
"Bagaimana kondisi istri dan anak ku Dokter?"
Melihat Biru yang cemas, Dokter wanita itu justru tersenyum seraya mengulurkan tangan padanya.
"Selamat atas kelahiran bayi mu Biru!"
Biru yang cemas kini justru terperangah, dia tidak percaya atas apa yang di ucapkan Dokter padanya. Bahkan dia mengabaikan tangan dokter yang masih menggantung di udara.
Menjadi orang tua adalah momen yang istimewa. Kelahiran anak yang ditunggu tunggu selama 9 bulan lamanya. Buah cinta dan bukti kasih kedua orang tua serta kasih sayang tuhan pada mereka.
Namun mereka berbeda, anak yang kini tiba ke dunia itu adalah anugrah yang tidak diharapkan datang secepat itu.
"Biru!" Tangan Alex menguat di bahunya, menyadarkan Biru dari lamunannya.
Biru pun akhirnya menjabat tangan Dokter, "Jadi bayi ... Maksudku anakku sudah lahir. Apakah istriku tidak apa apa? Bagaimana keadaannya?" tanyanya.
"Istrimu sudah melewati masa kritis, kita akan periksa secara berkala." ujar Dokter itu lagi.
Sophia yang juga merasa sangat cemas kini bisa bernafas lega, dia tersenyum seraya menyeka air matanya. Kebahagiaan yang hadir di sela kesedihan yang mereka rasakan.
Begitu juga dengan mereka yang berada di rumah sakit pada saat Dara melahirkan. Zian dan Agnia yang baru saja selesai menghadiri pemakaman Baskoro segera kembali ke rumah sakit.
Mereka akan pastikan untuk memberikan dukungan dan perhatian kepada Biru dan juga Dara. Alex yang merasa sudah seperti teman dan keluarga pun berhambur memeluk Biru yang kini terlihat menitikkan air mata.
__ADS_1
"Lex ... Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jadi Dara."
"Tenanglah Bi ... Semua sudah baik baik saja! Dara dan anaknya baik baik saja!"
"Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang Lex?" tanyanya bingung dengan mengurai pelukan Alex.
Alex menghela nafas, lucu memang jika Biru sampai bertanya seperti itu. Hal perdana yang di lakukan Biru saat ini hanya bisa menatap kaca besar berentuk persegi panjang dengan seorang bayi di dalamnya.
"Kau bisa melakukan beberapa hal untuk membantu Dara selama masa masa ini, beri dukungan dan bantu pekerjaannya." jawab Alex dengan kedua alis turun naik.
Inkubator yang membawa anak Dara pun keluar dari ruangan, Biru menatap wajah bayi tanpa dosa itu.
"Selamat ya Pak ... Anak anda laki laki. Kami akan membawanya ke ruang perawatan bayi dan anda bisa melihatnya ke sana." ucap Seorang suster yang terus mendorong mesin inkubator.
Dokterpun mengikuti suster itu, dan terus berjalan mengiringi Biru. "Pastikan kau berikan dukungan emosional pada istrimu. Pastikan kau selalu ada untuk mendukung istrimu secara emosional. Beri dia kata-kata yang positif dan berikan dorongan saat dianmengalami kelelahan atau stres. Ini tidak akan mudah Biru. Usia istrimu masih muda, ditambah dia melahirkan diwaktu ayahnya baru saja meninggal."
Siska mengangguk lirih, kejadian yang tidak terduga terjadi di saat hari terakhirnya di rumah sakit.
"Hari ini sebenarnya aku hanya akan mengajukan surat pengunduran diri pada uncle mu Bi, kau justru membuatku panik tadi!"
"Maafkan aku ... Apa aku berarti beruntung? Bukankah hari terakhirmu di rumah sakit menjadi sangat berwarn?"
"Kau ini! ... Dara sudah banyak melewati masa masa sulit di hidupnya. Ini pasti tidak mudah, dan itu juga akan menjadi masalahmu! Kau harus siap apapun itu. Sekarang kau sudah jadi ayah, terlepas dari bagaimana semua itu terjadi."
__ADS_1
Biru kembali mengangguk, tepat di depan ruangan perawatan bayi. "Aku akan memeriksa putramu sebelum pergi."
Biru merengkuh dan memeluk dokter yang sudah senior itu, dokter yang juga membantu ibunya saat melahirkannya dulu. "Selamat menikmati masa tuamu."
"Terima kasih Biru! Salamkan dariku untuk momy Nia dan Daddy Zian. Hm?"
"Pasti ...!"
Siska akhirnya masuk, dia memeriksa semua bayi bayi yang tergeletak di ranjang ranjang kecil, beberapa diantaranya berada di dalam kaca yang berbentuk persegi panjang dan terdapat lampu berwarna Biru. Biru kembali menatap bayi laki laki itu dari luar kaca, bibirnya tersenyum saat bayi kecil itu menggeliat dengan kedua mata tertutupnya.
Tidak lama kemudian, dia memilih kembali ke ruangan Dara yang masih belum sadarkan diri setelah memastikan jika anaknya sudah baik baik saja.
"Bi ... Kau sudah melihat putramu?" seru Agnia yang memilih menemani Sophia ketimbang mengikuti Biru.
"Iya Mami. Aku sudah melihatnya. hanya saja aku masih takut jika Dara ...!"
"Apa yang kau takutkan. Bukankah semua sudah aku katakan jika semua ini bukan kesalahanmu?" sahut Zian dengan wajah serius.
Biru sedikit menundukkan kepalanya ke bawah mendengar ayahnya bicara. Sophia sedikit berjingkat juga karena Zian tidak ingin siapapun menyalahkan apa yang di lakukan putranya.
"Daddy ...!"
Zian menghela nafas, lalu mendudukkan dirinya di tempat duduk tanpa bisa menyangkal lagi. Dan tepat pada saat pintu ruangan operasi kini terbuka di depan mereka.
__ADS_1
Dua suster tengah mendorong blankar dimana Dara tertidur tidak sadarkan diri itu keluar menuju ruangan inap.
"Istri anda masih harus kami pantau perkembangannya, karena itu silahkan ke ruang admin."