Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.65(Iri)


__ADS_3

Dara terperangah bukan main, dia hanya mengatakan kalau dia akan menemani Air untuk nonton bioskop, sebagai anak yang masih bisa di bilang remaja tentu saja Dara tahu bagaimana cara menonton di bioskop.


Membeli pop corn dan cola di dalam bioskop bisa dikatakan kewajiban saat hendak nonton.


"Air ... Kita hanya akan nonton berdua saja?"


Air mengangguk, "Memangnya ada lagi yang ingin kak Dara ajak. Ajak saja!"


Siapa yang bisa aku ajak, semua temanku sudah sibuk dengan segala urusan mereka, bahkan ada yang kuliah di luar negeri. Teman teman yang dulu dekat juga sekarang hilang gitu aja. Tapi ini memang berlebihan, kita hanya nonton berdua tapi mereka langsung menyewa satu studio. Batin Dara.


Air yang berjalan menuju kursi dengan nomor yang tertera di tiketnya menoleh pada Dara. "Kak Dara ... Ayo!"


Dara hanya mengangguk, padahal mereka bisa saja duduk di manapun yang di inginkan tapi Air benar benar mencari nomor tiketnya dengan sesuai.


Dara juga hidup dengan nyaman selama ini, orang tuanya cukup kaya untuk memberikan apa yang dia mau. Tapi saat berhadapan dengan Air dia merasa sangat kecil, hidup mereka nyatanya jauh diatasnya sementara Dara kerap menganggap Biru adalah seseorang yang tidak mampu secara finansial.


Biru juga tidak ikut dengan mereka, dia harus membantu sang ayah mengurus sesuatu yang entah apa itu Dara pun tidak tahu.


"Kak Dara umurnya berapa?" tanya Air.


"19 tahun!"


"Hah ... Cuma beda 3 tahun sama aku ternyata." ujar Air terkekeh.


Sementara Dara sendiri merasa tidak enak, mereka sama sama masih muda dan hampir sepantaran tapi nasibnya justru kurang beruntung.


"Ya ampun Kak Dara. Maaf ... Aku gak bermaksud nyindir kak Dara kok! Maksudku kita cuma beda 3 tahun ya, aku fikir kak Dara seumur kak Biru!"


"Jadi maksudmu aku udah tua?" Dara terkekeh, Air nyatanya sangat baik dan juga lembut hatinya.


"Ya ... Enggak gitu juga!"


"Gak apa apa Air, aku bercanda. Makasih ya udah mau nerima aku! Semua keluargamu sangat baik. Aku jadi malu ... Aku juga bersyukur untuk itu. Gak ada yang mandang aku rendah!"


"Ya ampun Kak ... Emangnya kita beda apanya sih, sama sama manusia kok, Kak Dara makan nasi aku juga sama!" Air terkekeh lagi. "Asal kak Dara tahu aja ya, Kak Biru banyak berubah tahu semenjak ketemu kakak. Dia jadi gak keluyuran main dan malah jadi mau bantuin Daddy!"


"Benarkah?"


"Hm ... Makanya kakak harus nya seneng, terus ya cuma kak Dara yang dikenalkan sama Daddy dan Mami. Sebelum sebelumnya gak pernah Kak Biru bawa bawa cewek kayak gini!"


"Benarkah?"

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya Dara bersyukur, Biru memang laki laki yang baik.


"Aku gak ngomong gini karena aku adiknya yaa ... Itu karena aku tahu siapa aja yang nyoba deket sama kak Biru!"


"Benarkah?"


Air menggangguk, "Tahu dong ...!"


Ah ... Apalagi ini ya tuhan, semua keluarganya tahu hubungan aku dan Biru. Sementara aku gak tahu apa apa, udah kayak orang bego dan malu banget! Lagi lagi Dara hanya bisa bicara dalam hati.


Dia juga menjadi tidak konsentrasi saat menonton, padahal Air saja sampai tertawa terpingkal saat menonton film bergendre komedi itu, sementara Dara hanya bisa berhela nafas berkali kali.


Hampir dua jam mereka berada di dalam studio yang sengaja di sewa Zian, dengan berbagai camilan yang datang di antar juga beberapa minuman juga.


Tak lama kemudian Biru masuk, berjalan di dalam keremangan dan langsung duduk di samping Dara. Mengagetkan Dara dan juga Air.


"Apa filmnya sudah berakhir?"


"Astaga ... Bikin kaget aja deh!" tukas Air yang memukul kakaknya.


Biru berhasil menghindar dan membuat tangan Air mengenai perut Dara, membuatnya tersentak kaget.


Dara meringis, memegangi perutnya yang tiba tiba menegang. "Arrgghh!"


"Dara ... Kau tidak apa apa?"


"Air, apa yang kau lakukan?" Sentak Biru pada adiknya.


Dara menggelengkan kepalanya disertai tangan yang juga dia lambai lambaikan, "Aku gak apa apa kok Biru!"


"Aku gak sengaja Kak! Itu gara gara kak Biru yang ngehindar tadi!"


"Iya ... Dan harusnya kau bisa menahan diri Air, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kandungan Dara!" sentaknya lagi marah.


Air mulai menangis, berkali kali minta maaf pada Dara karena ketidak sengajaannya. Tapi Biru terus marah walaupun Dara sudah menjelaskan kalau dia tidak apa apa.


"Biru, udahlah ... Aku tahu ini bukan salah Air! Gak usah marah kayak gitu juga!"


Air tampak mengangguk, memeluk Dara searaya terus menangis.


"Itu karena kau gegabah!" tunjuknya pada adik bungsunya.

__ADS_1


"Biru. Udahlah! Lagi pula aku gak apa apa!"


Acara nonton film yang harusnya seru dan penuh tawa berubah jadi tegang dan penuh air mata dari Air karena kemarahan kakaknya sendiri. Perut Dara padahal hanya tegang sebentar lalu kembali normal.


"Kak Dara aku minta maaf, aku benar benar gak sengaja kok!"


"Aku tahu Air ... Ayo kita pergi, filmnya udahan juga!" Dara menarik tangan Air dan mereka berdua keluar bersama sama dan meninggalkan Biru sendirian.


"Hey ... Padahal aku membelamu Dara! Kenapa kau justru membela adikku yang nakal itu!" serunya keras.


Dara menenangkan Air yamg masih menangis, dia juga melimgkarkan tangan di bahu gadis berusia 16 tahun itu.


"Jangan dengarkan kakak mu ya! Ini bukan salahmu kok dan aku tahu itu. Lagi pula aku gak apa apa kan!"


Air mengangguk, sementara Biru mengikutinya dari belakang. "Jangan tertipu, Air suka cari perhatian!"


Air menoleh lalu mendengus, tak lama melingkarkan taangan di pinggang Dara.


"Kenapa kakakku laki laki, harusnya perempuan biar aku ada yang belain." dengusnya kasar.


Dara terkekeh, "Sekarang kamu punya kakak perempuan kan, yaitu aku! Aku juga selalu minta adik perempuan biar ada teman main, tapi gak punya sampai sekarang!"


"Kau dengar Kak ... Mulai sekarang kakak ku adalah kak Dara, kau akan aku buang, anak itik kesasar!" serunya kesal pada Biru yang masih di belakang.


Dara semakin bahagia, benar benar diterima baik oleh kedua orang tua dan juga adik Biru sendiri. Merasa beruntung disaat kemalangan kemalangan yang dia alami sebelumnya.


Biru mendengus, menarik lengan Dara hingga berdiri sejajar dengannya. "Enak saja ... Dia kekasihku!"


"Daddy!"


Air memanggil ayahnya, seperti biasa dia mencari dukungan sang ayah jika bertengkar. Berbeda dengan Biru yang mirip sekali dengan ayahnya namun sangat dekat dengan ibunya.


Kedua mata Air sudah bengkak, dia berlari ke arah ayahnya yang tengah duduk disatu gerai coffe shop. Terlihat berbicara dan menunjuk ke arah Biru.


Biru mendengus, "Dasar si tukang mengadu!"


"Dia adikmu Bi ... Lucu sekali, aku iri pada kalian!"


Biru melingkarkan tangan di bahu Dara dan kembali berjalan. "Tenang saja, kita akan buat anak sebanyak mungkin agar anak ini tidak kesepian!"


"Biru!!"

__ADS_1


__ADS_2