
"Apa yang kau lakukan brengsekk!"
Rian terjerembab hingga hampir terjatuh, menatap seorang pria yang berjalan kearahnya dengan tatapan tajamnya. Menarik kerah kemeja miliknya dan langsung memukulnya dengan keras hingga Rian kembali terjerembab.
"Biru!" Teriak Dara, memegangi lengannya dan mencegah nya untuk tidak menyerang Rian kembali.
"Kau yang brengsekk! Kau hanya mempermainkanku dengan kerja sama bodohmu itu!"
Bugh!
Biru kembali melayangkan pukulan ke arahnya, hingga Rian yang yang sudah terjerembab kini ambruk jatuh di lantai.
"Biru, udah ... Mending kita pergi aja dari sini!" Dara menarik lengan Biru, namun pria itu masih terpaku dengan kuat. Rahangnya bergemelatuk tegas dengan tatapan tajam ke arah Rian yang meringis dengan luka sobek di pelipis matanya.
"Biru ayo!"
Ucapan Dara bagai angin lalu, dia melepaskan tangan Dara sampai perlahan lahan turun. Ini tidak bisa dia biarkan begitu saja, kali ini dia tidak ingin mengalah lagi.
"Tunggu aku di sana Dara!" ucapnya dengan tegas dan juga dingin.
Dara pasrah, melihat semarah apa Biru saat ini. Dan percuma saja jika dia mencegahnya pun Biru tidak akan mendengarkannya.
Biru membungkukkan tubuhnya, berjongkok di depan Rian dan memegangi kerahnya dengan kencang.
"Asal kau tahu saja Rian, tadinya aku masih berbaik hati padamu dan ayahmu. Tapi melihatmu sekarang membuat kesabaranku habis. Jadi jangan salahkan aku!" desisnya dengan menghempaskannya dengan kasar.
Biru akhirnya bangkit berdiri lalu meghamiri Dara dan mengajaknya pergi. Meninggalkan Rian begitu saja.
Tidak ada yang keluar dari mulut Biru, dia membisu hingga mereka masuk ke dalam lift. Wajahnya terlihat dingin dengan urat urat menegang terlihat jelas.
__ADS_1
"Biru ...!"
"Maafkan aku Dara! Aku yang membuatmu dalam kesulitan, aku tidak memperhitungkannya saat itu."
"Aku gak apa apa kok!"
"Maaf ... Harusnya aku lebih berhati hati lagi, aku tidak ingin kau terluka sedikitpun."
Dara melingkarkan tangan di lengan Biru, menyandarkan kepala padanya. "Aku tahu ... Maaf karena semua ini salahku, andai waktu itu aku gak percaya padanya dan juga Papanya!"
"Jangan ... Jangan pernah menyesali apa yang sudah terjadi, karena tidak akan ada kita berdua di sini sekarang Dara!"
Biru benar, andai Dara tidak percaya ucapan Rian dan ayahnya dahulu, andai ayahnya juga tidak percaya mereka dulu, andai surat perjanjian itu tidak Biru tanda tangani, andai Rian tidak memaksanya menanda tanganu surat pembatalan pernikahan itu dan segala andai andai lainnya yang pernah terjadi mungkin mereka tidak akan pernah saling tahu perasaan masing masing.
"Kamu benar Bi!"
Dara mengangguk, melengkungkan bibir tipisnya sedikit. Mereka kini saling menatap dan perlahan Biru mendekatkan wajahnya.
Dara terkesiap, dia tahu apa yang akan dilakukan mantan suaminya yang kini jadi kekasihnya itu. Kedengarannya memang lucu, tapi itulah kenyataannya.
Ting
Keduanya mengerjap dengan pintu lift yang kini terbuka lebar.
"Arrrgghh!" desaahh Biru yang gagal melancarkan aksinya yang langka itu.
Dara terkekeh, menarik Biru dan melangkah keluar dari lift.
"Astaga ... Kau tidak apa apa kan Dara?" Sophia bergegas menghampiri keduanya. "Apa Rian menyakitimu?" tukasnya lagi.
__ADS_1
Dara menggelengkan kepalanya, melirik ke arah Biru dengan tersenyum.
Membuat Sophia pun melirik Biru. "Biru ... Terima kasih!"
Dara terkesiap, melirik keduanya dengan bergantian. "Mami ketemu Biru tadi, dia datang untuk mencarimu, dan beruntung dia datang tepat waktu."
Biru pun mengangguk anggukan kepalanya berulang kali. "Aku tepat waktu!"
Senyum Dara semakin lebar saat mendengarnya, bisa dia bayangkan jika Biru tidak datang saat itu terjadi dan entah apa yang akan di lakukan Rian padanya.
"Biru ... Maafkan Tante ya! Tante benar benar minta maaf padamu karena perlakukan Tante yang buruk selama ini padamu," ucap Sophia lagi.
"Tidak semudah itu minta maaf Tante ... Tante harus membayar semua perlakukan buruk yang Tante lakukan padaku!"
"Biru apaan sih?"
"Biru ...! Tante---"
"Tante harus berikan Dara padaku!" ucap Biru dengan kedua alis yang turun naik.
Dara memukul bahunya dengan keras, dengan rona merah di pipinya tidak mampu dia sembunyikan lagi. "Biru ...!"
Sophia pun tersenyum, memegang tangan Biru lalu mengangguk.
"Tante percaya kamu bisa melindungi Dara dengan baik!"
Biru terkekeh, merengkuh pinggang Dara dan lembut.
"Kau dengar itu Dara, sesuai janjiku ... Aku akan membawamu dengan restu kedua orang tuamu."
__ADS_1