
"Kenapa aku harus mengambil hati mereka Alex? Mereka yang harusnya mengambil hatiku! Kau fikir semua orang tua itu benar dan wajib dibenarkan? Aku akan menghormati keduanya tapi ada yang harus mereka bayar padaku terlebih dahulu!"
"Bi ... Kau keras kepala sekali!"
"Ya ... Itu aku!"
Biru bangkit dari duduknya setelah melihat Dara dan Sophia berjalan ke arahnya. Sepertinya mereka sudah selesai dengan makan malam yang sangat terlambat itu.
"Kau sudah mengurus Rian?" tanyanya pada Alex.
Alex mengangguk, dia bukan lagi sebatas sahabat tapi juga sebagai seorang asisten yang harus mengurus hal ini dan itu. Bukan hanya pekerjaan saja tapi hal lainnya.
"Baguslah!" cicitnya dengan tersenyum.
Dara menghampirinya, wajahnya lebih cerah dan terlihat bahagia, tentu saja karena saat ini Dara merasa hidupnya sudah lebih baik lagi.
"Kau sudah kenyang?" tanya Biru.
Dara mengangguk. "Kenyang banget, apa kamu udah nemuin Papa?"
Biru yang kali ini mengangguk, "Sudah, tapi Papamu sedang istrihat dan aku tidak mau mengganggunya lebih lama. Tapi kami sempat bicara sedikit."
Dara mengangguk lagi. "Makasih!"
"Biru, terima kasih karena kamu sudah baik pada Dara, Tante dan juga Om. Sekali lagi terima kasih!" tambah Sophia.
"Sama sama Tante! Tidak perlu sungkan."
Sophia tidak hentinya tersenyum pada Biru lantas masuk ke dalam ruang inap untuk melihat suaminya.
"Sophia ... Aku ingin pulang hari ini!" tukas Baskoro saat tahu sang istri masuk.
"Lho kenapa Pap ... Dokter belum mengijinkan Papa untuk pulang."
Baskoro menjadi tidak sabar, "Pokoknya hari ini aku ingin pulang, urus kepulanganku hari ini Sophia."
Dara masuk ke dalam, melihat ayahnya yang berusaha bangun dari atas ranjang.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Papa mu ingin pulang hari ini juga! Tapi Dokter belum ada yang memberikan izin pulang untuk Papa hari ini." jawab Sophia.
"Pap...." Dara mendekat ke arahnya bertepatan dengan Biru yang masuk.
Baskoro meliriknya masuk lalu dengan cepat bangkit. "Pokoknya Papa ingin pulang!"
"Bagaimana kalau aku bicara pada Dokter, apa Om bisa pulang hari ini atau tidak!" Sela Biru.
Ketiganya menoleh ke arahnya sementara Biru kini tersenyum, tak lama dia merogoh ponsel miliknya dan menghubungi seseorang.
Dara tidak tahu kekasihnya itu bicara dengan siapa, tidak lama Biru kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
Tidak lama Dokter masuk, melirik sebentar pada Biru yang berdiri di depan pintu lalu langsung menghampiri Baskoro.
"Ku dengar kau ingin pulang sekarang? Apa kau merasa lebih baik saat ini?" tanyanya dengan mulai memeriksa Baskoro.
"Betul Dok, suamiku memaksa ingin pulang hari ini. Aku khawatir padanya, ini kedua kalinya penyakitnya kambuh saat di rumah."
"Aku mengerti, sekarang kita lihat seperti apa kondisimu lebih dulu yaa." Dokter masih terus memeriksa Baskoro, juga memeriksa selang infus yang menggantung di tiang.
"Gimana kondisi Papa Dok?"
"Cukup bagus, butuh waktu sehari dua hari dan menunggu kondisinya benar benar stabil!" ucap Dokter.
Dokter menoleh pada Biru lalu mendengus kasar. Sementara Baskoro terlihat kaget mendengar ucapan Biru yang seolah terdengar mencibirnya. Dara menatap dirinya, lalu menatap dokter bernama Irsan itu. Dia melihat namanya menggantung di bagian jubah putih yang dikenakannya.
"Apa kondisi Papa bagus dan bisa pulang hari ini?"
"Sudah ... Beri ijin Om Baskoro pulang Dok! Kenapa di tahan tahan, biaya rumah sakit sangat besar dan membengkak!" seru Biru, tentu saja membuat semua orang terbeliak. "Lagi pula pasien sudah lebih segar bukan."
"Biru!"
Dara terperangah, menatap ke arah Dokter dan juga Biru yang berani bicara itu dan mendahului diagnosa Dokter itu sendiri, begitu juga dengan Baskoro dan Sophia.
"Oh ayolah Uncle Irsan ... Tunggu apa, jangan membuat pasien kesal, dia calon mertuaku!"
"Apa ... Uncle?" cicit Dara, Baskoro dan Sophia terlihat semakin kaget saja mendengarnya.
Dokter terlihat menghela nafas, lalu menyuruh seorang suster membuatkan surat kepulangannya.
__ADS_1
Dokter keluar dengan wajah yang tentu saja kesal, dan Biru langsung menyusulnya.
"Terima kasih Uncle Irsan, uncle the best forever!" ujarnya dengan mengacungkan kedua jempol ke arahnya.
"Kalau saja kau bukan anak dari Zian, aku akan memukulmu. Kau sama persis dengannya!" dengus dokter itu dan berlalu pergi.
Tidak lama Dara menyusulnya keluar dan menghampirinya.
"Kamu panggil dia uncle. Apa dia benar benar uncle?" tanyanya dengan menggerakkan kedua jarinya seperti tanda kutip.
"Dia profesor dokter, pemilik rumah sakit. Aku heran kenapa dia belum pensiun!" ucapnya tersenyum.
Sementara Dara terpana, menatap Biru yang bicara tanpa peduli apapun, terlihat sombong tapi memang itulah kenyataannya dan Biru memang seseorang yang pantas.
"Ayo ... Bantu ayahmu berbenah! Dia tidak sabar ingin kembali pulang."
"Aku justru heran kenapa Papa ingin buru buru pulang!"
"Aku tidak tahu. Apa kita tanya saja langsung padanya. Tapi aku rasa ayahmu juga tidak akan bicara alasannya apa, iya kan? Jadi lebih baik kita turuti saja kemauannya. Hm?" ucapnya menahan tawa.
Padahal Biru tahu jika Baskoro masih kesal padanya dan tidak ingin berlama lama di rumah sakit karena biaya rumah sakit ditanggung Biru. Semakin lama dia akan berhutang semakin banyak dan takut Biru meminta bayaran yang tidak tidak.
Sepanjang perjalanan pulang Baskoro terlihat lebih pendiam dari biasanya, dia hanya menatap ke arah ruas jalan tanpa ingin bicara sekalipun dengan sang istri yang duduk di sampingnya.
Dara yang duduk di depan pun sesekali menoleh ke arah belakang belakang, pun dengan Biru yang kali ini memilih mengendarai mobil miliknya sementara Alex dan dua pria mengikutinya dari belakang dengan membawa mobil Dara.
Biru sengaja menyerang mental Baskoro dan membuatnya malu dibandingkan melakukan hal dengan kekerasan. Dia hanya ingin Baskoro merasakan bagaimana rasanya jadi Biru yang selalu di remehkannya dulu.
"Om ... Apa Om baik baik saja?" tanya Biru dengan meliriknya dari spion kaca. "Om terlihat masih pucat lho, apa sebaiknya kita kembali ke rumah sakit saja?"
"Tidak!"
Dara menoleh ke arah belakang dan melihat ayahnya. Dan benar apa yang dikatakan Biru kalau saat ini wajah Baskoro sangat pucat.
"Biru benar Pap ... Harusnya Papa tidak memaksa kan diri kayak gini, Papa itu masih belum sembuh total. Gimana kalau di rumah kambuh lagi."
"Aku tidak mau! Kita tetap pulang."
"Jangan keras kepala Om ... Nanti Om hanya akan menyusahkan anak Om ini, Iya kan Tante? Om tenang saja, tidak perlu memikirkan biaya rumah sakit yang besar itu. Aku akan mengurusnya!"
__ADS_1
Sophia melirik sebentar pada Biru lalu kembali melirik suaminya yang terlihat menahan diri.
"Sayang ... Kau tidak apa apa? Apa sebaiknya kita kembali saja. Biru benar, dia pasti akan membantu kita!"