
"Istri anda masih harus kami pantau perkembangannya, karena itu silahkan ke ruang admin."
Suster kembali mendorong blankar dimana Dara masih terbaring, mereka membawanya ke ruang perawatan. Melihat hal itu Sophia pun menghampiri Biru.
"Nak Biru, Mami minta maaf karena terus merepotkanmu. Tapi Mami harap kamu mengerti situasi Dara yang sulit ini."
Biru mengangguk, tidak pernah terlintas sedikitpun jika dia akan berubah pada Dara karena situasi dan sikap Dara padanya.
"Mami tenang saja, sampai kapanpun Biru akan selalu ada untuk Dara dan putranya! Mami bisa temani Dara, aku akan mengurus administrasinya terlebih dulu!"
Sophia mengangguk, dia juga berpamitan pada Zian dan Agnia yang berada di belakang Biru lantas melenggang pergi.
"Biar aku yang mengurus administrasinya. Kau juga temani Dara saja di kamarnya." ucap Alex menawarkan diri.
"Tidak Lex. Biar aku sendiri yang mengurusnya!" Biru melenggang pergi, dia melewati pintu ruangan dimana Sophia masuk ke dalamnya. Alex pun hanya menghela nafas lalu menyusulnya.
"Anak itu benar benar bodoh!" gumam Zian kesal.
"Ya ... Dia sepertimu Daddy," Sahut Agnia yang juga melenggang pergi, dia memilih keruangan perawatan bayi.
Zian menyusulnya, dan berdiri disamping sang istri yang kini melihat lihat bayi dibalik kaca besar.
"Apa aku sebodoh itu dulu?"
"Hm ... Persis!" cicitnya tanpa mengalihkan pandangannya dari ranjang ranjang kecil bayi. "Yang mana cucuku...?" tukasnya lagi. "Ah ini dia ...." sambungnya lagi setelah melihat papan nama yang bertuliskan nama ayah dan ibunya.
"Tapi Dara lebih bodoh. Dia tidak melihat apa yang selama ini Biru lakukan untuknya dan juga anaknya? Dan yang terakhir, dia menyalahkan Biru atas kematian Baskoro! Aku akan bicara padanya nanti!" tegas Zian.
"Daddy ... Fahamilah Dara, aku juga akan melakukan hal itu jika jadi Dara, ini tidak mudah apalagi melahirkan di usia muda."
"Tapi kau tidak saat melahirkan Biru?"
"Astaga Dad ... Itu berbeda, aku ini dicintai dan mencintai, Biru adalah tanda cinta kita. Berbeda dengan anak bayi ini, dia dilahirkan berbeda. Daddy ngerti kan?"
__ADS_1
Zian hanya mendengus mendengar semua ucapan Agnia, situasi mereka memang berbeda dengan situasi Biru.
"Dan satu lagi, situasi ini akan sangat kacau kalau kita ikut campur Daddy. Biarkan mereka menyelesaikannya. Aku yakin Dara hanya perlu waktu saja. Dia pasti menyadari semua yang dilakukan Biru untuknya dan putranya." Ucap Agnia yang menempelkan jemarinya di kaca tepat di depan mesin inkubator dimana putra Dara tertidur.
Zian menghela nafas, selama ini sang istrilah yang selalu bisa meredam kemarahannya, apa yang dikatakannya memang benar. Sekalipun Biru sangat bodoh menurutnya, tapi dia pernah berada di posisi itu. Dan Dara hanya butuh waktu saja.
Dara sendiri masih dalam masa pemulihan dan perlu waktu untuk beristirahat. Setelah sadar, dia hanya terbaring menatap langit langit ruangan saja, bahkan Dara tidak bertanya apa apa tentang bayinya sendiri.
"Sayang kau mau minum?" tanya Sophia yang menyiapkan teh hangat untuknya.
Dara menggelengkan kepalanya. "Enggak!"
"Dara pasti haus, atau Dara mau makan? Kita makan ya, Dokter sebentar lagi akan kesini untuk memeriksamu!"
"Dara gak mau makan!"
Sophia menghela nafas, entah apa yang membuat sikap Dara jadi seperti ini. Tidak lama Biru memasuki ruangan dengan membawa satu buket bunga lily yang harum dan segar. Melihat Biru datang Sophia bangkit dan langsung menghampirinya.
Dara hanya diam, tidak sedikitpun melihat Biru bahkan tidak menyauti perkataan Ibunya sendiri.
"Bagaimana keadaanmu Dara?" kata pria berhidung mancung itu.
Dara bersikap dingin dan tidak peduli padanya, sampai Biru menggeser kursi dan menghempaskan bokongnya disana.
"Apa kau sudah melihat putra kita. Dia sangat tampan, pipinya gemuk dengan dua tangan menggeliat geliat. Sangat lucu!" selorohnya dengan wajah berseri.
Namun ucapan Biru justru membuatnya muak karena mengatakan jika bayi yang baru dilahirkannya sangat tampan. Itu sama halnya mengingatkannya pada ayah bayi yang tidak bertanggung jawab, hal itu juga yang membuatnya semakin sedih.
"Dara kau baik baik saja?" tanyanya lagi dengan sabar meski sikap Dara masih dingin padanya.
Biru melihat makanan miliknya yang sama sekali belum tersentuh sedikitpun, begitu juga obat yang belum dia minum.
"Kenapa kau belum makan Dara?"
__ADS_1
"Aku tidak lapar!"
"Kenapa kau terus bersikap seperti ini Dara, setidaknya kau tidak menyakiti dirimu sendiri. Kau baru saja selesai operasi. Harusnya___"
"Aku baik baik saja!" Sela Dara dengan sikap yang dingin.
"Dara ..., aku!"
"Aku bisa mengurus diriku sendiri Biru." ujarnya lagi.
"Aku menghargai keinginanmu Dara, tapi aku tidak mungkin membiarkanmu seperti ini! Kalau kau berfikir aku lah penyebab semua ini. Biarkan aku juga membantumu keluar dari situasi sulit ini. Aku akan tetap akan sabar dan tetap menemanimu." Biru memgambil satu mankok berisi bubur dan menyodorkan satu sendok bubur padanya. "Sekarang makanlah. Kau hanya akan membuat aku dan ibumu khawatir kalau kau masih juga belum mau makan dan minum obat ini!" tambahnya lagi.
Dara memang membutuhkan nutrisi yang cukup untuk segera pulih dan menyusui putranya. Dan Biru tidak mungkin diam saja melihat Dara, begitu juga dengab Sophia yang membantu menyiapkan makanan sehat dan obat yang telah siap untuknya.
Dara beringsut dengan susah payah, luka operasi caecar masih terasa sakit namun dia menahannya, menolak Biru yang hendak merengkuh kedua bahunya dengan langsung mengambil mangkuk dari tangan Biru. "Gak perlu, aku bisa sendiri!"
"Aku tahu kau bisa sendiri Dara. Tapi apa aku sangat khawatir padamu, kenapa kau terus seperti ini terhadapku?"
Dara mengaduk bubur didalam mangkuk. Dia lalu menyuapkan satu sendok ke dalam mulutnya tanpa ingin menoleh sedikitpun pada Biru yang terus mengajaknya bicara.
"Aku hanya ingin berjaga jarak aja, kau terlalu jauh terlibat dalam masalah di hidupku Biru!"
Biru tersentak mendengarnya, tapi dia masih bisa sabar dan mengerti keadaan Dara yang masih terguncang karena kematian Ayahnya dan juga pasca melahirkan yang dipastikan membuatnya sedikut trauma.
"Makanlah yang banyak, kita bisa bicarakan hal itu setelah kau benar benar pulih. Saat ini aku akan tetap di sini untuk menemanimu." ucap Biru, dia bangkit dan langsung keluar dari ruangan itu.
Sophia menghela nafas, dia juga merasa bersalah pada Biru atas sikap Dara. Kesalahan kesalahannya pada Biru yang sudah sangat baik pada sang putri dan mau menerima apapun kekurangannya.
"Biru benar sayang, kamu tidak boleh bersikap seperti itu padanya. Dia benar benar menerimamu dengan sangat baik Dara!" tukasnya dengan mengelus rambut Dara dengan lembut.
Namun Dara tidak menjawabnya. Dia justru memberikan mangkuk bubur itu pada sang Ibu.
"Dara udah kenyang!"
__ADS_1