
"Ayo Dara. Tunggu apa lagi?"
Rian membawanya masuk ke dalam, walaupun sedikit tidak enak pasa Biru karena pasti dia lagi lagi harus kecewa karenanya. Namun juga Dara akhirnya memilih masuk bersama Rian, pria itulah yang memang sudah sepantasnya menemaninya. Pria yang membuatnya hamil dan seharusnya pria itulah yang bertanggung jawab atas kehamilannya.
Mereka yang tidak perlu lagi mendaftar kini langsung masuk kedalam ruangan Dokter. Dimana seorang Dokter wanita sudah menunggunya.
"Apa kabar Dara?"
"Baik tante ...!" Dara langsung duduk di kursi sementara Rian masih berdiri dibelakangnya.
"Mana suamimu?" tanyanya dengan melirik Rian sebentar.
"Mmpphh ... Sebenarnya...,"
"Suaminya sedang tidak bisa ikut, jadi aku yang menggantikannya!" Celetuk Rian asal, tidak sesuai seperti harapan Dara.
__ADS_1
Dara ikut mengangguk kecil, ada rasa kecewa kenapa Rian tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya walaupun dokter juga tidak akan peduli akan hal itu. Sebuah pengakuan yang seharusnya dilakukan oleh Rian sejak lama, persetan dengan perjanjiannya dan Biru. Harusnya Rian lebih gentle dari nya. Namun nyatanya dia hanyalah seorang pria pengecut.
"Kenapa gak bilang yang sebenarnya aja sih! Kenapa juga aku ngarep kalau kamu itu bakal ngakuin!" desis Dara pada saat Rian duduk di sampingnya.
"Maafkan aku Dara, aku tidak bisa melakukannya. Aku memikirkanmu dan anak kita. Bagaimana kalau semua tersebar dan membuat keluarga mu malu ... Kau lupa kalau kau menikah dengan Biru, bukan dengan ku!" jawab Rian setengah berbisik, jelas bisikan itu hanya di dengar oleh Dara saja.
"Ya ... Terserahlah!" ujar Dara kesal. Tidak ingin memperpanjang masalah penting itu lagi.
Pemeriksaan Dara berlangsung juga, dokter memeriksa kehamilan yang kini menginjak dua bulan itu, dan untuk pertama kalinya Rian melihat janin yang masih terlihat seperti kacang polong di perut Dara.
"Semuanya sehat ... Semuanya juga normal Dara, kamu hanya perlu makan makanan sehat dan bergizi, kamu juga tidak boleh kelelahan dan banyak istirahat. Ya!" terang Dokter. "Dan katakan pada suamimu untuk menjagamu lebih baik lagi, jangan pernah biarkan istrinya pergi ke dokter kandungan sendirian. Bukankah kau dan suamiku membuatnya bersama?" celetuk Dokter dengan sedikit tertawa.
Namun sebaliknya Rian terlihat mendengus kesal mendengarnya. Dan langsung keluar saat Dokter memberikan secarik resep pada Dara.
Pria itu berjalan dengan kesal, dibelakangnya Dara mengikuti bak seekor anak itik tanpa dosa. Sampai mereka tiba di apotik dan Dara duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
"Apa kau dan Biru pernah melakukannya?" tanya Rian tiba tiba.
"Apaan sih?"
"Jawab saja pertanyaanku Dara!"
"Enggak!"
"Kau jangan bohong padaku, aku tahu Biru menyukaimu dan dia pasti mengambil kesempatan itu darimu. Kau dan dia pasti melakukannya!"
Dara berdecak, bukan hanya karena Rian asal menuduh saja, namun mendengar Biru menyukainya jelas itu tidak mungkin, sekalipun dirinya menyukainya sedikit namun tidak dengan Biru.
"Aku sudah bilang enggak Mas! Mau apa kalau memang enggak!"
"Dengar Dara ... jangan pernah menganggap aku bodoh, aku tahu fikiran seorang pria termasuk Biru yang sok pahlawan itu. Dia tidak hanya memanfaatkan harta keluargamu saja, tapi dia juga memanfaatkan tubuhmu Dara!"
__ADS_1
"Mas!" teriak Dara, "Mas jangan sembarangan ngomong ya, Biru gak ngelakuin hal kayak gitu, kita tahu batasan Mas!"
"Halah ... Kau bohong Dara!"