Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.47(Hah)


__ADS_3

Dara terus memperhatikan pria paruh baya dengan berperawakan tinggi tegap itu, walaupun usianya tidak lagi muda namun bisa di lihat jika pria itu merawat kesehatannya dengan baik, terlihat segar bugar di usia yang jauh di atas ayahnya sendiri, aura kepemimpinannya sangat kuat, berkarakter juga berkharisma. Bisa dibayangkan seberapa hebatnya saat pria itu muda.


"Kalian datang bersama?" tanya Prasetya membuyarkan lamunan Dara tentang gagahnya pria yng kini semakin melangkah menjauh.


Dara tersenyum saja, dia tidak ingin menjawab apalagi berbohong.


"Ya ... Begitulah Papa." sahut Rian lebih dulu dengan melirik Dara. "Tadi aku mengantarkan Dara sebentar." ujarnya bohong.


Terserahlah, Dara tidak ingin ambil pusing dengan jawaban Rian yang seolah melindunginya, entahlah dia juga tidak ingin memikirkan kalau pun itu hanya untuk menutupi kebohongannya karena jelas jelas dia yang terlambat datang, ya seperti biasa karena Rian bukan hanya sekali dua kali saja terlambat akan janjinya sendiri.


"Oh ya ... Bagaimana hasil meetingnya Pap ..? Apa kita akan berhasil?" Rian mengganti topik pembicaraan.


"Tentu saja, proyek ini harus berhasil, kau tahu keuntungan perusahaan akan sangat besar kalau ini berhasil, proyek ini dipegang langsung oleh Direktur komisarisnya sendiri! Kau tahu artinya itu kan Rian? Perusahaan kita bukan hanya bekerja dengan anak perusahaannya tapi ini induk dari segala induk perusahaan, dan berpeluang tinggi kedepannya soal apapun, dia komisaris G.G Corps."


"Bukankah Global globe di pimpin oleh orang baru?" tanya Rian dengan antusias.


"Papa juga dengar begitu, kau harus bangun relasi lebih dekat lagi dengan pihak mereka, sebab komisaris itu hanya aktif di pusat luar negeri!"


"Wah ... Daebak!!" Rian terlihat semakin bersemangat dengan sedikit tepukan kedua tangannya saat mendengar hal itu, membayangkan sebesar apa peluang bisnis yang akan dia dapatkan.


Bisa di bayangkan juga jika perusahaannya akan lebih unggul dari pada perusahaan yang lain yang ingin bekerja sama dengan perusahaan besar itu.


"Papa jangan khawatir, aku tidak akan mengecewakanmu kali ini, kita akan menang dalam mega proyek ini dan bisa setara dengan G.G Corps!" ucapnya dengaan penuh keyakinan.


Prasetya tertawa, "Belum ada yang bisa menyaingi G.G Corps selama ini, mereka benar benar perusahaan besar, kita harus masuk ke dalamnya agar bisa setara dengan perlahan!"


Sementara Dara hanya diam mendengarkan, jujur saja dia tidak faham sedikit pun mengenai pembicaraan ayah dan anak itu, bahkan bisnis yang di geluti keluarganya sendiri saja dia tidak mengerti. Tapi satu yang bisa dia tahu adalah keuntungan dari bisnis itu sendiri, proyek besar dari perusahaan besar adalah sesuatu anugrah besar bagi perusahaan yang tengah berkembang.


"Kalau begitu ayo pulang! Kau harus siapkan beberapa materi yang diminta pihak mereka, jangan sampai ada yang salah sedikit pun. Hm?"


Rian mengangguk mengerti, lalu mengikuti langkah kaki sang ayah yang berjalan keluar. Sementara Dara lagi lagi hanya bisa diam saja.


Prasetya akhirnya pergi lebih dulu, dia masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh seorang supir sementara Rian melambaikan tangan padanya sampai mobil itu menghilang dari pandangan.

__ADS_1


"Ayo Dara, aku antar kamu pulang."


"Mas lebih baik mas pulang lebih dulu, aku bisa pulang sendiri, lagi pula Mas Rian skan lagi sibuk," ucap Dara dengan merogoh kunci mobil miliknya yang berada di dalam tas.


"Mana bisa begitu, aku tidak akan membiarkanmu pulang sendirian Dara, kau ini calon istriku dan sedang haamil anakku, bagaimana pun juga aku berhak walaupun kau selalu tidak terbuka padaku, termasuk kali ini kau pergi tanpa mengabariku! Tapi aku tidak masalah, aku akan tetap mengantarkanmu!"


Dara menghela nafas, dia malas mencari keributan dengan Rian yang selalu bersikap berlebihan dengan hal hal sepele dan semakin malas karena Rian bersikeras ingin mengantarkannya pulang.


"TIdak baik kalau kau menyetir sendirian." ujarnya lagi.


sementara Dara masih sibuk mencari kunci mobil yang masih belum ditemukan itu sampai ada seseorang yang menghampirinya.


"Non Dara ... Aku mencarimu kemana mana ternyata Non ada d sini. Ayo Non." ucapnya dengan mengenggam kunci mobil milik Dara.


Dara terperangah saat melihat kunci mobil miliknya ada pada seseorang yang tidak dia kenal. Begitu juga dengan Rian yang mengernyit.


"Kamu dengan supirmu?" tanyanya.


"Baiklah, karena kamu pulang bersama supirmu aku jadi tenang, aku bisa segera menyelesaikan pekerjaannku." ucap Rian,


Dara mengernyit, tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa melihat Rian yang pamit pulang begitu saja tanpa berkata kata lagi sementara dirinya masih dibiarkan tidak karuan.


"Ayo Non ... Tunggu apa lagi?"


Dara sedikit kesal dengan sikap Rian, terlebih melihat Rian masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja meninggalkannya, sedetik kemudian Dara langsung menatap tajam pada pria yang masih menunggunya dengan setia.


"Kau siapa. Kenapa kunci mobilku ada di kamu, udah jelas jelas kok aku pergi sendiri!"


Pria itu kembali tersenyum tipis. "Ayo Non, sudah hampir tengah malam...." ujarnya dengan berjalan menuju mobil Dara.


Dara semakin takut, pria itu bahkan tahu dimana mobilnya terparkir, seolah olah dia memang seorang supir tapi dengan tubuh tegap seperti pengawal.


Dara menyusulnya, dan langsung merebut kunci mobil dari tangannya "Dengar ya ... Aku bisa teriak kalau kamu macam macam!"

__ADS_1


Pria itu masih berdiri tidak jauh darinya, saat Dara menatapnya dengan sengit dan sejurus kemudian dia malah memberinya sebuah aer phone.


"Apaan nih?"


"Agar Non Dara yakin kalau saya bukanlah orang jahat!" ucapnya dengan sedikit anggukan kepala.


Dara yang masih penasaran akhirnya menerima aer phone tersebut dan memasangkannya di daun telinga, tak lama air mukanya berubah saat mendengar suara seseorang.


"Dara ... Kamu takut di culik kan? Tenang saja, orang itu temanku yang kebetulan lewat dan aku mintai tolong untuk mengantarkanmu karna ku khawatir padamu maaf karena aku tidak bisa mengantarkanmu malam ini, seharusnya aku tidak menerima ajakan Alex untuk minum minum tapi jika tidak melakukannya aku tidak akan pernah tahu perasaanmu yang sebenarnya! Jadi biarkan dia mengantarkanmu dengan selamat oke. Bilang padaku kalau dia berani macam macam."


"Biru?"


Terdengar suara Biru dengan sedikit tertawa, membuat Dara berdecak lega setelah tahu pria itu temannya, tapi bagaimana bisa kunci mobil ada pada Biru.


"Segeralah pulang dengan selamat dan istirahat, tunggu aku ya!" ucapnya lagi. Membuat hati Dara menghangat.


Akhirnya dia melepas aer phone, dan kembali menatap pria yang masih berdiri tidak jauh dari nya, terlihat pria itu menengadahkan tangan, Dara langsung memberikan aer phone padanya.


"Maaf ... Kunci mobilnya Non Dara. Biarkan aku yang menyetir." ucapnya datar.


Dara terkesiap, sedikit tersenyum dan memberikan kunci mobil miliknya, pria itu langsung membuka pintu mobil untuknya dan menunggu Dara masuk.


"Apa kamu benar benar temennya Biru? Kok kaku amat sih, gak kayak si Alex yang slengean." tanyanya sebelum masuk mobil.


Lagi lagi pria itu hanya tersenyum sampai Dara memutuskan masuk tanpa jawaban yang pasti. Setelahnya pria itu baru masuk kedalam pintu kemudi dan langsung melajukan mobil.


Dara hanya bisa diam dengan terus memperhatikan ruas jalan, takut takut jika dia dibawa kabur oleh orang yang mengaku ngaku saja, namun hampir setengah perjalanan adalah benar jalan menuju rumahnya, dia cukup lega.


"Apa kamu benar benar teman dari Biru, teman apa, kuliah, kerja atau teman main. soalnya aku baru melihatmu sekarang." Tanya Dara yang masih penasaran karena belum dapat jawaban pasti.


"Non Dara hanya harus percaya apa yang dikatakannya tadi, apapun itu Beliau tidak akan berbohong." jawabnya datar.


"Hah .. Beliau?"

__ADS_1


__ADS_2