Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.71(Biru yang tanggung jawab)


__ADS_3

"Ok ... Aku akan melakukannya, aku akan minta apapun padamu termasuk aku ingin kamu jadi ayah dari anakku dan kamu tidak bisa menolaknya karena aku yang minta!" Dara berkacak pinggang seraya menyunggingkan bibirnya.


Biru mengerjapkan kedua matanya dengan menatap Dara yang tersenyum. "Kenapa kau masih meminta apa yang sudah aku berikan bahkan dari awal, aku tidak hanya akan jadi ayah dari anak ini tapi aku akan jadi ayah dari anak kita yang lain!"


Dara menelan salivanya sendiri, "Apa ayah dan ibumu gak keberatan kalau anaknya kayak gini?"


"Kayak gini?" tanya Biru dengan kedua alis mengernyit.


"Ya ... Maksudku kan kamu sama aku yang notabene lagi hamil, apa mereka akan nerima anak ini juga?"


"Apa kau masih ragu, padahal kau sendiri sudah bertemu mereka dan lihat sendiri respon mereka padamu?"


Dara mengangguk kecil. "Aku hanya takut dan aku juga malu Bi! Kamu udah baik banget gak cuma sama aku tapi juga anak yang belum lahir ini!"


"Aku ini sedang kesal padamu, tapi kenapa aku tidak bisa marah sekarang!"


Dara tersenyum lagi. "Maaf ya ... Aku cuma gak mau ngerepotin kamu terus terusan!"


Biru menyempilkan anak rambut di sela telinga Dara, "Aku memang dilahirkan untuk direpotkan oleh seorang gadis bernama Aldara Dwi Pratiwi!"


"Iih ... Kamu!"


**


Selepas kepergian Biru dari rumah sakit, Dara masuk ke dalam ruangan ICU dimana Baskoro terbaring lemah, suara suara mesin berbunyi nyaring dan menyayat hati. Hanya Dara yang masuk, sementara Sophia bergantian menunggu di luar.


Dara duduk disamping ranjang, menatap ayahnya yang kembali drop karena permasalahan yang ditimbulkan oleh dirinya. Andai saja malam naas itu tidak pernah terjadi, andai saja dia tidak bertemu Rian dan andai saja ...


Gadis itu baru sadar, jika Prasetya memang berteman dengan Ayahnya sejak lama. Ayahnya juga mengenal Rian dengan baik, kenapa bisa kebetulan Rian jugalah yang membuatnya hamil malam itu. Apa ada hubungannya dengan semua ini, apa ini rekayasa yang sengaja dibuat.


Dara menghela nafas, kepalanya sakit hanya untuk memikirkan masalah itu. Dan tiba tiba saja tangan Baskoro bergerak gerak.


"Papa?"


Baskoro mengerjap ngerjap, menatap langit langit ruangan ICU itu dengan suara Dara terdengar samar ditelinganya.


"Dara---" cicitnya hampir tidak bersuara.


Dara berlari keluar dan memanggil ibunya, dia juga menekan tombol untuk memanggol Dokter agar segera menangani ayahnya yang baru saja membuka mata.

__ADS_1


Beberapa Dokter masuk, dokter yang sama ketika Baskoro di rawat untuk pertama kalinya. Mulai memeriksa Baskoro juga mesin pendukung yang berada di samping kiri dan kanannya.


Beberapa kali juga mereka memanggil nama Baskoro untuk melihat sejauh mana kesadaran pria paruh baya itu.


"Kondisi pasien baru saja membaik, kita lihat perkembangannya yaa Dara!"


"Dok ... Apa Papa akan terus kayak gini?"


Dokter itu menghela nafas, "Pasien riwayat jantung memang kerap kambuh kalau ada pemicu. Stres, banyak fikiran, darah yang tiba tiba naik ataupun tekanan yang dia dapatkan. Jadi selain menjaga pola hidup jaga juga agar pemicu stres tidak mengganggunya. Banyak orang yang memkliki riwayat jantung tapi berumur panjang kok!" terangnya saat selesai memeriksa kondisi Baskoro. "Ayahmu juga akan dipindahkan ke ruang perawatan. Jangan khawatir Dara kami akan membantu sekuat tenaga kami ya!"


Dara mengangguk, menatap name tag yang tersemat di jubah putih pria yang memiliki wajah yang dingin namun ternyata sangat baik.


"Makasih Dokter Irsan!"


Dokter mengangguk kecil lantas berlalu keluar dari ruangan ICU. Terlihat beberapa suster melepaskan salah satu alat dan bersiap memindahkan Baskoro ke ruangan perawatan sementara Dara dan Sophia mengikutinya dari belakang.


"Dara apa kamu sudah mengurus administrasi Papa?"


"Udah Mam, Mami tenang aja ya!"


"Tapi lamu dapat uang dari mana Dara? Tabunganmu pasti juga sudah habis." celetuk Sophia.


Dara terdiam, tatapannya mulai berkaca kaca.


"Non ...?"


Ucapan Dara terhenti saat supir pribadinya datang menghampiri keduanya dengan sebuah paper bag ditangannya. "Ada titipan untuk Non Dara,"


"Dari siapa Pak?"


Supir itu terdiam, melirik sebentar pada Sophia lalu tersenyum tanpa mengatakan apa apa. Dara mengambil paper bag itu dan tersentak saat di dalamnya terdapat barang barang yang dia juga tadi pagi, bahkan surat surat mobil beserta kuncinya.


Dugaan Dara memang benar, pasti Birulah yang membuat semua barangnya kembali.


"Dara. Untuk apa semua ini?" tanya Sang Ibu.


Dara kembali terdiam, tidak ingin mengatakan apa apa pada ibunya.


"Dara?"

__ADS_1


"Gak apa apa kok Mami,"


"Dara ... Katakan pada Mami?" Nada bicara Sophia sedikit meninggi sebab dia tidak ingin Dara melakukan sesuatu yang membuatnya kesulitan sendiri.


"Aku membayar biaya perawatan Papa dengan menjual barang barang ini. Tapi ..."


"Apa? Astaga ... Dara!" Lirih Sophia dengan berkaca kaca.


"Tapi ... Biru mengembalikan barang barang ini. Biru jugalah yang melunasi biaya rumah sakit Mam."


"Biru?"


Sophia mengangguk, "Ya ... Percaya atau enggak Birulah yang selama ini nolong keluarga kita Mami."


Sophia terdiam dengan menggigit sedikit bibirnya.


"Dara ... Jangan katakan apa apa pada Papa soal ini ya! Mami tidak mau Papa kembali drop kalau tahu!"


Dara menatap ke arah sang ibu, itu memang baik karena Papanya mungkin shock jika tahu Biru. Tapi dia juga ingin orang tuanya tahu kalau Birulah yang selalu membantu, bahkan menyelamatkan perusahaan keluarga mereka.


"Dara ... kamu dengar Mami kan?"


Dara hanya mengangguk kecil saja, dia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Gadis itu pun memilih masuk ke dalam ruang inap dimana Baskoro masih terbaring lemah.


"Papa ... Syukurlah, Dara takut Papa kenapa kenapa!"


Ya ... Tuhan, kenapa aku masih diberi kesempatan hidup dan membuat keluargaku semakin sulit. Kenapa tidak ambil nyawaku saja tuhan, mungkin beban mereka bisa sedikit berkurang. Batin Baskoro.


"Dara ... Maafin Papa Nak! Papa akan bicara lagi pada Prasetya nanti. Rian harus tanggung jawab padamu."


"Pap ... Jangan banyak mikir, Papa istirahat aja dan kita fikirin hal itu nanti ya!"


Baskoro menggelengkan kepalanya dengan lemah, "Papa tidak akan hidup tenang Nak, bagaimana masa depanmu dan anak itu nanti!"


"Pap ... Please, yang penting Papa sembuh dulu aja! Yang penting Papa selalu ada buat Dara ya."


"Tapi Dara ... Siapa yang akan tanggung jawab akan hidupmu kalau papa sudah tidak ada Nak!" Sambung Baskoro lagi. "Mau bagaimana nanti!"


Dara menghela nafas beratnya, dia memang harus mengatakan semuanya pada keluarganya mengenai Biru. Agar mereka juga tahu jika Birulah yang membuat hidupnya lebih baik saat ini.

__ADS_1


"Biru yang akan menjadi ayah dari anakku Pap. Biru yang akan menggantikan Rian yang seharusnya tanggung jawab. Biru juga lah yang membantu kita selama ini Papa,"


"Apa maksudmu? Biru sama saja dengan Rian, mereka sama sama brengsekk Dara!"


__ADS_2