Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.51(Menolong)


__ADS_3

Keesokan pagi


Dara terbangun dengan kedua mata yang bengkak, semalaman dia hanya menangis dan meratai nasibnya sendiri dengan mimpi mimpi yang dia kubur sedalam dalamnya.


Pagi pagi sekali Dara sudah siap pergi, dia tetap menjalani hari harinya dengan menyibukkan diri dengan segala aktifitasnya. Setelah cantik dan rapi, Dara turun ke bawah dan mendapati ayahnya belum pergi ke kantor.


"Mulai hari ini kamu akan di temani supir untuk mengantarkanmu pergi kemana mana!" seru Baskoro.


Dara tidak menjawabnya, dia melenggang pergi kleluar tanpa ingin sarapan terlebih dulu. Dia juga tahu tidak akan bisa menolak semua perkataan Ayahnya itu.


Seorang supir sudah siap menunggunya di luar, walaupun tidak ada yang mengatakannya, tapi Dara yakin jika pria itu adalah supirnya.


"Non ..."


"Ayo pergi!" ujar Dara dengan masuk ke dalam mobil tanpa menunggu lama.


Supir segera masuk, lalu melajukan mobilnya sesuai perintah nona barunya. Sementara Baskoro dan juga Sophia hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan putri mereka.


"Lihatlah putrimu. Dia sangat keras kepala!"


"Kita terlalu menekannya Pap, Mami sedih melihat putri kita jadi seperti ini." sahut Sophia.


Baskoro hanya menghembuskan nafas saat mendengarnya namun tidak mengeluarkan satu kata pun.


Sementara mobil yang membawa Dara melaju dengan kecepatan tinggi mengarah ke arah kampus. Namun di tengah perjalanan Dara menyuruh supir untuk menghentikan kendaraannya.


"Berhenti, aku mau turun di sini!"


"Tapi Non, nanti ibu dan bapak marah karena non turun di sini!"


"Kamu bilang aja gak tahu atau kamu tidak perlu pulang sampai nanti siang!?"


"Lalu aku harus kemana Non, ini hari pertamaku dan aku akan mendapat masalah gara gara ini."


"Terserah kemana aja!" ujar Dara tidak peduli.


Dia segera turun dari mobil di persimpangan jalan, membuat supirnya sendiri kesulitan berbalik arah untuk mencegahnya. Dara sendiri langsung menaiki taksi, walaupun dia tidak tahu kemana tujuannya kali ini, dia hanya ingin pergi saja untuk menenangkan diri.


Akhirnya dia memilih pergi ke suatu tempat yang cukup sepi, sebuah taman yang berada tidak jauh dari sana.


Setelah membayar ongkos taksi, Dara masuk ke kawasan taman, mencari tempat tenang untuk duduk, dan akhirnya menemukan tempat duduk persis di depan sebuah danau buatan.


Dara duduk dengan menatap luasnya danau, suasana sepi yang membuatnya tenang tanpa ada gangguan, berharap ponselnya berdering dan Biru yang menghubunginya.


Sampai ada dua orang pria yang terlihat mengejar seorang wanita yang berteriak dengan keras.

__ADS_1


"Tolong ... Tolong aku!"


Dara menoleh, melihat dua pria itu merebut tas milik seorang wanita yang berusaha mempertahankannya. Tanpa fikir panjang, Dara mengambil sebuah batu yang cukup besar dan melemparkannya ke arah pria pria tersebut.


"Hey ... Aku akan lapor polisi!" serunya dengan berteriak.


Kedua pria itu berseringai dengan satu pria menghampirinya. Dara sebenarnya takut juga, dia tidak memiliki bela diri apapun.


"Jangan ikut campur! Pergilah."


"Mana bisa begitu, aku akan lapor polisi!" ucaapnya dengan menekan nomor 911 di ponselnya.


Namun pria itu merebut ponsel dengan kasar dan langsung melemparkannya ke semak semak. Situasi semakin mencekam saat pria itu merebut tas miliknya. Dara berteriak minta tolong sementara wanita tadi mengambil sebilah kayu daan memukulkannya pada pria yang bersamanya.


Bugh!


Sampai pria itu ambruk dan temannya yang bersama Dara berlari menolongnya. Kesempatan itu di pakainya untuk berlari ke arah Dara, Wanita itu segera menarik tangannya dan mengajaknya berlari untuk bersembunyi.


"Kenapa kau nekat sekali, kau hanya akan membuat mereka marah saja!" Ujarnya pada Dara.


"Aku hanya berniat menolong Tante!" sahut Dara dengan terus berlari.


"Nolong sih nolong, tapi jangan konyol, kita berdua bisa habis gara gara kamu!"


Keduanya baru berhenti di sebuah kursi, dan wanita itu langsung duduk karena kelelahan.


"Baguslah, aku memukulkan pukulan yang keras tadi!" ujar Wanita itu dengan terengah engah, "Terima kasih ya, kekonyolanmu membuat kta selamat, mereka berandal sial an!"


Dara menghela nafas, ikut mendudukkan diri di sampingnya dengan terengah engah pula seraya memegangi perutnya yang terasa tegang.


"Kamu kenapa. Lapar?"


Dara menggelengkan kepalanya lirih, dan baru ingat jika tidak sempat makan apapun dari semalam, selain otot otot perutnya terasa menegang, dia juga juga merasa lapar ternyata.


"Huh ... Anak muda sekarang selalu melupakan asupan gizi yang penting bagi tubuh dan otaknya. Aku akan mentraktirmu makan, ayo!"


"Gak usah Tante."


"Aku mentraktirmu sebagai ucapan terima kasih karena telah menolongku, kamu tahu aku membawa banyak uang untuk pergi menyetor ke bank hari ini, gak kebayang kalau mereka berhasil merampokku, raib sudah hartaku ... Ayo, aku tidak suka hutang budi!" ujarnya dengan berjalan.


"Tapi aku harus cari ponselku dulu!"


Wanita itu menoleh lagi, melihat Dara berjalan ke arah lain darinya. "Sudahlah, aku akan memberikan ponsel yang baru, dari pada kau kembali dan mereka menemukan kita!"


"Enggak Tante makasih, tapi ponsel itu penting banget buat aku!" jawab Dara, entah apa yang akan terjadi jika ponsel miliknya tidak dia cari sampai dapat, dia juga akan kehilangan komunikasi dengan Biru.

__ADS_1


"Heh ... Dasar anak muda, apa kamu takut tidak bisa menghubungi pacarmu ya!"


Dara menoleh ke arah belakang, ternyata wanita itu mengikutinya.


"Kok Tante tahu?" desisnya seraya tersenyum tipis.


"Tante juga pernah muda dan Tante tahu hal semacam itu. Ayo ... Tante bantu cari, ponselmu hilang juga gara gara nolong Tante!"


Mereka berdua akhirnya kembali ke tempat tadi, benar saja kedua pria yang mengejarnya sudah tidak ada, jadi mereka bisa mencari ponsel milik Dara dengan tenang sampai menemukannya.


Dan akhirnya mereka berdua pergi ke satu kafe dengan jarak yang cukup lumayan, mereka berdua berjalan dengan waspada sampai masuk kedalam kafe. Melihat Dara yang kelelahan dengan terus memegangi perutnya yang tegang membuat wanita berambut panjang itu khawatir.


"Kamu pasti capek. Maaf ya! Sekarang kamu pesan apa saja yang kamu mau, jangan sungkan."


"Makasih Tante."


Mereka berdua memesan cukup banyak makanan dan camilan, terlihat Dara makan dengan lahap seraya terus melihat ponselnya.


"Kamu sedang nunggu seseorang menghubungimu ya?"


Dara mengangguk, "Dia udah janji hubungi aku Tante!"


Wanita itu tertawa, "Laki laki memang begitu, apa kau percaya dia kan menghubungimu? Bagaimana kalau dia tidak menghubungimu?"


Padahal Dara tidak mengatakan apapun soal sosok yang dia tunggu. Tapi wanita itu menebaknya dengan benar jika dia menunggu seorang laki laki menghubunginya.


"Tidak ada yang bisa aku percaya selain dia sekarang ini Tante, kalau dia berbohong ... Aku gak tahu lagi bagaimana aku hidup kedepannya."


Wanita itu terdiam, memperhatikan raut kesedihan yang mendalam yang tercetak jelas di wajah Dara. Dan tiba tiba dia memesan sesuatu pada pelayan kafe.


"Makanlah es krim ini, konon katanya Es krim bisa membuat seseorang menjadi tenang!" ujarnya dengan menyodorkan Es krim dengan porsi jumbo di hadapannya.


Dara mendongkak menatapnya, wanita itu tersenyum dengan lembut, dua maniknya terlihat menenangkan.


"Tante baik sekali, padahal kita baru saja bertemu, gak kayak ibu aku!"


"Kenapa kamu bicara seperti itu, semua ibu sudah tentu baik bagi anak anaknya, mereka akan melakukan apa pun demi anaknya!"


"Ya ... Aku tahu itu Tante ... Tapi itu bukan Ibuku!"


Ternyata khasiat Es krim yang katanya bisa membuatnya tenang itu berhasil, perasaan Dara mulai tenang dengan sendirinya, ditambah suasana kafe yang mendadak sepi, hanya musik dari home band yang mengalun lembut. Juga wanita yang dia tolong yang hanya diam tanpa banyak bertanya. Tatapannya teduh dengan tutur kata bijaksana membuat Dara semakin tenang.


"Terima kasih Tante untuk makanan dan es krimnya, aku harus pergi."


Wanita yang tidak di ketahui namanya itu mengangguk kecil, lalu menggenggam tangannya dengan lembut.

__ADS_1


"Percayalah langit tidak akan selalu mendung, ada saatnya warnanya akan cerah. Begitu juga hidupmu Dara!"


__ADS_2