Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.11(Manfaatkan waktu)


__ADS_3

Dara terus menggelengkan kepalanya, seiring rasa perih yang kini terasa akibat kuku jari Biru yang mencengkram kuat di pipinya. Pria berusia 22 tahun itu tidak lagi peduli dengan air mata yang terus meleleh di pipi Dara karena amarah dan ego dirinya.


"Tolong, Jangan lakukan itu Biru! Tolonglah ... Aku mohon." lirihnya dengan wajah mengiba.


Biru menatap wajah Dara dengan tajam, memegang kedua tangannya yang ditarik ke atas kepala dengan erat. Dara terus menggelengkan kepala dengan memohon belas kasihan.


Tubuh Biru sudah semakin menindih diatas tubuhnya, satu langkah saja semuanya sudah pasti akan berakhir. Pria itu semakin mendekatkan wajahnya dan secepat kilat Dara memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Biru! Aku mohon ....!" teriaknya lagi.


Huex!


Huex!


Sampai akhirnya Dara merasa jika perutnya mulai mual dan hampir muntah mengenai dada Biru hingga dia tersentak dan langsung mundur.


"Menjijikan!"


"Maaf! Aku gak sengaja... Huex!"


Dara bangkit dan berlari menuju kamar mandi, sementara Biru terlihat kesal saat dadanya kini terkena muntahan Dara.


"Sial. Hampir saja!"


Suara Dara yang muntah muntah di dalam kamar mandi masih terdengar disusul oleh suara air. Biru bangkit dan membersihkan dirinya sendiri di wastafel tanpa ingin peduli sama sekali. Perbuatan Dara membuat belas kasihannya hilang begitu saja namun diam diam menatap pintu yang masih tertutup itu.


Kabar hilangnya Dara sudah menyebar, semua orang sudah mencarinya kemana mana termasuk apartemen yang di sewa Biru.


Setelah hampir 20 menit Dara di dalam kamar mandi, Biru akhirnya merogoh ponsel miliknya dan menghubungi staff hotel untuk datang. Pesan pesan dari Alex yang memperingati nya untuk berhati hati pun dia balas.


Tok

__ADS_1


Tok


Biru segera bangkit dan membuka pintu, terlihat 2 staff hotel masuk dengan membawa makanan dan pakaian yang dia minta.


"Kalian bantu wanita itu!" ujarnya pada mereka.


Sementara Dara yang ketakutan masih enggan keluar dari kamar mandi, setelah dirasa perutnya lebih baik dia hanya berdiam diri dan menangis.


"Non ... Nona! Kami akan masuk dan membantu Nona."


"Tidak usah dibujuk! Masuk saja, kalian punya kunci." seru Biru yang masih bisa di dengar oleh Dara.


Dengan takut dan tidak bisa menolah perintah Biru keduanya akhirnya membuka paksa pintu tersebut. Membuat Dara semakin takit saja.


"Nona ... Ayo!"


"Ayo kemana, aku gak mau! Tolong ... Aku mau pulang, dia itu jahat, dia yang nyulik aku!"


"Kalian mau bantu aku kan? Gak bohong? Bantu aku pergi dari sini?" ujar Dara dengan menyusut air mata yang terus mengalir di pipinya.


Kedua staff hotel asal mengangguk saja, memberikan pakaian baru dan mengganti pakaian rumah sakit yang dikenakan Dara. Mereka juga membantu membersihkan tubuhnya.


Brak!


"Lama sekali, cepatlah!" Biru menendang pintu kamar mandi dengan marah. Lalu kembali duduk di sofa. "Melelahkan!"


Dua staff hotel hanya saling menatap saat Dara semakin ketakutan, sampai akhirnya ketiganya keluar dari toilet.


"Sudah selesai tuan!" ucap seorang staff. "Kami permisi dulu!" ujarnya lagi dengan mengantarkan Dara duduk di sofa.


Dara belingsatan, dia hendak berdiri namun urung karena melihat tajamnya tatapan Biru. Dua orang menipunya dengan mudah kini akhirnya pergi begitu saja, dia hanya bisa menatap keduanya yang berjalan keluar dengan takut.

__ADS_1


Mereka sama aja!


"Dasar orang kejam! Kamu ini kayaknya penjahat dan aku di tipu habis habisan, aku fikir kamu orang yang tulus dan baik, tapi salah." cicitnya pelan, menatap hidangan yang masih terlihat mengepul di atas meja.


"Diam dan makan saja!" sentak Biru dengan bangkit dari sofa, tidak ingin berlama lama menatap gadis yang kini memakai dress pendek selutut dan membiarkannya yang terlihat kelaparan itu menikmati makanannya.


Setelah muntah muntah tentu saja Dara merasa lapar, hidangan yang masih mengepul itu membuat selera makannya bertambah. Dia pun memakan semuanya dengan lahap.


Biru berdiri tidak jauh dari sana, berseringai menatap Dara dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya. "Bagus! Setelah bertenaga lagi, kita lanjutkan yang tadi!"


Glek!


Dara menoleh ke arahnya, tatapan keduanya kini saling beradu. Sedetik kemudian wajahnya kembali terlihat sendu.


"Bagaimana kalau kita kembali ke perjanjian awal aja, aku gak akan ngelakuin hal ini lagi padamu. aku janji!" lirihnya pelan.


"Kau fikir aku akan percaya kali ini?"


"Sumpah, aku janji!" ujarnya dengan jari telunjuk dan jari tengah yang mengacung, "Aku juga akan bilang sama Mama dan Papa nanti, sama Mas Rian juga!" bujuknya dengan tersenyum.


"Mas?" Biru berdecih mendengarnya, "Kau fikir aku bodoh dengan percaya kata katamu lagi?"


Dara menggelengkan kepalanya, "Aku janji demi apapun! Kamu boleh tagih janji aku nanti."


Kini Biru terdiam, menatap gadis berusia 19 tahun itu dengan kedua tangan yang melipat di dadanya.


"Ayolah ... Waktu kita cuma setahun kan? Ayo kita manfaatkan waktu sebaik baiknya."


.


.

__ADS_1


__ADS_2