
Keesokan pagi.
Pagi pagi sekali Biru sudah rapi, dia menatap pantulan dirinya di cermin, kemudian beralih menatap map coklat yang ada diatas meja.
"Bang ... Cepatan, Daddy sama Mami udah nunggu dibawah!"
Tiba tiba Air membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Biru begitu saja.
"Astaga ... Apa kau tidak tahu caranya mengetuk pintu?" Sentak Biru kaget sekaligus marah.
"Yee ... Udah untung aku kesini, mau berapa lama kau tatap wajah jelekmu itu. Tetep gak akan bisa berubah ... Tetep aja jelek!" cibir Air.
Biru membalikan tubuh ke arah adiknya yang terlihat cengengesan dan langsung mengunci leher memakai lengannya dengan longgar.
"Heh ... Kau bilang aku jelek. Hm ... Berani sekali, kau tidak lihat seberapa tampan kakakmu ini?"
"Kakak ... Lepas ... Lepas ih!"
"Tidak akan aku lepaskan sebelum kau bilang aku tampan!"
"Gak mau ... Kau jelek! Tetap jelek."
"Air kau bilang apa?"
"Kau jelek kau jelek!"
Pluk!
Pluk!
Biru memukul mukul kepalanya dengan menggunakan bantal sofa hingga Air terus berteriak minta dilepaskan.
"Kakak!"
"Bilang aku tampan! Baru aku lepaskan."
"Iya iya ... Kakak tampan, paling tampan!"
__ADS_1
Biru tertawa, melepaskan Air dan mencubit dua pipinya yang menggemaskan. "Gitu dong! Aku memang tampan!"
Air mendengus kasar. "Iya tampan sampai mata ku silau lihat ketampanan Kakak! Udah sana ah ... mau tunggu Daddy yang keluarin suara harimaunya?"
Biru pun mendengus kasar, dia langsung keluar dari kamar dan tidak lupa membawa amplop miliknya.
"Astaga ... Apa kau membiarkan Daddy dan Mami menunggu lama?"
"Maaf Dad ...!"
"Ada apa Bi? Alex bilang kau menemukan sesuatu dan tidak memberitahukan padanya!"
Tanpa basa basi Zian langsung mengatakannya. Mendengar hal itu tentu saja Biru mendengus kasar. Tidak ada yang bisa dia sembunyikan dengan lama.
"Anak itu!" gumamnya kesal.
"Bi ... Ada apa?" kali ini suara ibunya yang terdengar lebih lembut.
"Aku ... aku ingin Daddy dan Mami ikut Biru ke rumah Dara!"
"Hah?"
Biru mengangguk, "Ya ... Aku ingin secepatnya Dqddy dan Mami bawa Dara ke rumah ini!"
Semua orang tersentak kaget, sementara Biru sendiri mengangguk anggukan kepala dengan senyuman di bibirnya.
"Ya ... Dara harus dirumah ini secepatnya!"
Sementara itu di rumah Dara.
Drett
Drett
Dara mengambil ponsel miliknya, dia terkejut karena tiba tiba Intan menghubunginya, sahabat masa sekolah yang pergi ke luar negeri untuk kuliah. Dara mengernyit, karena selama ini kesulitan menghubungi Intan tapi kini Intan yang menghubunginya duluan, tak lama dia pun mengangkatnya.
'Halo Intan?'
__ADS_1
'Gue perlu ngomong sama lo. Kita ketemu sekarang!'
Tut
Dara terperangah saat Intan menutup sambungan telepon begitu saja, dia menatap layar ponselnya yang masih menyala itu dengan heran.
"Kenapa Intan tiba tiba datang, bukankah harusnya dia baru masuk perkuliahan?" gumamnya dengan sedikit gusar.
Saat itu juga Dara keluar dari rumah, dia menuju taman dimana Intan menunggunya. Dara penasaran, dan ingin bertanya kenapa Intan menghilang begitu saja saat malam perpisahan sekolah, bahkan sampai hari ini.
Dara melihatnya, gadis berambut panjang yang sudah 3 tahun menjadi sahabatnya. Bukan hanya itu saja, mereka juga 1 bangku selama 3 tahun.
Dara tersenyum setelah melihat Intan berdiri menunggunya.
"Intan ... Apa kab---"
Plak!
Belum sempat ucapan Dara selesai, tamparan keras mendarat keras di pipi kiri Dara dengan rasa panas menjalar membuat tubuhnya tiba tiba beku.
"Intan ...?"
"Semua gara gara kamu ...!"
"Apa yang kamu maksud?"
Intan melangkah lebih dekat, menatap wajah Dara yang hampir menangis karena tiba tiba dia ditampar tanpa tahu apa masalahnya.
"Kamu tahu apa masalahmu? Kamu sok pintar!"
Dara menatapnya heran, dengan masih memegangi pipinya sendiri. "Aku gak ngerti, apa yang kamu katakan Intan?"
"Oh ya ...?"
Dara mengangguk, "Aku gak tahu salah aku dimana! Aku bener bener gak tahu apa masalahmu apa, kenapa kamu bilang aku sok pintar. Bukankah kita ini bersahabat?"
Intan berdecih, menatap Dara dengan tajam. "Sahabat, jangan gila. Aku gak pernah nganggap kamu sahabat!"
__ADS_1
"Intan ... Kamu?"