Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.81(Jangan khawatir)


__ADS_3

Baskoro duduk termenung di kursi ruangan kerja miliknya. Memikirkan banyak hal terutama keluarganya. Anggap saja dia bodoh karena terlalu berharap pada Prasetya dan juga Rian. Bahkan sejak awal selalu menuruti permintaan dengan desakan keduanya.


Lamat lamat dia bangkit, mengeluarkan map map dari lemari penyimpanan dimana semua surat surat berkaitan dengan aset aset miliknya tersimpan.


Dia menyiapkan semua surat surat itu dan dikumpulkan di satu map saja dengan sesekali dia menghela nafas.


Sampai tidak terasa Baskoro sudah lebih dari 3 jam berada di sana, Sophia berulang kali masuk dan keluar hanya untuk memastikan suaminya baik baik saja.


Sampai dimana dia mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.


Biru segera datang saat Dara menyuruhnya datang dan mengatakan jika ayahnya ingin bicara. Dia bahkan meninggalkan pekerjaannya di kantor.


"Kamu sudah datang?"


Biru mengangguk, meraih tangan Dara dan memggenggamnya lembut. "Aku langsung datang saat kamu bilang ... Ada apa, apa Papamu sakit lagi. Hm?"


"Enggak kok ... Papa hanya ingin bicara saja!" Dara membawanya masuk dan langsung menuju ruangan kerja papanya.


"Papa nunggu kamu di dalam."


"Aku sendirian. Kamu gak ikut?"


Dara menggelengkan kepalanya, " Papa minta bicara sama kamu sendiri Bi!"


"Ok ... Baiklah!"


Perlahan Biru masuk ke dalam, tentu saja setelah dia mengetuk pintu lebih dulu.


"Masuk saja Biru." tukas Prasetya.


Biru melangkah masuk dan langsung melihat Baskoro. "Om sakit?"


"Tidak ... Aku baik baik saja, aku hanya ingin kita bicara Biru! Duduklah." Baskoro menunjuk sofa agar Biru duduk dan dia ikut duduk di depannya.


"Ada apa Om? Sepertinya ini akan sangat serius, kenapa ... Ada yang bisa aku bantu ... Om butuh bantuanku, tenang saja, aku tidak akan menagih apa apa Om ...!"


Baskoro terlihat canggung dan juga ragu saat bicara, padahal Biru bersikap sewajarnya saja.

__ADS_1


"Apa kau benar benar menerima Dara padahal kau tahu sendiri jika dia sedang hamil anak Rian Biru?" tanyanya tiba tiba.


Biru berhenti bicara, dia menatap Baskoro dengan lekat.


"Kenapa Om tanya seperti itu?"


"Aku hanya perlu tahu, jika tidak ... Segeralah pergi dan tinggalkan Dara. Aku sebagai ayahnya merasa bersalah dan Dara sudah menderita karena musibah itu, dan sekarang aku tidak lagi berharap pada tanggung jawab Rian."


"Kenapa?" Pancing Biru. "Apa Om baru sadar kalau Rian tidak sesuai dengan ekspetasi Om?"


"Ya ... Kau benar Biru! Aku sangat kecewa padanya. Padahal mereka mendesakku dan aku melakukannya. Bodohnya aku!"


"Apa Om benar benar menyesal sekarang?"


Baskoro menghela nafas nya dengan berat. "Maafkan Om Biru ... Om sangat menyesal dengan semua yang sudah terjadi, andai saja Om tidak membatalkan pernikahan kalian dulu. Om mungkin tidak akan sekhawtir ini pada Dara, Om bahkan sudah tidak bisa marah lagi pada Rian mengingat kesehatan Om dan Om tidak ingin merepotkanmu Biru!"


"Sudahlah Om ... Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi, toh semuanya tidak akan kembali seperti dulu."


"Ya ... Om minta maaf ... Benar benar minta maaf!" Baskoro bangkit untuk mengambil map map yang sudah dia siapkan tadi lalu kembali duduk.


Biru terbeliak melihatnya, "Apa ini Om?"


"Om akan berikan semua Aset padamu dengan satu syarat. Nikahi Dara dan jangan pernah tinggalkan dia. Buat Dara bahagia Biru!"


Biru tersentak, lalu sejurus kemudian dia tertawa. "Astaga Om ... Om serius memberikan semua aset ini padaku dengan syarat yang begitu mudah?"


"Om serius!"


"Bagaimana kalau aku ternyata menipu Om? Om pasti akan kehilangan semuanya!"


"Tidak Biru ... Om yakin kau orangnya, kau akan menjaga Dara!"


"Om simpan saja surat surat itu, aku tidak memerlukannya saat ini, Om tahu aku punya lebih banyak uang dari pada Om bukan? Aku bahkan bisa membangun perusahaan ku sendiri kalau aku mau!" tukasnya dengan sedikit sombong.


"Jadi kau tidak mencintai Dara?"


Biru menghela nafas. "Siapa bilang. Aku mencintainya!" jawabnya tegas. "Maka dari itu aku menerima juga bayi yang di kandungnya walaupun itu anak Rian, aku tidak mempermasalahkannya!"

__ADS_1


"Orang tuamu?"


"Itu tidak penting, mereka hanya akan mendukung segala keputusanku! Tidak perlu difikirkan!"


Apa yang di ucapkan Biru cukup melegakan, walaupun Baskoro masih belum puas juga karena Biru menolak pemberiannya.


"Dan Om sudah membayar apa yang harus Om bayar padaku!" ungkap Biru lagi.


"Apa maksudmu?"


"Ya seperti ini, Om bicara padaku dengan penuh kerendahan hati. Apa Om merasa saat ini Om tidak berdaya? Apa Om merasa diri Om tidak berguna padahal Om sudah melakukan banyak hal dengan segala niat yang om miliki?" Biru mengulas senyuman. "Itulah aku dulu, yang Om hina dengan macam macam kata, tuduhan bahkan berfikir buruk dan tidak percaya padaku. Sementara dari awal aku hanya ingin membantu Dara, Hatiku luluh saat melihat Om memukul Dara saat itu. Om ingat, Padahal aku sudah menolak rencana Dara, dan kalian menyerangku seolah aku yang datang menawarkan diri. Aku merasakan apa yang om rasakan sekarang. Aku merasa gagal dan aku tidak bisa berbuat apa apa."


"Biru maafkan Om! Maafkan Om!'


"Aku sudah memaafkan Om, dan Om sudah membayarnya sekarang." Biru terkekeh. "Dan soal Dara ... Om tenang saja, aku benar benar mencintai Dara dan akan menikahinya lagi. Tentu saja kali ini menikah secara benar!"


Kedua manik manik Baskoro terlihat sendu dan juga sayu. Tampak bulir bening membayang penglihatannya.


"Terima kasih Biru!"


Biru mengangguk, kembali memberikan surat perusahaan pada Baskoro. "Simpan kembali Om ... Aku bisa saja memerlukannya nanti!"


Baskoro tersenyum seraya mengangguk, tidak berhenti dan juga berterima kasih pada Biru. Tidak lama keduanya keluar dari ruangan kerja dengan wajah Baskoro yang sendu.


"Om harus semangat untuk sembuh agar nanti bisa bertemu calon besan dan menghadiri pesta pernikahan!"


"Kau benar Biru. Aku tidak sabar bertemu dengan dewan komisaris G.G Coprs!"


Biru terkekeh, "Apa Om memilih bertemu komisaris dari pada besan? Om yakin itu ...? Apa kalian akan membicarakan bisnis dibandingkan pernikahan anak anak kalian?"


Baskoro tertawa, dan pertama kali nya Biru melihatnya tertawa. "Om hanya bercanda! Sekali lagi terima kasih Biru!"


"Sama sama Om ... Maafkan aku juga karena bersikap menyebalkan dan tidak sopan."


Dara yang duduk di ruang tv terperangah melihat keduanya yang tertawa saat keluar dari ruangan kerja. Bukankah baru semalam dia berfikir ada yang tidak beres dari mereka berdua. Tapi kenyataannya kini berbeda.


"Ada apa dengan pria pria itu! Kemarin keliatan kayak ada yang aneh tapi sekarang mereka tertawa justru makin aneh. Apa yang terjadi?"

__ADS_1


__ADS_2