Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.88(Panutanku)


__ADS_3

"Tapi bagaimana mungkin, mereka menyuruh orang yang bisa melakukannya dengan baik tanpa ada satu kesalahanpun." ujar Baskoro, membuat semua orang menoleh serempak ke arahnya.


Baskoro mendadak diam, terlebih saat tatapan BIru tajam padanya. Dia lupa jika anak yang kerap dia katakan penipu adalah seorang anak yang ternyata memiliki kekuasaan lebih dari pada Rian maupun Baskoro.


"Jadi kau bilang putraku berbohong?" kata Zian,


"Bukan ... Bukan seperti itu Pak, aku ... Aku senang hanya tidak menyangka saja jika mereka berdua masih menjadi suami istri, surat itu diambil dua bulan yang lalu, itu artinya harusnya kan___."


"Jadi kau menyangka putraku tidak bisa melakukannya, kau tidak percaya sesuatu yang buruk tidak akan terjadi jika sudah ada yang berkehendak??" tuduh Zian lagi.


"Dad .. Sudahlah!"


"Diamlah Bi, Daddy sedang bicara dengan besan Daddy. Kenapa dia masih meragukanmu padahal sampai detik ini kamu menerima semuanya, menerima putrinya dan mencintainya, dia tidak peduli dengan anak yang dikandung olehnya, dia juga tidak peduli siapa ayahnya dan apa yang seharusnya dilakukannya, bukankah kau berlebihan Bas ... Bukankah kau tahu seberapa kerasnya putraku bertahan, bahkan dengan bodohnya dia menyembunyikan siapa dirinya dan bersikeras mengatasinya sendirian. Tapi yang kau masalahkan hanya bagaimana bisa surat itu gagal di proses?" Zian marah, walaupun kemarahannya tidak meluap luap seperti Zian sewaktu muda.


"Dad! Sudahlah, Daddy hanya akan menambah masalah baru saja!" tukas Biru kesal melihat kemarahan ayahnya yang terlampau berlebihan itu.


Semua orang juga akan merasa heran jika surat yang mereka ajukan tiba tiba tidak bisa di proses lebih lanjut padahal Rian dan Prasetya menyewa orang yang mampu melakukannya dengan baik.


Zian bangkit, dia menatap ke arah Biru dengan tajam. "Kau memang bodoh Biru! Kau membiarkan mereka meragukanmu, dan kau tidak tahu Baskoro masih belum menerimamu dengan tangan terbuka setelah semua yang kau lakukan untuk keluarganya," ucapnya keras, melirik sebentar ke arah Dara dan langsung melirik istrinya, "Ayo kita pergi dari sini!"


setelah mengucapkannya Zian beranjak pergi begitu saja, dia keluar dari rumah Baskoro tanpa ingin lagi menoleh, Agnia terkesiap, begitu juga dengan Air. Mereka segera menyusulnya keluar dan meninggalkan BIru dan Dara juga Baskoro dan Sophia yang hanya bisa tercengang melihat kemarahannya.

__ADS_1


"Biar aku bicara pada Daddy! Berkemaslah, kita akan tinggal di apartemen dulu."


Dara mengangguk, melihat Biru keluar menyusul ayahnya, sementara dia menoleh pada Ayahnya sendiri.


"Pap ... Apa yang dikatakan Daddy nya Biru benar, Biru sudah mau nerima Dara dan anak ini yang harusnya bisa saja dia pergi gitu aja tapi Biru enggak Pap. Biru tetap menerima walaupun Dara tahu ini semua gak mudah buat Biru. Apa yang bisa diharapkan dari wanita yang hamil hasil pemerkosaan kayak Dara ini? Apa Papa gak pernah mikir gimana Dara bisa menemui keluarga Biru yang udah baik setelah ini Pap. Mereka semua nerima Dara dan gak peduli sekalipun Dara hamil anak orang lain. Kapan masalah ini akan selesai dan Dara bisa bahagia bersama BIru jika Papa sendiri terus menambah masalah?" ucap Dara yang langsung melenggang pergi, dia naik ke atas menuju kamarnya.


Sementara Baskoro hanya terdiam, begitu juga dengan sophia yang akhirnya masuk ke dalam kamar tanpa mengucapkan apa apa.


Biru masuk ke dalam mobil dan mengejar mobil ayahnya, dia harus bicara pada sang ayah yang terlihat kecewa pada Baskoro hanya karena kata katanya yang sedikit terkesan meragukan Biru, walau nyatanya Biru yakin Baskoro sudah berubah.


Mobil ayahnya berhenti di pelataran parkir, begitu juga dengan mobil Biru yang berhenti di belakangnya, dia segera menyusul kedua orang tuanya yang langsung masuk ke dalam rumah.


"Dad ... Aku perlu bicara!"


"Kau masih ingin membela mertuamu itu?"


"Dad ... bicarakan baik baik dengan BIru," Agnia mengelus lengannya dengan lembut. "Biru ... Bicaralah baik baik pada Daddy, Mami yakin kalian berdua bisa selesaikan kesalah fahaman ini,"


Agnia akhirnya memilih meninggalkan dua pria yang amat dia cintai itu, tanpa ingin melibatkan diri, mereka sama sama menyayangi tapi juga sama sama keras kepala, hanya mereka pua yang bisa berdamai tanpa ada campur tangannya.


Setelah melihat istrinya berlalu bersama putri keduanya, Zian barulah duduk di sofa, sedangkan Biru menyusulnya dengan duduk di sofa di sampingnya.

__ADS_1


"Daddy tahu aku mencintai Dara dan tidak peduli apapun mengenai masa lalunya?"


"Daddy tahu dan kau sangat naif, kenapa kau mencintainya sampai bodoh?"


"Apa Daddy tidak pernah merasa menjadi bodoh gara gara cinta?"


Zian mendengus mendengarnya, tentu saja dia pernah bahkan sangat lama menjadi orag bodoh karena cinta, tapi dia tidak ingin BIru mengikuti jejaknya. Melihat Biru yang bertanggung jawab pada sesuatu hal yang bukan tanggung jawabnya jelas meremukkan hatinya walau dia tahu seberapa tulus Biru, tapi melihatnya direndahkan dan di remehkan seperti tadi setelah semua yang dilakukannya membuatnya marah.


"Apa yang Daddy lakukan agar tidak lagi merasa bodoh? Melepaskannya atau terus menggenggamnya?"


"Jangan kau samakan karena itu lain persoalaan, yang jelas Daddy banyak mengambil resiko karena kebodohan Daddy itu. Daddy bahkan kehilangan kakek buyutmu, dan ujungnya Daddy juga kehilangannya."


"Aku tahu Daddy, Mami ceritakan semuanya, bahkan semua pengorbann Daddy untuk aunty Jasmine dan anaknya tapi mereka meninggal juga dan Daddy kehilangan orang orang yang daddy sayang, iya kan, Daddy juga kehilangan masa muda Daddy dan harus berjuang keras setelah kakek buyut meninggal. Tapi apa Daddy pernah menyadari semua kekecewaan Daddy mempertemukan Dadd sama Mami? Apa jika semua itu tidak pernah terjadi apa Daddy akan bertemu gadis seperti Mami yang Daddy bilang hebat? Apa Daddy sadar kebaikan hati Daddy dan semua yang Mami ceritakan membuat aku semakin bangga pada Daddy. Dan saat tahu bertemu Dara dan tahu jika dia sedang hamil karena ulah pria yang tidak bertanggung jawab, Daddy lah orang yang pertama kali muncul di fikiranku."


Zian hanya diam, dia tidak menyangka ucapan Biru menyayat sekaligus membuat hatinya menghangat.


"Jadi kau melakukannya karena kau ingat Daddy?"


"Daddy adalah panutanku, Daddy adalah supermen ku, sekalipun yang aku lakukan tidak akan pernaah berujung, sekalipun aku tidak pernah tahu akhir dari cinta ku pada Dara Dad. Aku ingin menjaganya seperti Daddy menjaga aunty Jasmine, hatiku juga tulus untuknya seperti tulusnyaa Daddy pada aunty Jasmine. Sekalipun semua keluarganya tidak suka atau hanya berpura pura suka atau hanya memanfaatkanku aku juga tidak peduli, aku akan membiarkannya selama aku bisa bersama Dara. Aku mencintainya Dadd ... Daddy tahu itu!"


"Ya ... Daddy tahu rasanya Bi, hanya saja Daddy marah melihatmu diperlakukan seperti itu," Zian menghela nafas, "Mungkin ini juga yang dirasakan kakek buyutmu dulu!"

__ADS_1


"Dad ... Jangan seperti itu, aku tidak mau Daddy sakit dan pergi seperti kakek buyut, Daddy harus lihat nama Biru mengudara lebih tinggi dibandingkan nama Daddy!" kelakar Biru dengan terkekeh.


"Kau berharap Daddy mati. Haah?"


__ADS_2