Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.08(Penipu)


__ADS_3

"Dara .. Astaga!" teriak Sophia khawatir, "Ayo Pap ... Kita bawa putri kita ke rumah sakit." ujarnya lag li dengan wajah cemas dan tidak ingin terjadi apa apa terhadap putrinya.


Baskoro segera merogoh ponselnya dan menghubungi rumah sakit agar langsung mengirimkan ambulance datang saat itu juga. Sementara Biru melenggang dengan santai ke arah Dara lalu membungkukkan tubuhnya. Tatapannya tajam melihat ke arah Dara yang terlihat aneh.


"Kenapa kau harus berpura pura pingsan segala! Jangan main main, ayo bangun!" bisiknya pelan.


Dara menerjapkan kedua matanya dengan bibir yang bergerak gerak pelan."Berisik! Kamu lihat yang aku lakukan nanti!"


"Minggir, apa yang kau lakukan pada putriku! Dasar penipu, jangan coba coba mengancam putriku lagi atau kau akan rasakan akibatnya." sentak Baskoro yang mendorong tubuh Biru dengan kasar hingga dia hampir terjungkal.


Biru tersentak kaget, apa mungkin Dara sengaja melakukan hal ini agar dia di salahkan dan mereka bisa membatalkan pernikahan.


"Ayo pap .. Bawa Dara ke rumah sakit, kalau perlu kita lakukan visum. Mami gak mau tahu, kau harus tanggung jawab karena berani menipu keluarga kami."


"Aku tidak ..." Biru menggelengkan kepala. Mulai sadar dengan apa yang di katakan Dara tadi.


"Diam kau! Sudah tahu salah masih terus membela diri, sejak awal aku sudah curiga padamu, bahkan kedua orang tuamu yang tidak mirip denganmu, dan dugaan ku benar, kau berniat menipu keluarga kami yang sedang mendapat musibah. Keterlaluan!" ujar Sophia yang mengangkat kepala Dara dan menyandarkannya di pahanya sendiri. "Sayang ... Ayo Nak sadar Nak!" ujarnya lagi dengan menepuk nepuk pipinya.


Biru membasuh wajah melihat kelakukan Dara yang berhasil menipunya. "Astaga ...!"


"Apa. Jangan mencari alasan lagi! Kami bisa menjebloskanmu ke dalam penjara kalau kami mau." tambah Baskoro.


Tak lama Beberapa orang perawat masuk ke dalam unit apartemen yang di sewa Biru, disertai suara sirine yang terdengar nyaring di depan lobby.


Biru akhirnya hanya terdiam melihat mereka membawa Dara yang berpura pura pingsan, tidak ada yang bisa dia jelaskan, semuanya di luar dugaan. Nyatanya Dara lebih licik dibandingkan yang dia kira.


"Kau ternyata licik Dara, kau sengaja melakukannya!" ujar Biru saat melihat pintu tertutup begtu saja dan semua orang pergi.


Alex yang secara kebetulan keluar dari lift tanpa sengaja melihat mereka semua, namun dia tidak melihat Biru, hingga dia bergegas untuk menemui sahabatnya itu. Alex berlari menuju unit Biru tanpa ingin bertanya atau bersapa dengan keluarga Baskoro.


ceklek


Tanpa menunggu lama Alex langsung membuka pintu dan masuk. Terlihat Biru tengah melihat ke arah luar, dia bisa melihat Ambulance pergi membawa Dara yang pura pura pingsan.


"Apa yang terjadi dengan Dara?" tanya Alex dengan nafas terengah engah.

__ADS_1


Biru berdecak dengan sedikit tertawa. "Dia sudah menipuku Alex!"


"Hah?"


"Padahal aku berniat menolongnya, lihatlah. Kurang ajar sekali bocah itu, dia sendiri yang mengatakan untuk merahasiakannya selama satu tahun kedepan dan jangan membiarkan orang tuanya tahu. Dan sekarang, dia sendiri yang mengingkarinya dan mengatakan semuanya dan membuat orang tuanya datang kemari agar dia bisa pergi! Dan membuat mereka berfikir akulah yang menipu mereka!" terang Biru dengan jelas.


"Kau serius Biru?"


"Tentu saja, siapa lagi yang bisa melakukannya, dia pasti sengaja telah merencanakannya dengan pria pengecut ini. Mereka sudah mempermainkan aku!"


Alex menghela nafas, sejak awal dia memang tidak suka jika sahabatnya itu terlibat lebih jauh dengan Dara,


"Bukankah aku sudah bilang sejak awal jangan terlibat dengan urusan mereka, tidak usah berlagak seperti pahlawan. Tidak semua pahlawan dihargai. Kau faham!"


Biru menoleh ke arah Alex. "Lantas kau ingin aku diam saja sekarang?"


"Sudah pasti! Tapi aku tahu itu tidak akan membuatmu berhenti."


"Kau fikir aku akan membiarkan semuanya berbuat sesuka hatinya. Kau fikir aku akan diam saja dan menerima begitu saja saat aku yang meolong justru disebut penipu. Hah?"


"Apa yang akan kau lakukan. Lebih baik kita kembali ke rencana awal kita, kita pulang ke mari untuk berlibur kau ingat itu . Sudahlah ... Tidak perlu lagi diteruskan, biarkan mereka batalkan saja perihal nikah konyol mu itu sebelum keluargamu tahu dan mereka pasti menghabisimu jika tahu!"


"Hey ... Biru, kau mau kemana?"


"Rumah sakit!"


Dengan penuh amarah dia mengendarai motor sport hitamnya menuju rumah sakit, membelah jalanan yang cukup ramai dengan melesat, sementara Alex mau tidak mau menyusulnya pergi, dia tak ingin Biru berurusan lebih jauh dan membuat masalah lebih buruk lagi. Tapi sayang, Alex tertinggal jauh karena dia justru terjebak macet.


"Ah ... Brengsek, harusnya aku memakai motorku!" ujar Alex memukul stir kemudi.


***


Akhirnya Biru sampai di rumah sakit, namun dia tidak melihat satupun keluarga Dara di ruangan UGD. Sampai akhirnya dia harus bertanya pada bagian informasi mengenai Dara, dan akhirnya tahu jika Dara sudah berada di ruangan inap.


"Cih ... Brsandiwara sampai sejauh ini, aktingnya sangat bagus sampai dia dirawat padahal dia hanya pura pura pingsan saja." ujarnya dengan berjalan ke arah kamar yang di tuju, yang terletak di lantai 2 rumah sakit.

__ADS_1


Biru berjalan melewati lorong rumah sakit yang panjang, dan tersentak kaget saat melihat pria yang dia kenal berdiri di depan sebuah kamar. Namun tidak melihat Baskoro maupun Sophia.


Buru mengepalkan tangan, "Sudah aku duga, ini ada hubungannya dengan pria itu!" ujarnya dengan berjalan hingga sebuah tangan menahan lengannya dan membuat langkahnya terhenti.


"Apa yang akan kau lakukan itu? Ayo kita pergi saja Biru!"


"Tidak! Sudah aku bilang aku tidak akan biarkan mereka meremehkan aku Lex. Lebih baik kau pergi saja dari sini," Biru menepiskan tangan ALex dan kembali berjalan.


Rian tersentak kaget saat melihat Biru berjalan ke arahnya, sejurus kemudian dia berseringai.


"Aku tahu kau akan kemari! Bukankah saat menyenangkan jika kau di permainkan seperti itu. Sudah aku bilang jika aku yang akan bertanggung jawab pada Dara dan anak kami. Kau tidak perlu repot repot. Kau hanya mau uang saja kan?" ujar Rian berseringai


BUGH!


Biru langsung mendaratkan pukulan tepat pada rahang Rian, hingga dia meringis kesakitan dan hampir menabrak tembok di belakangnya.


"Selain pengecut kau juga licik, apa kau tidak tahu caranya bekerja sama dengan baik? Tidak perlu licik seperti ini!"


Dia menyapu ujung bibirnya yang sobek, lalu berdecak dengan tatap tajam ke arah Biru.


"Lalu apa yang kau lakukan, kau berpura pura bertanggung jawab pada sesuatu hal dimana kau tidak terlibat, apa kau ingin di sebut pahlawan hah? Pahlawan kesiangan. Jadi sekarang berhentilah, karena aku yang akan bertanggung jawab!"


Tiba tiba pintu di belakang Biru terbuka, Baskoro dan Sophia keluar dari kamar inap dimana Dara terbaring,


"Ada apa ini? Biru ... Kenapa kau kemari. Bukankah aku sudah bilang kau tidak perlu lagi datang dan sekalipun hanya menemui Dara, kau ini tidak tahu malu dasar penipu!"


Biru yang terus di remehkan berang dibuatnya, sudah berapa kalinya dia mendengar kata penipu di sematkan terhadapnya hari ini dari Baskoro dan juga Sophia. Sekarang sudah cukup dia mendengarnya, mereka tidak tahu siapa Sosok sebenarnya dari Biru dan tidak tahu bagaimana dia.


"Sekarang juga kau pergi atau kami akan menyuruh securiti menyeretmu keluar. Dasar penipu! Tidak tahu malu!"


Dengan cepat Alex menarik tubuhnya untuk segera pergi Walau dengan sudah payah membujuknya akhirnya dia bisa membawa biru.


"Jangan terlalu arogan, kita tidak bisa dekat dengan mereka seperti ini. Apa kau ingin temui Dara dan bicara padanya?" bujuk Alex.


"Jelas! Aku ingin memberinya pelajaran!"

__ADS_1


"Kalau begitu kita pergi lebih dulu!" ujar Alex dengan melingkarkan tangan pada bahu Biru. "Aku punya cara yang lebih jitu!"


"Jangan banyak bicara ... Katakan cepat!"


__ADS_2