
Dara menatap wajah Biru yang tengah tidak sadarkan diri karena efek minuman, setelah mendapati amplop berisi uang darinya yang nyatanya tidak pernah Biru gunakan sedikitpun.
Hatinya masih berdebar debar saat melihat Biru, terlebih saat Biru mengirimkan pesan singkat padanya setelah hampir dua minggu mereka tidak pernah berkomunikasi bahkan bertemu lagi.
Dara juga melihat kartu kartu yang Biru miliki, merasa aneh karena pria itu memiliki kartu hitam tanpa batas di dompetnya.
Dara menghela nafas, menyimpan kembali dompet Biru ditempatnya semula. Semua nya sudah percuma saja saat ini, tidak ada hubungan lagi di antara keduanya walaupun hanya sekedar pura pura.
"Dara!" lirih Biru dengan memegang pergelangan tangan Dara saat gadis itu hendak berbalik. "Jangan pergi!"
Dara tersentak, langkahnya terhenti saat itu juga. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan saat ini. Saat Biru mengerjapkan kedua mata dan menatap punggungnya.
"Maaf ... Aku harus pergi! Lepaskan aku!"
"Kenapa aku harus melepaskanmu Dara. Nyatanya selama ini aku tidak pernah memegangmu! Kita bersama karena keadaan dan harus berpisah karena keadaan."
"Kamu benar, jadi gak ada alasan kamu nyuruh aku untuk tetap di sini!" sahut Dara dengan menggigit bibirnya. "Kecuali kalau kamu ingin aku membayar konsekwensi dari kontrak pernikahan kita!" ucapnya lagi dengan membalikkan tubuh ke arahnya.
Ada sesuatu yang sulit mereka ungkapnya, sama sama memiliki satu alasan kuat dan memilih tidak mengungkapkannya.
"Aku tidak tahu apa yang udah kamu dapatkan dari semua ini, yang pasti itu lebih menguntungkan."
"Aku tidak mengerti apa kau katakan Dara!"
"Sudahlah ayo kita selesaikan perjanjian kita dari awal!" ucap Dara lagi dengan menatap dua manik hitam Biru.
"Dara!"
"Aku gak mau berhutang, ayo kita jalani hidup masing masing setelah ini!"
Biru beringsut bangkit dan merubah posisinya menjadi duduk di tepian ranjang dengan tetap menatap Dara yang berdiri didepannya.
"Apa maksudmu Dara?"
Dara membuka jaket yang dikenakannya dan melemparkannya begitu saja, berlanjut membuka dress floral tanpa lengan miliknya dengan perlahan lahan. Jangan ditanya seberapa berdebar jantungnya saat ini, dia sangat takut namun inilah yang bisa dia lakukan untuk terakhir kalinya.
"Dara!"
__ADS_1
Dress floral setinggi lutut kini sudah melorot ke lantai, dan kini hanya kain penutup dada dan juga kain berenda yang menutupi bagian bawahnya saja.
Biru membungkukkan tubuhnya guna mengambil dress milik Dara yang teronggok di lantai dan bangkit menutupi tubuh Dara.
"Pakai kembali pakaianmu Dara! Kontrak kita sudah berakhir dan aku tidak menuntutmu untuk melakukannya. Aku tidak melakukan apapun yang akan mengganggu hidupmu bukan? Pergilah dan terima kasih karena sudah membawaku kemari."
Tubuh Dara bergetar hebat, tanpa rasa malu sedikitpun dia menawarkan diri seperti seorang ja lang dan menerima penolakan.
"Tapi ....!"
Biru mengambil dompet miliknya dan mengeluarkan amplop berisikan uang pemberian Dara dan menyimpannya diatas meja.
"Kontrak itu hanya alasanku saja. Aku tidak pernah memanfaatkan musibah dirimu. Aku juga tidak pernah mengambil keuntungan dari keluargamu. Kau ambil kembali uang ini. Aku tidak membutuhkannya." ungkap Biru.
Dara memegang dress yang menutupi sebagian tubuhnya dengan erat, dan tiba tiba kedua matanya mulai terasa perih saat mendengar apa yang di katakan Biru.
"Terus apa maumu Biru? Apa yang kamu dapatkan dari papa. Mereka memberikanmu sebuah apartemen dan memberimukan uang yang banyak!"
"Aku tidak pernah tahu hal itu!"
"Kamu bohong, aku melihat bukti pengirimannya masuk ke dalam rekeningmu sendiri!"
"Aku tidak bohong Dara. Aku tidak tahu hal itu dan aku tidak peduli sama sekali."
"Kamu benar benar beranda lan! Papa gak mungkin bohong! Aku melihatnya sendiri."
Biru mengambil ponsel miliknya dan memeriksa mobile bangking. Dia tidak tahu berapa jumlah yang dikirim Baskoro sebab saldo miliknya saja sudah banyak.
"Sial aan!!" gumamnya karena melihat saldonya yang entah banyak atau semakin banyak, lalu mengecek mutasi pemasukan di dalamnya dan tercengang melihat sejumlah uang masuk dari Baskoro.
"Benar benar ada kan?"
"Aku tidak pernah tahu Dara. Aku bersumpah, aku ..."
"Sudahlah, ayo lakukan saja malam ini. Agar kita benar benar menepati janji kita Biru!"
"Kau benar benar ingin melakukannya denganku karena kontrak itu?" Suara Biru mulai meninggi dari sebelumnya.
__ADS_1
Dara terdiam, menggigit bibirnya sendiri. Keduanya saling beradu pandang dalam diam, Biru melemparkan ponsel miliknya begitu saja.
Srek!
Lalu pria itu menarik kembali dress yang menutup tubuhnya yang sudah tidak karuan lalu mendorongnya ke arah ran jang tempat tidur.
"Baiklah ... Ayo kita lakukan agar tidak ada lagi urusan diantara kita. Selesaikan malam ini dan lakukan semaumu Dara!" ujar Biru dengan membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakannya.
Dia langsung ikut naik, mengungkung tubuh Dara yang berada di bawahnya. Menatap bulir bening yang turun dengan perlahan lahan dari kedua matanya.
Hembusan nafas Biru menerpa wajah Dara, sekian lama keduanya hanya saling menatap saja. Dengan dada turun naik dan berusaha mengontrol dirinya sendiri.
"Aku menyukaimu Dara, aku mencintaimu tanpa alasan. Dan aku ... Aku tidak bisa melakukannya!" ucapnya kemudian kembali bangkit dan mengenakan kembali kemeja miliknya.
Walau dalam pengaruh minuman, namun kesadaran Biru cukup stabil. Dia tidak melakukan hal hal yang akan merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.
Dara tersentak menatapnya. "Terus kenapa kamu mengajukan pembatalan pernikahan kalau kamu cinta sama aku! Kenapa?"
"Aku melihat tanda tanganmu ada di sana! Bukankah kau sendiri yang inginkan itu? Ahh ... Aku lupa kalau semua keluargamu yang memaksaku melakukannya!"
Dara semakin tersentak, dia bahkan tidak ingat kapan dia menanda tangani surat itu, secepat kilat dia bangkit dan menarik selimut guna menutupi pakaiannya. Lagi lagi dia merasa di tolak, tapi yang kedua kali ini merasa lebih sakit lagi.
"Kenapa kamu gak usaha. Kenapa kamu nyerah gitu aja hanya karena di ancam mereka!" sentak Dara marah.
Entahlah, kenapa harus marah padahal itu hanya kontrak. Apa yang terjadi selama ini hanya pura pura, tapi kemarahannya muncul setelah Dara sadar jika dia merasakan hal yang sama dengan apa yang di rasakan Biru.
"Pergilah, percakapan kita sudah tidak ada gunanya. Kau akan menikahi pria yang sudah sepantasnya kau nikahi. Semoga kau bahagia!" Ujar Biru dengan berjalan kearah pintu keluar.
Dara terdiam menatapnya berjalan menjauh, merasakan hal yang semakin aneh saat melihat Biru pergi.
Seketika Dara berlari ke arahnya dan langsung memeluk tubuh Biru dari belakang, kedua tangannya membelit pinggang Biru dengan suara isak yang terdengar lirih.
"Tunggu Biru!"
.
.
__ADS_1
Tahan tahan ... Masih puasa wkwkwkw,