
Dara terdiam diantara dua pria yang sama sama mengancamnya. Dia menatap Rian dengan tajam namun berakhir pada Biru yang mengerdikkan bahunya, seolah berkata jika semua terserah Dara saja, tapi semua ada bayarannya. Sejurus kemudian dia memejamkan matanya.
"Maaf Rian, sepertinya kita harus menunggu satu tahun sampai kontrak ku dengan Biru selesai, aku gak mau nambah masalah baru untuk keluarga ku lagi, aku gak mau ngecewain lebih banyak orang lagi."
Rian terperangah, dengan wajah terlihat kecewa dari seebelumnya. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa apa lagi. Sementara Biru berada di atas angin karena ancaman pada gadis yang menarik hatinya telah berhasil.
"Kamu udah terlambat. Jadi aku harap kamu ngerti situasi ini."
"Kau dengar itu?" ujarnya pada Rian. "Jadi bersabarlah selama satu tahun, itu tidak akan lama. Kau bahkan masih bisa bermain main dengan gadis lain selama kau mau."
Bruk!
Dara melemparkan bantal tepat pada ke arahnya, tidak ada sopan sopannya memang pada orang yang lebih tua, namun terlihat tidak masalah bagi Biru, justru hal itu membuatnya semakin gemas.
"Jangan bicara sembarangan!" desisnya dengan dua manik yang membola.
"Kau takut sekali rupanya terjadi apa apa pada pria pengecut ini!" Gumam Biru , membuat Dara semakin membola.
"Kau fikir aku akan membiarkannya, aku akan mengatakannya pada Ayahmu apa yang terjadi, sebelum semua semakin terlambat Dara! Dia ... Hanya akan memanfaatkan situasi ini saja!"
Rian mendengus, dengan jari telunjuk menunjuk tajam kearah Biru, tatapannya bak singa lapar yang siap menerkam kapan saja.
Setelah itu dia langsung berbalik arah dan melangkahkan kedua kakinya keluar. Namun secepat kilat Biru menghadangnya dengan merangsek kerah kemeja dan mendorongnya ke arah tembok.
"Saat kau lakukan hal itu, aku tidak segan untuk membunuhmu Rian Prasetyo!" ujarnya dengan rahang mengeras.
Rian tersentak kaget, kenapa pria di depannya itu tahu nama keluarganya. Tatapan tajam dari Biru bak pedang yang siap menghujam. "Kalau kau pria sejati, harusnya kau lakukan sejak awal tadi, kau batalkan pernikahan kami di depan semua orang tadi. Dan akui kesalahanmu di depan mereka, kenapa kau malah diam dan terus memperhatikan di saat kau memiliki peluang besar untuk melakukannya. Hah?" sentaknya lagi dengan tangan yang semakin merangsek kuat.
Dara terkesiap, dia lantas menarik lengan Biru sekuat tenaga walaupun dia tahu tenaganya tidaklah berguna.
"Biru. Jangan gila! Kamu gak bisa ngelakuin hal kayak gini. Lepasin dia."
Sekuat tenaga Dara berusaha melepaskan tangan Biru, semakin tajam tatapan Biru pada Rian, tak lama kemudian dia hempaskan tubuh Rian hingga membentur tembok.
__ADS_1
"Pergilah. Kita bicara nanti!" ucap Dara pada Rian, berusaha mendinginkan suasana.
"Baiklah Dara, aku akan menunggu mu sampai semua perjanjian bodoh kalian selesai! Tapi ingat aku tidak akan pergi kemana karena aku akan terus berada di dekatmu." ujarnya dengan merengkuh bahu Dara juga menempelkan tangan pada perutnya yang masih rata.
Dara terkesiap, dia mundur dua langkah ke belakang dengan sedikit takut.
Biru berdecih dan langsung menepis Rian dan mendorongnya keluar dari paviliun. "Pergilah sekarang juga. Kau merusak hari pernikahan!"
Alex menariknya keluar dan Biru Langsung menutup pintu paviliun.
"Gak usah so jagoan ya, kamu sama aja! Seenggaknya dia menyesali perbuatannya dan mau tanggung jawab, gak kayak kamu yang bisanya ngerampok orang dan memanfaatkan situasi." Dengus Dara.
Biru berpura pura tidak mendengarnya, walaupun dadanya bergemuruh menahan emosi karena Dara terus meremehkannya. Pria berusia 22 tahun itu justru merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dan membuat Dara semakin dongkol saat melihat dia hanya bersiul siul tidak karuan.
"Ih ... Amit amit! Dasar orang gila. Kenapa bisa ada orang kayak kamu itu, udah gak tahu malu, arogan, so pahlawan padahal tukang meras." sungutnya kesal.
"Terserah kau bicara apa Dara, bicaralah sesuka hatimu, kalau kau tidak suka, lakukan dengan caraku dan kita selesai, kalau tidak. Ya sudah. Selesaikan sampai batas waktu perjanjian yang kau inginkan. Simple bukan?"
"Bener bener gak tahu malu!" desis Dara dengan menatap tajam.
Dara yang kesal lantas membuka pintu dan pergi, dia juga membantingkan pintu dengan keras sampai membuat Biru kaget sendiri.
Setelah kepergian Dara, Alex masuk kedalam. Dia berdecak berkali kali dengan apa yang di lakukan sahabatnya itu, Alex tahu betul jika Biru tidak suka di remehkan orang lain, dia akan bertindak sesuka hatinya terlebih jika tidak menyukainya. Namun kali ini Biru terlihat berbeda, terlihat ingin terus berurusan dengan Dara.
"Apa kau sudah gila, kenapa bertindak sampai sejauh ini. Jangan bilang kau menyukai gadis tempramen itu?" ujarnya tanpa basa basi.
"Carikan aku tiket pesawat untuk 3 hari lagi, cari yang biasa, tidak mahal dan tidak juga murah. Yang biasa saja!" ujarnya dengan kembali bangkit dari ranjang, membuka kemeja putih yang di kenakannya lalu menggantinya dengan t-shirt berwarna putih.
"Hey ... Aku sedang bicara dengan mu!"
"Lakukan saja Alex, kalau bisa secepatnya."
"Kau gila! Apa kau akan membawanya pulang? Lalu bagaimana dengan orang tuamu yang tidak tahu apa apa? Kau mau mengenalkannya langsung. Membuat mereka kaget dan shock lalu sakit. Astaga ... Benar benar gila."
__ADS_1
Biru berbalik ke arahnya, "Kalau aku gila, berarti kau sebentar lagi juga akan ikut gila karena berteman denganku."
"Terserah kau saja lah! Asal kau dan keluarga kau bahagia!"
"Jelas, keluargaku yang paling bahagia. Ahk aku merindukan mereka." ujar Biru terkekeh.
"Sinting!"
Sementara sanak keluarga Baskoro kini sudah mulai berkurang, satu persatu dari mereka pulang, terlihat Rian terus mendampingi Baskoro kemana pun dia pergi.
"Apa Om tahu siapa pria yang menikahi Dara Om?" tanyanya.
Baskoro sedikit berdecak, "Hanya putra seorang pengusaha kayu dari satu daerah kecil! Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa dia membuat masalah padamu?"
Rian tampak berfikir, lalu menggeleng kecil.
"Apa setelah ini Om akan mengirim mereka keluar negeri?"
Baskoro menolehkan kepalanya. "Tentu saja tidak, terlebih dengan pria yang bahkan aku ragukan apa dia bisa memberikan hidup yang layak buat Dara atau tidak!"
Terlihat Rian tersenyum dengan kepala yang dia angguk anggukan.
"Maaf Papa mertua, tapi aku akan membawa Dara ke luar negeri!!" seru Biru yaang tiba tiba datang dan mengagetkan mereka berdua.
"Kau gila!" desis Rian.
"Aku tidak akan mengijinkannya!" ujar Baskoro, "Aku menerimamu menikahi putriku karena dia sudah kau buat hamil, tapi bukan berarti aku menerimamu sebagai menantuku yang pantas!"
Rian berseringai, seolah mendapat dukungan penuh dari Baskoro secara tidak langsung, dan Biru menyorotnya dengan tajam.
"Lalu siapa yang pantas. Apakah hanya dia?"
.
__ADS_1
.
Biru kek bapaknya enggak sih. Sok jagoan banget dia. Wkwkwk ...