
Dara tersentak, dia tidak pernah menyebutkan namanya sendiri begitupun bertanya atau ditanya perihal siapa dirinya, bahkan dia tidak bertanya nama wanita yang kini menatapnya dengan teduh.
"Tante tahu nama aku?"
Wanita itu terkesiap, menunjuk sebuah kartu yang menempel di jaket almamater yang terlipat di kursi, "Aku lihat kartu mahasiswa mu itu,"
"Oh iya ... Makasih tante, aku pergi dulu. Semoga kita bisa bertemu lagi." ujar Dara yang langsung berlalu keluar.
"Cepat atau lambat kita pasti ketemu lagi Dara!" cicitnya seraya melihat Dara hingga gadis itu mencegat taksi dan masuk ke dalamnya.
Dia menghubungi seseorang, tak lama datanglah dua orang pria yang tadi mengejarnya.
"Kerja kalian bagus, ambil ini untuk bonus dan jangan katakan apapun pada suamiku!" ujarnya dengan meletakkan dua buah amplop di depan mereka.
Dua pria yang masih berdiri itu saling menatap satu sama lain, lalu masing masing mengambil satu amplop.
"Tapi kalian keterlaluan, kenapa sampai melemparkan ponsel ke semak semak. Itu susah di cari!"
"Maaf Nyonya ... Tapi__"
Seseorang berjalan masuk dengan tergesa gesa dan langsung menghampirinya.
"Mami! Apa yang Mami lakukan?"
"Ah ... Biru!" lenguuhnya dengan lemas. Lalu menatap kedua pria yang kini tertunduk. "Ini pasti kerjaan kalian!"
Bruk!
Biru menghempaskan tubuh di kursi di hadapan ibunya. "Apa Mami sudah gila, bagaimana kalau Dara terluka. Mami ajak dia lari lari seperti itu, lagi pula untuk apa Mami sampai melakukan hal konyol seperti ini?"
Biru terus marah pada sang ibu yang melakukan sesuatu hal yang konyol hanya untuk bertemu Dara.
"Aku bisa mempertemukan Mami dengan Dara, kenapa malah mempersulit diri sendiri!"
"Astaga ... Kamu ini bukannya senang malah marah marah! Mami tahu apa yang Mami lakukan, kamu fikir kehamilannya akan keguguran kalau hanya berlari. Justru Mami membantu perasaannya jadi lebih baik. Kau tahu!"
__ADS_1
Biru berdecak berkali kali, "Astaga Mami!"
"Sudah ... Kamu segera hubungi dia, dia menunggumu sampai hanya diam di pinggir danau, bagaimana kalau dia nekat lompat ke danau itu kalau Mami tidak melakukan hal konyol. Hah?"
Biru terdiam, dia memang belum menghubungi Dara sekalipun setelah semalam bertemu, dia belum memiliki rencana untuk masalahnya karena sibuk di kantor sejak pagi.
Dihadapan ibunya sendiri Biru akhirnya menghubungi Dara, dengan menatap wajah ibunya yang sesekali mengangguk dan tersenyum membuat tekatnya semakin bulat untuk merencanakan semuanya sematang mungkin.
Dukungan dari keluarga begitu berperan besar bagi Biru, tidak hanya sang ibu tapi juga sang ayah yang membantunya di kantor. Membuat Biru semakin kuat dan berani mengambil resiko apapun sekalipun yang dilakukan ibu dan ayahnya kerap berlebihan.
Alex yang menunggunya di luar pun tampak cengengesan, darinya info kalau Agnia melakukan hal konyol saat bertemu Dara, dua orang pria itu selalu berkoordinasi padanya sebagai bawahannya.
Hal itu dengan mudah tercium pula oleh Zian, pria itu berdecak setelah mendapatkan informasi yang dikirimkan Alex padanya. Setali tiga uang Alex yang dia andalkan perihal pengamanan putra dan segala tingkah tanduknya, juga sang istri yang sudah pasti tidak akan tinggal diam.
"Nia ... Nia, semakin dewasa semakin posesif pada Biru sampai melakukan hal yang tidak pernah terfikirkan, kau tidak pernah berubah sayang!" gumamnya dengan menatap foto sang istri di ponselnya.
Hari itu juga Biru menemui Dara di sebuah kafe tidak jauh dari kampusnya, Dara yang memang menunggunya menangis sesegukan saat Biru tiba dan memeluknya.
"Kamu harus lakukan sesuatu Biru, Papa ingin mempercepat pernikahanku sama Rian!"
"Bagaimana kalau kita kabur saja!"
Biru menggelengkan kepala seraya menyusut air bening yang membasahi wajahnya. "Aku akan menepati janjiku untuk membawamu dengan cara yang baik dan dengan restu orang tuamu ya!"
"Iya tapi kapan. Apa yang kamu rencanakan?"
"Tunggu saja, itu tidak akan lama lagi! Sekarang kamu pulang dan jangan menyiksa diri seperti ini, kau harus ingat bayi yang ada di dalam perutmu. Minum obat dan vitaminnya oke, aku ingin kamu kuat agar bisa sama sama menghadapi semuanya."
Dara terdiam, memeluk Biru dengan erat, tidak hanya menenangkan, kata kata Biru membuatnya kembali bersemangat.
"Kamu hanya perlu mengulur waktu agar Ayahmu menunda pernikahan. Hm ... Jadi kita harus kuat! Langit akan aku jadikan cerah, kau paham Dara?"
Dara terkesiap, mengingat ucapan wanita yang dia tolong tadi pagi. Ucapannya tidak jauh berbeda dengan Biru.
"Apa kamu bisa aku percaya Biru? Saat semua orang di dekatku menekanku sekarang!"
__ADS_1
"Kau harus percaya pada hatimu, kalau di hatimu ada aku sudah pasti kau akan percaya padaku sebagaimana aku percaya padamu. Ingat Dara, kita bertemu lalu dipisahkan itu bukan hanya kebetulan belaka. Itu takdir, dan saat ini kita bisa kembali bersama adalah takdir yang harus kita upayakan dengan perjuangan." terangnya dengan memeluk tubuh Dara dengan erat.
Selain hangat, tenang dan juga damai. Dara merasa Biru pria baik yang sengaja di kirim untuk hidupnya yang dibuat hancur oleh orang lain, memberi harapan yang baik ditengah semua harapan yang hancur luluh lantah, dan sebuah mimpi diantara mimpi mimpi yang dia kubur sedalam dalamnya.
Biru menyuruh Dara menghubungi supir agar menjemputnya untuk kembali pulang, tidak ingin memberikan masalah baru saat tahu masalah macam apa yang Dara dapatkan semalam.
Akhirnya mereka berpisah, Dara pulang bersama supir dan Biru kembali ke kantornya.
"Lex ... Kita harus mulai bergerak, umpan umpan sudah disebar sedemikian rupa oleh orang tuaku." ucapnya dengan mendudukkan tubuh di kursi kekuasaannya.
"Ya kau beruntung memiliki orang tua yang hebat, mendukungmu tanpa banyak bertanya! Dan tebak umpan mana yang akan menarik mereka?"
Biru menoleh pada Alex yang mengangkat sebuah berkas dan menunjukannya. Kedua alisnya berkerut, sejurus kemudian kedua manik hitamnya membola sempurna.
"Jangan bilang itu dari Prasetya Daya utama!"
"Meledak, tepat sekali! Kita tidak perlu memasang jaring, ikan masuk berkat umpan yang disebar orang tuamu!" ujar Alex dengan menyimpan berkas itu di hadapan Biru.
Biru segera membukanya, lalu berdecih saat melihat isi berkas permohonan kerja sama dengan rinci dan teliti.
"Ini pasti seru, aku tidak sabar melihat reaksi Rian dan ayahnya saat melihatku!"
"Apa perlu kau cukur rambutmu dulu? Dan pergi ke toko setelan untuk penampilan terbaik agar mereka tercengang!" ujar Alex dengan penuh semangat.
Biru tersenyum, sudah pasti akan melakukannya agar Rian dan Prasetya kalang kabut melihatnya.
Alex terkekeh, "Apa perlu aku pesankan tempatnya? Aku sudah mulai menikmati pekerjaanku sebagai asisten pribadimu."
"Tidak perlu, aku ingin Dara yang menemaniku. Kau atur saja pertemuanku dengan mereka, siapkan semuanya sesempurna mungkin!"
Alex berdecih seraya menggelengkan kepalanya. "Dara terusssss! Segalanya tentang Dara, kau rajin seperti ini juga gara gara Dara, bekerja sampai lupa masa muda kita juga gara gara Dara!"
"Benar ... Jadi harusnya kau berterima kasih pada Dara, berkat dia kau jadi asisten pribadiku Alex!"
.
__ADS_1
.Buat kalian yang minta up up up up ... Hihihi, terus dukung karya recehan ini yaa, makasih