
"Kau tahu Baskoro ... Aku akan segera menarik sahamku di perusahaanmu itu! Dan kau akan menyesal Bas!"
Setelah mengatakan hal itu Prasetya dan Rian pun meninggalkan rumah Baskoro, dan tentu saja dengan kekesalan yang menjadi jadi.
"Papa lihatkan tadi. Mereka sangat sombong dan angkuh tidak mau memaafkan kita!"
"Itu karena kau bodoh, tidak memakai otakmu saat melakukan hal seperti itu!" dengus Prasetya benar benar kesal. "Sekarang kita harus berhati hati. Jangan sampai membuat kesalahan seperti itu lagi kalau tidak kita sendiri yang kesulitan. Satu lagi, kau urus proses penarikan saham dari perusahaan Baskoro. Kita lihat mereka pasti akan jatuh juga. Ditambah Baskoro sekarang penyakitan dia tidak akan mampu mengurus perusahaannya."
"Tapi bagaimana dengan anakku Pap?"
Prasetya kembali mendengus, "Dasar kau bodoh. Apa yang ada di otakmu hanyalah anak itu? Dia tidak akan berguna sama sekali, hanya akan membuat kita semakin repot saja!"
Rian akhirnya diam, dia masuk kedalam mobil begitu juga Prasetya. Mereka berdua melaju meninggalkan rumah Dara.
Mereka berdua langsung meluncur ke perusahaan mereka sekaligus benar benar akan menarik investasi dan sahamnya dari perusahaan Baskoro, mereka benar benar melakukannya tanpa berfikir dua kali dan tidak memikirkan lagi anak yang di kandung Dara.
Sementara itu di rumah kediaman Baskoro, Sophia berdecak kesal melihat Rian dan Prasetya pergi begitu saja, mereka bahkan tidak sedikitpin membahas soal anak yang dikandung Dara dan kelanjutannya, justru mereka malah hendak menarik diri dari perusahaan suaminya. Lantas bagaimana kedepannya.
"Mereka sangat keterlaluan, tapi kamu juga sangat berlebihan Dara, Rian sudah menyesali perbuatannya dan dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Lalu bagaimana dengan perusahaan kalau mereka menarik sahamnya. Kenapa kamu tidak memaafkannya saja," Sophia terlihat khawatir setelah mendengar deru mesin mobil yang terdengar keras.
"Mam ... Mereka gak benar benar nyesel, itu karena mereka takut jika perbuatan mereka membuat proyek mereka sendiri gagal! Mereka takut itu saja! Bukan karena benar benar merasa bersalah.
"Apa maksudmu?" tanya Baskoro.
Dara menghela nafas dengan panjang. "Papa ingat saat Om Pras bilang kalau mereka punya mega proyek?"
"Ya Papa ingat itu! Apa hubungannya dengan semua ini?"
__ADS_1
"Pap ... Mega proyek itu milik perusahaan G.G coprs ... Dan Papa tahu artinya? Mereka takut kalau Biru ...!"
Baskoro terhenyak, bisa menduga semuanya sekarang. "Jadi mega Proyek itu milik Biru juga?"
Dara mengangguk, "G.G coprs yang memberikan mega proyek itu sama Om Pras. Aku udah tahu saat dulu gak sengaja lihat Om Pras ketemu komisaris dari G.G Coprs. Ayahnya Biru!"
"Apa. Mereka bahkan menemuinya langsung?"
Dara mengangguk, "Saat itu aku gak tahu kalau dia komisaris juga ayahnya Biru. Jadi aku gak terlalu merhatiin apa dan gimana mereka bertemu. Aku juga gak nanya soal itu sama Biru. Dara malu! Tapi yang aku tahu Om Pras dan Rian sangat berharap banyak pada Mega proyek itu. Mereka bahkan mengadakan acara lobi melobi tapi gak tahu juga gimana hasilnya. Biru gak cerita sama aku!"
Baskoro hanya terdiam mendengarkan semua perkataan Dara, namun fikirannya terus berputar putar dengan segala dugaan dan kemungkinan yang terjadi.
"Pantas saja kalau saat ini kedua orang itu meminta maaf pada mu, saat Rian mengancamnya pun bukankah Biru yang menolongmu. Bisa jadi Biru yang menyuruhnya kemari untuk minta maaf!" terang Sophia yang menyambungkan semuanya.
Persis sekali dengan fikiran Baskoro saat ini tapi dia tidak berani mengungkapkannya seperti sang istri.
"Mami mungkin benar, dia tidak setulus apa yang kita kira, mereka berdua itu sangat licik!" ucap Dara lagi "Mereka bahkan gak peduli anak ini!" tambahnya.
Tapi Baskoro masih belum tahu apa tujuan Biru yang justru memberikannya sebuah mega proyek. Dimana proyek itu akan sangat menguntungkan perusahaan Prasetya. Lamat lamat dia menatap ke arah sang putri semata wayangnya.
Apa Biru melakukannya karena Dara, Biru pasti tidak ingin Dara menikah dengan Rian, padahal dia tahu jika Dara mengandung anak dari Rian, dan dengan bodohnya aku memisahkannya keduanya, juga terbujuk untuk segera mengurus pembatalan pernikahan mereka. Ya tuhan apa Biru benar benar mencintai putriku. Batin Baskoro.
Dan satu lagi jika saham Prasetya ditarik, maka itu semua tidak akan jadi masalah besar sebab saham milik Biru lebuh besar. Memikirkan hal itu Baskoro sedikit lega, mungkin sikap Biru membuatnya kesal, tapi melihat apa yang dilakukannya Baskoro bersyukur juga.
Aku harus terus meminta maaf sampai Biru memaafkanku. Aku sadar Biru lebih baik dari pada Rian bahkan tidak hanya memikirkan Dara tapi juga perusahaanku. Biarlah Biru melakukan semuanya sampai dia merasa tidak lagi kesal padaku, aku akan menerima semua perlakuannya dengan senang hati. Lagi lagi Baskoro hanya membatin.
Dara memperhatikan ayahnya yang kembali diam, wajahnya sayu dengan sediit guratan guratan menua yang terlihat mengkhawatirkan. Baskoro yang biasanya tegas dan juga sedikit kasar kini tidak lagi berdaya.
__ADS_1
"Pap ...?"
"Ya Dara ...!"
"Jangan banyak fikiran ... Lebih baik emang gitu aja. Biarin mereka keluar dari perusahaan kita agar kita gak punya urusan lagi sama mereka. Dara udah muak sama Rian."
"Dara ... Apa kamu tidak keberatan. Papa ingin sekali bicara pada Biru."
"Bicara sama Biru? Tentang apa? Jangan bikin malu Pap ... Kita udah banyak ngerepotin Biru."
"Tidak ... Papa hanya akan bicara saja! Dan kamu benar, Biru yang sudah banyak membantu kita." tukas Baskoro lagi. "Papa ingin berterima kasih sekaligus meminta maaf dengan cara yang benar!"
"Iya Pap ... Nanti aku sampaikan sama Biru."
Baskoro akhirnya mengangguk, dia lantas bangkit dan melangkah ke arah ruang kerja miliknya. Sementara Sophia menyiapkan makanan untuk Dara.
"Mam ... Kira kira apa yang ingin Papa bicarakan sama Biru?"
Sophia menyimpan piring yang sudah dia isi dengan nasi goreng tempura ke hadapan Dara. "Mami gak tahu sayang. Makanlah. Semakin hari kita semakin makan sederhana!"
Dara terkekeh. "Gak apa apa Mami, Dara justru senang, Mami gak sibuk arisan dan ketemu geng sosialita Mami. Kita jadi sering di rumah dan ngobrol!"
"Iya juga ... Entahlah Mami harus senang atau sedih ini!" ujar Sophia dengan mendudukkan tubuhnya di kursi samping Dara seraya menatap pintu berwarna coklat dimana Baskoro masuk.
"Mami tidak tega sama Papa ... Papa pasti banyak fikiran sampe terus sakit sakitan!"
.
__ADS_1
.
Seru gak sih ... Seru lah yaaa ... Wkwwkkkwkk ....