
Setelah mobil yang di kendarai Alex berlalu dari pandangan, Intan menangis tergugu. Dia takut setengah mati saat Alex mengancamnya dengan keras, kebenciannya pada Dara juga semakin besar. Dia benci semua hal yang berkaitan dengan Dara termasuk Dara yang selalu beruntung di kelilingi oleh orang orang yang baik dan melindunginya.
"Emang sialan si Dara, dari dulu dia selalu beruntung, kenapa mereka sangat baik sampai semuanya berantakan kayak gini!" gumamnya dengan menangis.
Prasetya yang baru saja keluar dari pintu lift dan berjalan menuju mobil ditemani 2 pengawalnya, dahinya mengernyit saat melihat gadis cantik bernama Intan.
Pria paruh baya itu menyuruh dua pengawalnya untuk menunggu, sementara dia sendiri berjalan ke arahnya seorang diri
"Kau sedang apa?" tanyanya.
Intan terkesiap melihat Baskoro, dia langsung bangkit berdiri dan menyusut air matanya. "Om ... kenapa Om kemari, apa Om mau pulang juga?"
Prasetya terdiam untuk sesaat, "Apa yang Biru maksudkan tadi? Apa kau membohongiku Intan?"
Intan terbeliak, dia menggelengkan kepalanya dengan lirih, "Apa maksud Om Pras? Aku ... Aku,"
"Kau selama ini bekerja? Bukankah kau kuliah di luar negeri?"
"Itu ... Itu benar Om, aku memang kuliah di luar negeri dan aku sedang libur musim semi, jadi aku ulang dan magang di sebuah kantor."
Prasetya memicingkan kedua matanya, dia tidak mudah percaya pada orang lain selain dirinya sendiri.
"Dengar Intan. Aku bukan orang yang bodoh dan gampang di tipu apalagi oleh anak kecil seperti mu! Jadi ingat Intan, jangan pernah main main dengan ku. Kau faham?"
Intan mengangguk kecil seraya menggigit bibirnya sementara Prasetya langsung berbalik badan dan meninggalkannya begitu saja.
"Om ... Apa boleh aku menunggui Rian?" ujar Intan yang mengejarnya langsung.
Prasetya menoleh, "Tentu saja, Om banyak pekerjan yang tidak mungkin di kerjakan di rumah sakit, Om harus pulang dan Om butuh istirahat!"
"Kalau gitu Om tenang saja, aku yang akan menjaga Rian malam ini Om."
Prasetya tidak menjawabnya, dia langsung masuk ke dalam mobil yang sudah siap melaju, Intan hanya bisa menatapnya dengan ketidak puasan dan juga kekesalan yang teramat besar,
Tidak lama kemudian, Intan kembali masuk ke dalam gedung rumah sakit, dia langsung berjalan menuju ruang inap Rian.
"Maaf Non ... Tuan besar melarang orang lain untuk masuk ke dalam!" seru seorang pria berpakaian hitam hitam, pria itu di tugaskan oleh Prasetya untuk menjaga Rian selama di rumah sakit.
__ADS_1
"Minggir ... Aku bukan orang lain, aku pacarnya Rian, aku juga sudah bilang pada Om Pras dan dia mengijinkan aku untuk masuk dan menjaga Rian malam ini!" tukas Intan, kedua tangannya sampai bergetar menahan kesal.
"Maaf ... Tapi perintah tuan besar seperti itu!"
"Sialan ... Aku baru saja bertemu!"
Pengawal itu tetap menggelengkan kepalanya dan melarang Intan untuk masuk.
Sial ... Si tua bangka itu sengaja mempermainkan aku, apa maksudnya aku gak boleh masuk? Batin Intan.
Intan lagi lagi kesal dan kecewa karena Prasetya mempermainkannya. Hingga dia memutuskan pergi dari sana.
Prasetya berdecak setelah menerima laporan jika Intan sudah pergi dari rumah sakit karena tidak di ijinkan masuk,
"Awasi terus gadis itu! Aku tidak mau sampai kecolongan!" serunya pada dua pengawal yang duduk di kursi depan seraya memasukkan ponsel ke dalam saku jas yang di kenakannya..
Dia fikir dia siapa, aku tidak akan mengambil resiko apapun apalagi saat ini, Biru tidak mungkin berkata seperti itu hanya untuk menggertakku saja, dia bisa melakukan apapun dengan sekali tunjuk, dan aku harus lebih hati hati dengan gadis itu, sepertinya dia tidak sepolos itu. Batin Prasetya.
"Tuan?" ucap pengawal pribadinya seraya menoleh ke belakang dengan ipad yang dia sodorkan.
Prasetya mengernyit, dia mengambil ipad itu dan melihatnya, tak lama kemudian terlihat kedua matanya memboa sempurna.
"Betul tuan, sekretaris tuan yang kirim."
ujung bibir Prasetya melengkung sempurna saat membaca undangan itu. Undangan yang jarang terjadi dan hanya di terima oleh kalangan tertentu saja.
"Aku harus siap siap, ini acara besar dan hanya kalangan kalangan tertentu yang di undang dalam acara perusahaan G.G Corps tahunan ini. Oh apa yang harus aku siapkan, aku sudah pasti akan bertemu orang orang penting, apalagi tuan Zian akan hadir." gumamnya seorang diri, membayangkannya saja Prasetya sudah bahagia karena akan banyak peluang bisnis yang akan dia dapatkan.
"Acaranya dua hari lagi, apa yang akan tuan siapkan?" tanya pria yang berada di depan setir kemudi.
"Siapkan hadiah istimewa, aku ingin meninggalkan kesan yang paling bagus dan lebih bagus dibandingkan yang lain." ucapnya kemudian, jangan lupa juga kirimkan karangan bunga paling bagus." lanjutnya lagi.
Sementara itu sebuah mobil melaju kencang dikemudikan oleh Intan menuju rumah kediaman Baskoro. Dia ingin menemui Dara dan meluapkan kekesalan padanya. Kedua tangannya mengerat di setir kemudi dengan terus menggerutu kemana mana.
"Ini semua gara gara Dara, harusnya semua berjalan mulus tapi malah berantakan kayak gini gara gara Dara dan pria itu, sial ... Semuanya jadi hancur begini, dan kau Rian, kau terlalu lambat bertindak." dengusnya seorang diri.
Tidak lama kemudian mobil yang di kendarainya menepi tepat di depan rumah Dara, Intan melepas seat beltnya dan langsung turun dengan membanting pintu mobil.
__ADS_1
"Dara!"
"Dara!"
Teriaknya dengan keras, "Keluar kamu Dara!"
Baskoro dan Sophia yang tengah berada di ruang keluarga tampak saling menatap.
"Siapa itu Pap ... Kenapa maalam malam berteriak mencari Dara?"
"Entahlah, ayo kita lihat?"
"Dara!" Seru Intan, kali ini di sertai gedoran di pintu rumah Dara.
Tidak berselang lama pintu terbuka, terlihat Sophia ynag berdiri dengan kedua alis yang mengernyit.
"Intan?"
"Mana Dara Tante ...bilang padanyaa aku ingin bicara!"
"Dara ...? Ada apa mencari Dara ,malam malam seperti ini?" tanya Sophia heran, "Lagi pula Dara baru saja pindah bersama suaminya."
Kedua mata Intan terbeliak sempurna, "Suaminya? Bukankah Dara harusnya menikah dengan Rian? Bukankah Dara hamil anak Rian?"
Sophia terlihat semakin mengernyit saja, "Kau tahu hal itu Intan ... Bukankah Dara sulit menghubungi semenjak acara perpisahan sekolah kalian? Bagaimana kau tahu?"
Kali ini Intan yang terkesiap, dia terlalu emosi sampai lupa dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Intan ... Tante sedang bertanya pada mu? Dari mana kau tahu kalau Dara hamil anaknya Rian, apa kau sudah bertemu Dara?"
Intan berdecak, "Sial ...." gumamnya pelan.
Baskoro yang sedari tadi duduk kini bangkit dan menghampiri keduanya karena penasaran juga, dia melihat gelagat Intan yang terlihat aneh,
"Dara tingga dimana Tante? Biar aku kesana saja."
"Kau belum menjawab pertanyaan Tante Intan, tidak ada yaang tahu hal itu selain kami keluarganya, dan aneh kalau ada orang lain yang tahu!"
__ADS_1
Intan mulai tersenyum manis, "Dara yang kasih tahu aku kok Tante, Tante tahu kan kalau aku ini sahabat Dara!?"