
"Mana bisa gitu!" Dara menyalak galak, lupa jika Biru akan lebih seram jika marah.
Namun entah kenapa Dara lebih suka jika mendebat pria berhidung mancung itu, dibalik sikap galaknya dia bisa melihat sifat perhatian perhatian kecil yang tidak diperlihatkannya secara terang terangan tapi terasa secara tidak langsung.
Buktinya Biru baru saja menghalanginya agar tidak menabrak pintu kaca, bahkan saat kemarin dalam keadaan marah pun justru memberinya makan walaupun dengan cara yang kasar.
Biru menajamkan tatapannya ke arah Dara yang tidak ada kapoknya membuat dirinya kesal.
"Bisa dan harus bisa, itu pun kalau Papamu ingin aku datang dan menyelamatkan wajahnya lagi. Bukankah ini bisnis?"
"Kau!" desis Dara.
Biru semakin mendekatkan tubuhnya, membuat Dara terhimpit semakin sempit. Gadis itu bisa mencium aroma tubuhnya yang wangi, dan lagi lagi tidak membuatnya mual.
Aneh, cuma parfum Biru dan harum tubuhnya yang gak bikin aku mual. Dasar, apa kau juga suka pria ini yang jadi ayahmu dibandingkan ayah kandungmu sendiri. Batin Dara berkomunikasi dengan anak dalam perutnya.
Tatapan Biru tidak berkedip, dia sedikit memiringkan wajahnya ke arah kiri dan membuat jantung Dara berirama kencang, dia tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria sebelumnya. Bertatapan langsung bahkan dapat merasakan embusan nafas Biru yang hangat.
Dara terdiam, sedikit menundukkan kepalanya namun Biru mencapit dagunya hingga kembali saling menatap.
"Kau tidak sedang menunggu aku menciummu di sini bukan?" Biru berseringai, suka sekali menggoda Dara.
Dara terkesiap, memukul dadanya namun Biru lebih cepat menangkap tangannya.
"Aku tidak pernah suka di sentuh! Tapi karena kau berhutang banyak padaku, aku ijinkan kau menyentuhku sesukamu." Ujar Biru kembali berseringai jahat.
"Kamu! Ih ... Lepas gak, kalau gak aku teriak."
"Teriak saja, mereka hanya akan berfikir kau norak karena berteriak saat sedang bersama suamimu!" Ucap Biru membuat Dara kesal.
"Biru!" Dara mungkin sebentar lagi akan menangis. "Hubungi Papamu atau tidak sama sekali!" Biru kali ini mundur dan melepaskan Dara begitu saja setelah melihat gadis itu sudah hampir menangis. "Dan jangan cengeng karena aku tidak akan mudah di tipu lagi!"
Ting
Pintu lift terbuka dan Biru langsung melangkah keluar meninggalkan Dara begitu saja.
__ADS_1
"Sialan! Awas aja ... Lain kali aku gak akan biarin kamu seenaknya kayak gini, so di butuhin banget jadi orang, padahal dia sendiri untung banyak!"
Biru masuk ke dalam unit apartemen dan memastikan jika Dara tidak mengikutinya kali ini. Pria itu langsung menghempaskan tubuh ke atas ranjang dengan tertawa.
"Dasar bodoh! Baru di gertak begitu saja sudah mau nangis!"
***
Satu jam kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan gedung apartemen. Dara berlari ke arah mobil dan menunggu kedua orang tuanya keluar.
Saking ingin menyelamatkan muka di depan rekan bisnisnya Baskoro dan Sophia sampai datang sesuai keinginan Biru.
Walaupun keduanya kesal bukan main karena Biru pintar mengambil kesempatan dan memanfaatkan mereka.
"Mana anak kurang ajar itu? Benar benar berani sekali mempermainkan aku!"
"Sudah Pap ... Mami bilang juga apa, lebih baik Rian kemana mana. Biru sepertinya senang mempermainkan kita." timpal Sophia yang juga sama kesal dengannya.
Mereka akhirnya masuk ke dalam apartemen, berjalan ke arah lift guna menuju unit yang di sewa Biru dilantai 3. Sophia terus menggerutu kesal dan kemarahan Baskoro terlihat di wajahnya.
Dara akhirnya mengetuk pintu, tak lama pintu terbuka dan Biru muncul dengan berseringai tipis.
"Biru ... Apakabar? Maafkan Tante dan Om, itu karena ketidak tahuan kami. Tapi Dara sudah menceritakan semuanya pada kami ... Maafkan tante sekeluarga ya." Sophia merangsek masuk, raut wajahnya berubah dengan cepat.
Membuat Dara tercengang melihatnya, akting bagusnya rupanya keturunan sang Ibu. Sementara Baskoro masih terdiam, masih enggan berbasa basi namun terlihat memaksakan diri.
Pria paruh baya itu mengulurkan tangan ke arahnya, dengan segaris tipis yang dia perlihatkan.
"Biru ... Kembalilah pulang ke rumah. Kami sudah tahu dan kami memutuskan untuk mengikuti keinginan Dara." ujarnya menjabat tangan Biru. "Kau boleh minta apapun dari kami sebagai bayaranmu Biru!" ujarnya lagi.
Biru berdecih, masih soal uang dan uang yang dibicarakan Baskoro yang sebenarnya tidak dia butuhkan sama sekali.
"Benarkah?"
Baskoro mengangguk, "Tentu saja. Apa yang kau inginkan?"
__ADS_1
"Ijinkan aku bekerja di perusahaanmu Papa mertua."
Baskoro terbeliak, merasa tidak yakin memasukkan Biru dalam jajaran perusahaannya sedikitpun. Dara pun bereaksi yang sama, bahkan dia sangsi jika Biru mampu bekerja atau tidak.
"Kerjaanmu main game mulu, mana bisa kerja! Udahlah jangan aneh aneh deh ... Minta tuh yang masuk akal aja kenapa sih? Duit aja udah yang pasti pasti aja," cibir Dara.
Biru kembali berseringai, "Bukankah kita sedang berbisnis ... Papamu memanfaatkan aku, aku juga tidak terlalu memalukan begini, aku tampan dan aku wangi. Jadi apa salah kalau aku kerja, toh kau bilang aku tidak memiliki pekerjaan bukan. Dan selama satu tahun aku harus menafkahimu."
"Gak usah ... Gak usah, lagian masa duit aku balik ke aku juga, kan gak lucu."
Biru menghempaskan tubuhnya di sofa, sejurus kemudian mengangkat satu kaki dan menopangnya. "Semua terserah kalian. Simple bukan? Tapi jangan harap aku juga mau membantu kalian, aku akan tetap tinggal di sini, dan sewaktu waktu kau yang aku bawa kemari istriku!" ucapnya dengan kedua alis naik turun menatap Dara.
Sampai akhirnya mau tidak mau Baskoro harus mengijinkan Biru bekerja di perusahaan miliknya. Biarlah jadi urusan nanti, yang pasti saat ini Biru bisa membuat semuanya aman tanpa relasinya tahu yang sebenarnya.
Biru tentu saja senang, itu yang dia harapkan dan kedatangannya di acara makan malam memang membuat Baskoro bisa tampil percaya diri tanpa takut aibnya diketahui oleh orang lain.
Acara makan malam pun tiba, rekan bisnis Baskoro pin datang bersama keluarganya. Entah bisnis apa yang sedang di usahakan Baskoro saat ini, yang pasti membuat Biru di untungkan dari arah manapun.
"Gak usah kesenengan karena tujuanmu tercapai ya! Ingat semuanya hanya akan kamu dapatkan dalam satu tahun!" Bisik Dara pada Biru yang terlihat senang saat acara makan malam yang terlihat seperti family gathering itu.
"Tenang saja, justru ini hanya akan jadi permulaan saja!" Jawabnya dengan singkat, membuat Dara mengernyitkan dahi.
Sepasang suami istri yang berada di hadapannya terus memuji Biru, ketampanannya, tutur katanya bahkan caranya bersikap pada keluarga Baskoro. Tak ayal membuat Baskoro kesal karena Biru justru menjadi pusat perhatian bagi rekan bisnisnya sendiri.
"Sepertinya menantumu ini bisa di andalkan, aku tertarik mengajaknya bekerja sama!"
Baskoro tersentak, sebuah kebetulan karena Biru baru saja mengatakan hal itu sebagai syarat. "Benarkah? Tapi dia masih belum bisa berpengalaman."
Biru terkekeh, lambat laun menggenggam jemari Dara yang duduk di sampingnya dan membuatnya tersentak namun tidak mampu melakukan apa apa selain tersenyum.
"Betul Om ... Tante ... Aku masih belum berpengalaman kecuali membuat anak! Iya kan sayang?"
.
.
__ADS_1
Biru licik juga wkwkwk... Hayo bakal ada apa ya, othor bikin ribet begini sih ya.
Makasih banyak buat kalian yang udah dukung Biru.