayo pergi kau hanya akan membuat keributan, Rian baru saja sadar dan perlu istrirahat, dan kami akan di salahkan karena kau kemari. Jadi pergilahh!' ujarnya lagi seraya melirik ke arah Biru.


Biru menepiskan tangan Prasetya dengan kasar, tatapannya tajam dengan bibir yang terkatup. "Ini bukan kesalahanku! Kau yang membiarkannya kesini!" ucapnya lagi.


Prasetya sungguh takut jika perjanjiannya dia ingkari karena lagi lagi bertemu Dara. Dara menoleh pada biru yang tersenyum tipis, bagaimana Prasetya mengenal Intan juga, dan itu membuat nya semakin yakin atas kecurigaanya beberapa hari ini.


"Ayo Dara, kita pergi dari sini, percuma saja bicara dengan mereka,"

__ADS_1


"Lebih baik memang kau bawa dia Tuan Biru, jangan pernah membawanya menemui kami!" ucap Prasetya dengan kesal.


"Kau tidak perlu khawatir, yang harus kau khawatirkan adalah gadis yang berada di sampingmu itu, hati hati, mungkin kau akan di gigitnya nanti!' sahut Biru dengan terkekeh, menarik pergelangan tangan Dara.


"Hey .. Apa maksudmu. Kamu tidak tahu apa apa jadi gak usah ikut campur!" sentak Dara, "OM jangan dengarkan dia, aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk, justru aku yang membantu Om dan Rian selama ini, lagi pula pria itu siapa ... Aku gak kenal dia!"


"Kau memang tidak penting, jadi untuk apa aku harus mengenalmu! Ayo Dara ....!"


"So soan belain cewe murahan!"


Dara yang baru saja hendak mengikuti Biru kini menghentikan langkahnya saat mendengar apa yang Intan katakan, dia lantas menoleh pada Intan, "Apa kamu bilang?"


Prasetya terlihat gugup, dia menyuruh Intan diam dan menariknya . "Intan ayo kita pergi saja!"


"Intan ... Aku tanya kenapa kamu bilang kayak gitu!?"


Biru masih menariknya, dugaannya benar jika Intan dan Rian memang merencankan semuanya. Dia juga tidak Dara semakin sakit hati mengetahuinya.


Terlihat Intan mengerdik dengan tatapan yang sulit di artikan.


Intan menghembuskan nafasnya kasar, "Sejak lama, bahkan aku kenal Rian sebelum kamu mengenalnya Dara."


Bulir bening di pelupuk mata Dara turun begitu saja, dia tidak menyangka jika Intan yang dia lihat saat ini adalah intan sahabatnya. Hal yang tidak ingin dia ucapkan pun seolah olah terjawab hanya kerena jawaban Intan. Tapi dari mana Biru tahu dan dia bisa mengatakan jika mereka ada hubungan membuatnya semakin penasaran.


"Apa kamu ...?"


"Dara sudahlah ayo kita pergi saja. Dari sini."


"Enggak Biru, aku gak akan pergi sebelum tahu jawaban Intan dengan jelas, apa malam itu juga adalah perbuatan Intan?" Sahutnya dengan berusaha melepaskan tangannya dari Biru, Dara kembali menghampiri Intan.


"Apa salahku padamu Intan? Kenapa kamu tega sama aku?"


"Sudah aku bilang dia tidak akan menjawab pertanyaanmu Dara! Kita cari cara lain!" Gumam Biru pelan.


Aku sudah duga semakin dia diam semakin aku yakin kalau mereka memang sengaja merencanakan sesuatu pada Dara. Batin Biru.

__ADS_1


"Intan?" lirih Dara, "Apa dugaanku benar, malam itu juga karenamu ...?"


Intan kembali mengerdik, dia tidak ingin mengatakan apapun apalagi di depan Prasetya yang memang tidak tahu soal malam itu.


Prasetya mendengus kasar seraya menatap Biru, karena terus terlibat dengan Dara hanya akan membuat semuanya kacau. "Pak ... Tolong bawa Dara dari sini."


"Tidak perlu kau suruh aku akan membawanya, jadi urus saja wanita itu ... Ahk satu lagi, kau harus memperketat keamanan Rian, jangan sampai lengah ya!"


"Heh ... Dengar ya, aku gak kenal sama kamu, aku juga gak ada urusan denganmu ... Jadi jangan ikut campur urusan orang lain! Semua ini gak ada hubungannya denganmu kan!" sentak Intan pada Biru.


Biru yang sejak tadi tenang kini mulai terpancing, dia melepaskan tangan Dara dan melangkah maju ke arah Intan.


"Benarkah ... Kau tidak tahu siapa aku. Aku akan memecatmu segera!"


Intan terbeliak sempurna, "Memangnya kamu siapa. Bosku? Kamu ... Gak gak bisa pecat aku!"


Dara pun kaget, begitu juga Prasetya yang melongo dan menarik tangan Intan.


"Bukankah kau pekerja di Insentral nusantara sejak 2 bulan yang lalu, dan aku akan membeli perusahaan itu dengan satu syarat kalau aku akan memecat wanita bernama Intan Aurora ... Apa sudah jelas?"


Intan kaget bukan main, tubuhnya bergetar hebat mendengar Biru mengetahui tentang dirinya. "Kau mengganggu orang yang tidak seharusnya kau ganggu wanita licik!" ujar Biru lagi dengan puas.


Prasetya menyuruh Intan untuk pergi, "Intan pergilah ... Kau hanya akan membuat masalah baru!" ucapnya dengan langsung menghampiri Biru yang terus menggertakkan rahangnya keras.


"Tuan ... Kami sudah menanda tangani kontrak itu, apa kau juga akan mengganggu kami lagi dan Rian ku yang sedang lemah!"


"Tidak ... Bukan aku!" Sahut Biru dengan dingin, "Ada yang lebih licik di bandingkan denganmu Pras ... Berhati hatilah!" ucapnya lalu berbalik dan Biru pun mengajak Dara pergi.


Dara mengikutinya berjalan, walaupun dia tidak bisa mendapatkan jawaban dengan puas dari Intan. Namun air matanya terus turun hanya karena kemungkinan dugaannya benar.


"Bi ... Jelaskan apa yang kau tahu Bi tentang semuanya!" tanyanya lirih saat mereka berjalan keluar dari rumah sakit. "Aku yakin kamu tahu banyak dari apa yang aku duga!"


"Sudah jelas mereka ada hubungan Dara, mereka semua merencanakannya untuk menjeratmu dan ayahmu. Aku tidak tahu alasannya apa. Tapi yang jelas mereka merencanakannya dari awal! Beruntung kau bertemu aku dan memintaku menikah. Itu yang aku tahu!" sahut Biru dengan sedikit terkekeh, "Jangan menangis lagi, kau punya aku sekarang Dara. Aku tidak akan membiarkan mereka berbuat jahat padamu!"


"Apa mereka melakukannya agar bisa dapat perusahaan Papa?"

__ADS_1


__ADS_2