
"Apa sudah siap semua?"
Alex mengangguk lirih. "Daddy and Mommy mu yang urus semuanya!"
"Aku jadi merasa bersalah pada mereka."
"Mereka sangat mendukung apapun yang kau lakukan Bi. Jadi sudah saatnya kau juga memikirkan bagaimana membuat mereka bangga padamu. Tidak hanya memikirkan Dara seorang tapi kau juga harus fikirkan hati dan perasaanmu sendiri juga orang tuamu!"
Biru menoleh pada sahabatnya yang terkesan sangat dewasa, dia mendengus pelan lalu melangkahkan kedua kakinya.
"Seperti bukan kau yang bicara Lex!"
***
Sementara itu 2 mobil beriringan menuju tempat pemakaman, Dara bersama sang ibu dan para suster dan dokter jaga dengan alat alat bantu kesehatan yang di perlukan berada di mobil di belakangnya.
Sophia menyadari hal itu, dia berkali kali menoleh ke arah belakang dimana mobil ambulance mengikutinya. Walaupun sirine jelas tidak mereka bunyikan namun itu sangat mencolok.
"Apakah pelayanan rumah sakit memang seperti ini atau ada campur tangan dari Biru. Kenapa Dokter tiba tiba mengijinkan Dara keluar padahal saat itu aku belum mengatakan apa apa!" gumam Sophia yang menyadari adanya keganjalan.
Dara menoleh ke arahnya, samar samar dia mendengar nama Biru di sebut oleh sang Ibu. "Apa maksud Mami?"
"Hah ... Apa sayang?"
"Mami bilang apa barusan?"
"Tidak sayang, Mami hanya sedang berfikir kalau pelayanan rumah sakit sangat bagus. Mereka memberikan fasilitas yang bagus pada kita. Mengijinkanmu keluar dengan pengawasan seperti ini."
__ADS_1
"Apa menurut Mami ini gak aneh? Apa Biru yang menyiapkan ini semua untuk aku. Aku udah bilang kalau dia terlalu jauh terlibat. Aku gak mau lagi Mami!"
"Lalu apa mau mu Dara. Kau akan terus menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang kamu alami sekarang. Apa kamu tidak pernah berfikir kalau Birulah yang selalu ada bahkan dia tidak peduli apa apapun yang terjadi padamu di masa lalu karena Rian. Mami beruntung kamu bertemu dengannya. Bisa kamu bayangkan sesedih apa Papa saat tahu hal itu, tapi Papa selalu diam dan tidak bisa berkata kata lagi jika berhadapan dengan Biru." terang Sophia yang mulai emosi. "Coba bayangkan jika hidup kita tanpa ada bantuan dari Biru, kau mau hidup mu dan anak mu semakin berantakan. Perusahaan kita dirampas dan semakin kacau hah?"
Dara terdiam memikirkan ucapan ibunya. Kesabarannya sangat tipis dan sangat berbeda dengan Biru yang masih terus kuat. "Kau tahu Dara. Seberapa sabar Biru menghadapimu dan masalah kita? Apa kau tahu ibumu ini juga pernah mengatakan jika dia harus terus sabar padamu padahal Mami sendiri tidak bisa melakukannya. Kau ini keras kepala sekali!"
Dara menggigit bibirnya sendiri. Semarah apa ibunya padanya saat ini. Kesal akan sikapnya karena situasi yang dia alami.
"Mami gak akan ngertiin aku!"
"Ya ... Mami memang tidak akan bisa ngertiin kamu. Tapi asal kau tahu Dara. Biru yang paling mengerti!"
Deg!
Dara semakin terdiam mendengarnya. Situasi ini memang berat tapi Biru juga lah yang selalu ada untuknya. Bahkan sejak awal.
Prosesi pemakaman pun sudah siap dan membuat Sophia dan juga Dara saling bertatapan.
"Apa ini semua? Siapa yang udah melakukan persiapan pemakaman ini?"
"Kau fikir siapa lagi?" Sophia masih merasa kesal, terlihat dari nada suaranya.
Biru ... Pasti dia yang menyiapkan ini semua. Kenapa dia selalu melakukannya walau aku sudah melarangnya. Batin Dara.
Mereka berdua turun, Suster membantu menyiapkan kursi roda untuk Dara, suster itu juga mendorong kursi roda itu melewati jalanan pemakaman sementara Sophia berjalan di sampingnya.
"Dia bahkan menyiapkan upacara pemakaman yang sangat baik untuk Papa. Sedangkan Mami sibuk mengurusi anak yang keras kepala sepertimu!"
__ADS_1
Dara masih terdiam, dengan kedua mata yang terus berair bening saat melewati deretan bunga bunga ucapan bela sungkawa dari rekan rekan bisnis dan juga relasi sang Papa.
Melihat keduanya datang, mereka yang hadir pun menghampirinya untuk sekedar bersimpati dan mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya suami serta Ayah mereka.
Dan Dara tidak menyangka jika disana juga ada ayah dan ibu mertuanya.
"Dara. Tugas Papamu sudah selesai di dunia ini. Jadi iklaskan dia dan hiduplah yang baik!" Tukas Zian, suaranya masih terasa berat sebab mengingat bagaimana Dara memperlakukan Biru.
Berbeda dengan Agnia yang langsung memeluknya dengan erat. "Sayang ... Jangan khawatir lagi ya, walaupun kamu kehilangan sosok ayah. Kamu kamu punya kami, kamu juga punya Biru yang akan selalu ada disampingmu."
Dara semakin menangis tergugu dengan tubuh lemahnya. Dia bisa merasakan kehangatan dari pelukan seorang ibu yang tulus menyayanginya.
"Makasih!" isak Dara.
"Hey ... Kenapa kamu berterima kasih. Kamu adalah keluarga kami, dan kami akan selalu ada dan mendukungmu sebaik yang kami bisa." tukasnya dengan masih memeluk Dara dengan erat.
"Pak Zian ... Terima kasih karena sudah selalu membantu kami." ucap Sophia. Merasa bersyukur bukan hanya Biru yang menerima putrinya dengan baik, tapi keluarganya pula.
"Terima kasihlah pada Biru. Karena dia, kami pun bisa seperti ini pada kalian." ucapnya tegas.
Sophia tersenyum getir, melirik sang putri. Sementara
Dara mengerjapkan kedua matanya. Dia Melihat sekeliling area pemakaman untuk mencari Biru. Seketika kedua matanya terlihat membulat saat melihat mobil Biru terparkir tidak jauh dari sana.
"Biru bodoh. Kenapa dia terus melakukannya." cicit Dara pelan.
Zian menoleh kearah di mana pandangan Dara tertuju. Dia tersenyum tipis namun tidak merubah raut wajahnya yang tegas.
__ADS_1
"Ya ... Dia memang bodoh, dia bodoh karena mencintaimu Dara. Harusnya kau bisa melihat hal itu dan tidak menyia nyiakannya!"