Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.130(Mata Daddy dimana mana


__ADS_3

"Bagaimanapun pria pengecut itu adalah Ayahnya!"


Biru, meskipun marah dan terpukul oleh tindakan Rian, tetap merasakan sentimen yang rumit ketika menyadari bahwa Rian adalah ayah dari anaknya. Dia merasakan kebingungan dan konflik batin karena menghadapi fakta bahwa Rian adalah seorang ayah biologis, meskipun perilakunya sangat mengecewakan.


Dalam hati, Biru merasa kecewa dan marah pada Rian atas tindakan-tindakannya yang telah menyakitkan banyak orang, termasuk Dara dan keluarganya. Namun, dia juga menyadari bahwa status Rian sebagai ayah biologis tetap ada, dan itu memunculkan perasaan yang teramat rumit. Dia tidak bisa mengenyampingkan fakta sebenarnya.


Biru merasa perlu memisahkan perasaannya sebagai pasangan Dara dan sebagai ayah yang mencintai anak mereka. Dia berjuang untuk menemukan keseimbangan antara perasaan kemarahan dan penghargaan akan hubungan keluarga yang rumit.


"Walau bagaimana pun juga aku tidak bisa memisahkan seorang anak dan ayahnya. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan dia mengklaim dirinya sebagai ayah. Ahk ... Ternyata ini sungguh rumit!"


Dalam keadaan seperti ini, Biru menyadari bahwa dia harus menjaga kepentingan dan kebahagiaan anak mereka di atas segalanya. Meskipun hubungan dengan Rian rumit, Biru berkomitmen untuk menjadi ayah yang baik dan memastikan bahwa anak mereka tumbuh dengan cinta, perhatian, dan kestabilan.


Dalam dirinya, Biru merasakan kekuatan untuk melindungi keluarganya, bahkan jika itu berarti menghadapi tantangan dan emosi yang sulit. Dia siap mengambil peran sebagai ayah yang bertanggung jawab dan melibatkan dirinya dalam proses perkembangan anak mereka.


Meskipun menghadapi kompleksitas hubungan dengan Rian, Biru bertekad untuk menjaga fokus pada kepentingan anak mereka. Dia tahu bahwa menciptakan lingkungan yang aman, stabil, dan penuh cinta adalah hal yang paling penting bagi anak mereka, dan dia akan berjuang untuk mencapainya.


Biru akhirnya keluar dari kantor polisi dan melangkah menuju mobil. Namun Biru terkejut dan sedikit bingung saat melihat mobil ayahnya.


"Daddy di sini juga?" tanyanya pada diri sendiri.


Biru sudah bisa menduga apa yang ayahnya lakukan di sana. Dia selalu biasa terlibat dalam urusan pribadinya, terlebih saat ini justru masalah perusahaan. Zian pasti akan segera tahu dengan mudah.


Zian terlihat tengah berbincang dengan kuasa hukum perusahaannya di luar kantor polisi. Dia memperhatikan ekspresi serius di wajah ayahnya, mencerminkan kekhawatiran dan ketegangan.


Rasanya aneh melihat dua dunianya yang sebelumnya terpisah, yaitu keluarga dan bisnis, tiba-tiba bersinggungan di tempat ini. Biru merasa tegang dan bertanya-tanya apa yang sedang dibicarakan oleh ayahnya dengan kuasa hukum perusahaannya.

__ADS_1


Dengan hati-hati, Biru mendekati ayahnya dan kuasa hukum perusahaannya. Dia berusaha menahan emosi dan kebingungan yang ada dalam dirinya. Ketika mereka menyadari kehadirannya, mereka berhenti berbicara dan melihat ke arahnya.


"Dad, apa yang sedang terjadi?" tanya Biru dengan suara sedikit gemetar. Bertanya padahal dia sudah tentu tahu jawabannya. "Apa yang kamu bicarakan dengan kuasa hukum di sini?"


Zian menatapnya dengan serius dan menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya memberikan penjelasan. "Biru, ada beberapa masalah serius yang timbul di perusahaan. Pihak kuasa hukum sedang menyelidikinya dan berusaha menemukan solusinya. Aku di sini untuk memastikan kepentingan perusahaan dan karyawan tetap terjaga."


Biru mengernyit, untuk apa Zian melakukan itu seorang diri. Dia bisa menyuruh seseorang dengan mudahnya.


"Dad?"


Biru merasa campuran antara kekhawatiran dan kebingungan. Dia ingin mendukung saja dan tidak bicara apapun perihal Rian dan perusahaannya.


"Dad, apa Daddy tidak punya pekerjaan lain?"


"Apa maksudmu? Daddy kemari karena Daddy memiliki masalah yang perlu daddy atasi." kata Zian dengan penuh kehati-hatian. "Saat ini, aku perlu fokus pada masalahku, bukan masalahmu atau mengurus masalah pribadi mu!" Ayah Biru menatapnya dengan ekspresi yang penuh percaya diri. "Anakku, kau fikir aku berbohong? Aku tidak mengurus urusanmu. Tapi aku mengurus urusanku! Kau tidak usah khawatir, selesaikan saja masalahmu. Perusahaan mu juga dengan sebaik-baiknya, sambil tetap memperhatikan kepentinganmu." lanjutnya lagi dengan berseringai tipis.


"Ya ...ya ... Terserah Daddy saja kalau gitu!"


Dengan perasaan yang tidak tenang, Biru mempersilakan ayahnya dan kuasa hukum perusahaannya untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Dia berjalan menjauh dari kantor polisi, membawa dalam hatinya tekad untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapinya dengan keberanian dan kebijaksanaan.


Ziandra Maheswara, ayah Biru, melihat putranya dengan rasa bangga dan sedikit prihatin. Meskipun dia memiliki pengetahuan tentang masalah yang sedang dihadapi perusahaannya, dia memilih untuk pura-pura tidak tahu mengenai situasi pribadi Biru.


Dalam hati, Zian merasa bersalah karena telah membiarkan beban perusahaan menimpa Biru. Ditambah masalah Rian yang kompleks dan rumit. Dia menyadari bahwa sebagai seorang ayah, dia harus melindungi dan mendukung anaknya, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.


Namun, Zian juga menyadari bahwa Biru adalah seorang pria yang kuat dan mampu menghadapi tantangan dengan baik. Persis seperti ibunya. Dia percaya bahwa Biru mampu menyelesaikan masalahnya sendiri dengan caranya sendiri. Seperti yang sering di katakan ibunya yang kerap melarang Zian ikut campur.

__ADS_1


Dengan berat hati, Zian mengambil keputusan untuk tidak ikut campur dalam masalah pribadi Biru. Dia memilih untuk memberikan ruang dan kebebasan kepada putranya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia tahu bahwa dukungan dan cinta dari seorang ayah tetap ada, meskipun tidak selalu terlihat.


Dalam diam, Zian menatap Biru yang kini berjalan ke arah mobil. Dia yakin putranya dapat melewati masa sulit ini dengan keberanian dan kebijaksanaan. Dia berharap bahwa mereka dapat menemukan kebahagiaan dan kestabilan dalam hidup mereka, baik dalam keluarga maupun dalam karier mereka masing-masing.


Dengan sikap pura-pura tidak tahu, Zian melanjutkan perbincangannya dengan kuasa hukum terkait penyelewengan Dana yang dilakukan oleh perusahaan Prasetya.


"Apa anda jauh jauh kemari untuk mengurus hal ini?" tanya kuasa hukum perusahaannya.


"Tidak ... Untuk apa aku mengurusi hal kecil ini? Aku kemari hanya untuk memastikan bahwa Rian dan Prasetya membusuk di penjara. Jangan biarkan mereka mempunyai kesempatan menang dalam kasus ini. Jangan biarkan mereka menghirup udara bebas. Kau faham?"


"Dalam hal kerendahan hati dan belas kasih, aku tidak bisa mengandalkan Biru. Dia mirip ibunya yang selalu tidak tega pada orang orang yang telah memberinya masalah. Tapi aku juga tidak bisa diam saja dengan tenang. Ingin sekali ku pukul wajah Prasetya yang berani mempermainkan putraku!" Dengusnya lagi.


Dalam hatinya, Zian menyimpan harapan yang besar untuk keberhasilan dan kebahagiaan putranya. Dia berjanji untuk selalu ada di sana jika Biru membutuhkan dukungan dan bantuan darinya, sekalipun Biru tidak pernah memintanya. Meskipun dengan cara yang berbeda, Zian ingin menunjukkan cintanya sebagai seorang ayah kepada Biru, bahkan ketika mereka berjalan dalam arah yang berbeda.


Ziandra Maheswara, memiliki sikap yang keras dan tidak pandang bulu, ternyata sifat tersebut tidak sepenuhnya diturunkan kepada Biru. Biru lebih cenderung menggunakan akal sehat dan kebijaksanaan dalam menghadapi masalah daripada memilih kekerasan fisik atau konfrontasi langsung.


Biru memiliki pendekatan yang lebih bijaksana dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah. Dia cenderung menggunakan penalaran logis, analisis, dan evaluasi matang sebelum mengambil tindakan. Biru menghargai pentingnya mencari solusi yang adil dan bermartabat, serta mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari setiap tindakan yang diambilnya.


Meskipun dalam beberapa situasi ekstrem atau terdesak, Biru mungkin juga menunjukkan keputusan yang tegas dan sikap yang keras, namun itu lebih merupakan integritasnya dan keinginannya untuk melindungi kepentingan yang dianggapnya penting.


Biru percaya bahwa kekerasan fisik atau konfrontasi tidak selalu merupakan solusi yang terbaik. Dia menyadari bahwa penggunaan kekuatan fisik atau intimidasi hanya akan memperburuk situasi dan berpotensi merugikan semua pihak yang terlibat.


Sebagai pengambil keputusan yang cerdas, Biru berusaha mencapai kesepakatan dan penyelesaian yang menguntungkan semua pihak secara adil. Dia mendasarkan keputusan-keputusannya pada fakta, data, dan pertimbangan yang matang, serta berusaha meminimalkan kerugian dan konflik yang tidak perlu. Persis seperti ibunya.


Dalam hal ini, Biru menunjukkan bahwa sikap yang keras tidak selalu harus berasosiasi dengan kekerasan fisik atau agresi. Dia lebih memilih menggunakan kecerdasan dan kepemimpinan yang bijaksana untuk menghadapi tantangan dan mencapai hasil yang diinginkan.

__ADS_1


Biru menghidupkan mesin kendaraannya dengan sesekali melirik ke arah ayahnya.


"Daddy fikir aku bodoh, Daddy tidak mungkin tidak tahu soal itu. Secara mata Daddy dimana mana!"


__ADS_2