Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.90(Bayaran paling tinggi)


__ADS_3

"Iya ... Papa mengerti Dara, maafkan Papa!!"


Dara menatap ayahnya dengan nanar, sepertinya hati Papanya untuk Biru memang sudah sedikit melunak, wajah Baskoro juga terlihat sedih saat ini, tidak seperti saat sebelumnya.


"Perusahaan kini tidak lagi sama, Papa sedikit takut jika Prasetya benar benar menarik sahamnya dari sana!"


"Biarkan saja Pap, Itu justru bagus. Dengan begitu kita tidak perlu lagi berurusan dengan mereka berdua, semua hanya akan jadi percuma karena dari awal mereka memang tidak benar benar ingin bertanggung jawab." Ucap Dara tegas, masa bodo jika Rian adalah anak dari ayah yang di kandungnya.


Tidak berselang lama, Biru tiba di rumah Dara, dan pembicaraan mereka berdua pun berhenti begitu saja. Baskoro dan Dara turun untuk menemuinya, namun Baskoro memilih untuk masuk ke dalam ruang kerja dari pada menghampiri Biru.


Biru tentu saja melihat hal itu, namun yang ada di fikirannya saat ini adalah Dara


"Gimana Bi, apa kamu dan ayahmu bertengkar?"


"Tidak. Kami tidak bertengkar, hanya saja ada sesuatu yang harus aku jelaskan begitu juga Daddy bicarakan padaku,"


Dara bernafas lega saat mendengarnya, "Maafkan Papa aku ya Bi. Aku malu banget sama Papa kamu."


"Kenapa kau selalu bicara malu, aku masih melihatmu memakai baju dengan kumplit!!" tukas Biru dengan terkekeh. "Lagi pula bukan kamu yang harusnya meminta maaf, kamu tidak salah."


Tak berselang lama Sophia menghampiri keduanya, mereka menoleh bersamaan ke arahnya,


"Mami dapat kabar kalau Rian masuk rumah sakit! Dia mengalami luka cukup serius di kepala daan wajahnya. Kau tidak melakukan sesatu hal yang buruk untuk membalas dendam pada Raian bukan?" tuduh Sophia pada Biru,

__ADS_1


"Mam!" sentak Dara, "Mami nuduh Biru yang bikin Rian masuk penjara?"


"Mami tidak tuduh Dara, Mami hanya bertanya, semua orang tahu jika Biru dan Rian selalu tidak akur, Biru juga yang memukuli Rian saat di rumah sakit. Mungkin dia juga melakukannya saat ini." tuduhnya lagi secara terang terangan.


"Tante ... Kalau spekulasi Tante dengan menyebut nama seseorang apalagi secara langsung seperti ini bisa di sebut tuduhan, apa Tante bisa membuktikannya jika itu perbuatanku?"


Sophia terdiam, sementara Dara heran karena melihat Biru yang tidak sedikitpun kaget saat tahu Rian masuk rumah sakit, dia justru merasa yakin saat bicara pada ibunya kalau itu tuduhan.


"Aku rasa keputusanku membawa Dara keluar dari rumah ini sangat tepat, di sini terlalu toxic dan itu tidak bagus untuk kandungannya! Jadi Tante, restui pernikahan kami, Ayo Dara!"


Akhirnya mereka berdua keluar dari rumah itu, Biru juga membawa dua koper milik Dara, tidak menunggu waktu lama lama untuk berpamitan, dia jugaa tidak menemui Baskoro begitu juga Bskoro yang tetap mengurung diri di ruangannya. Sampai akhirnya mobil miliknya melaju dari rumah itu.


"Bi ... Maafkan orang tuaku ya, aku gak ngerti lagi kenapa mereka masih saja kayak gitu. Padahal mereka tahu kamu udah banyak ngelakuin hal buat mereka, buat aku juga."


Dara terdiam, merasa kecil hati dan juga malu karena sikap orang taunya pada Biru. Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah apartemen mewah. Namun Biru tidak juga keluar dari mobil setelah mematikan mesin kendaraannya.


"Kau percaya jika aku yang membuat Rian masuk rumah sakit? Seperti yang dituduhkan ibumu?"


Dara terdiam, sesungguhnya dia juga tidak yakin kalau Biru melakukannya, tapi yang bermasalah dan satu satunya orang yang memiliki indikasi melakukannya hanyalah Biru.


Melihat Dara hanya diam saja, Biru menghela nafas, "Tidak perlu kau jawab, kau akan tahu dengan sendirinya kalau aku tidak pernah melakukannya, kalaupun kau ingin melakukannya aku tidak akan melakukannnya sekarang, aku akan melakukannya sejak lama, untuk apa aku melakukannya sekarang di saat aku tahu kalau kita masih suami istri? Itu lebih penting buatku sekarang,"


Dara terkesiap, apa yang di katakan Biru memang masuk akal sekali, tapi entahlah. Dara tidak berani bicara apapun.

__ADS_1


"Sudah, apa kau tidak lelah terus mengurus masalah seputar Rian. Ayo ...!" ujar Biru yang membuka pintu lantas keluar.


begitu juga dengan Dara yang langsung terkesiap dan keluar menyusulnya.


"Apa kita akan tinggal di sini?"


"Tentu saja,"


"Aku kira kita akan tinggal di apartemen yang pernah kita tinggali itu" ucap Dara mengingat gedung apartemen sebelumnya sangat berbeda dengan yang saat ini dia lihat.


Biru berdecih, "Dara ... Biru yang kau lihat beberapa bulan lalu itu adalah Biru yang tidak ingin identitasnya ketahuan hanya karena kontrak yang kita buat, aku tidak ingin membuatmu kecewa, tapi inilah aku yang sebenarnya!" ujarnya dengan kedua alis naik turun.


Dara tersenyum, melingkarkan tangan pada lengan Biru, "Ya ... Ya ... Kamu ternyata seorang yang kaya raya, aku salah menilaimu!!"


"Ya ... Kau salah besar dan kau harus membayarnya malam ini."


"Biru!"


Biru melenggang pergi begitu saja dengan bibir yang melengkung lebar sementara Dara masih terkesiap di belakangnya, tak lama dia baru menyusulnya dengan tersenyum tipis.


"Aku harus bayar berapa untuk ganti semuanya?" ujar Dara yang kembali melingkarkan tangannya.


"Aku akan memikirkanyaa setelah kita di kamar! Bersiaplah Dara, aku pastikan akan meminta bayaran paling tinggi!"

__ADS_1


__ADS_2