
Acara makan malam pun berjalan sempurna, sepasang suami istri beserta satu orang anak perempuan yang terus menatap Biru dengan tersenyum. Baskoro akui jika Biru memang pintar saat berbicara, wawasannya luas dan memberikan penjelasan yang amat hati hati.
Dara tersentak saat Biru mengatakan hal itu, terlihat bibirnya tersenyum hangat dengan tatapan yang sulit di artikan. Namun Dara juga cukup tahu diri, Biru hanya sedang berakting saja, dan tak lama senyum manis Biru berubah menjadi ringisan.
Dug!
Dara menginjak sepatu Biru dengan keras, menyuruhnya agar tidak mengatakan hal hal membuat hatinya hangat, takut melambung tinggi lalu terhempaskan begitu saja.
"Argh! Apa apaan ... Kenapa menginjak kakiku?" cicitnya pelan.
"Sayang, jangan bikin malu ... Masa bicara soal ranjang di depan orang tua sih! Malu tahu." Dara tersipu sipu dengan tatapan tajam.
"Astaga ... Itu kan wajar sebagai pasangan suami istri. Iya akan Om ... Tante?"
Diam diam Biru mengusap kakinya yang sakit, namun juga masih terkekeh karena berhasil mengerjai Dara.
"Kalian ini manis sekali!"
"Betul, mereka sangat manis. Cocok sekali! Bukan begitu pak Baskoro?"
Baskoro hanya bisa mengangguk saja saat sepasang suami istri terus membahas Biru dan segala kecocokannya.
"Mungkin besok atau lusa Biru sudah bisa bergabung ya Biru, aku ingin proyek ini dia yang pegang. Setuju kan Bas?" ucap pria paruh baya yang terus menatap Biru dengan tersenyum.
Baskoro tersentak, mana mungkin mempercayakan satu proyek besar. Bahkan dia belum pernah melihat CV diri Biru, kemampuan bicara nya mungkin bagus, wawasan luas tapi belum tentu soal bisnis. Yang ada bisa bangkrut dan hancur proyek ini. Fikirnya.
Tapi akhirnya Baskoro hanya bisa mengangguk saja di depan mereka, memperlihatkan jika dia memang menerima Biru dengan terbuka.
Makan malam yang tegang bagi Baskoro akhirnya berakhir, Sepasang suami istri itu pamit undur diri dengan mengapit seorang anak kecil yang terus melambaikan tangan dan hanya Biru yang membalas lambaian tangannya.
"Bagaimana mungkin dia percaya kau semudah itu, kau memang pintar membual!" Ketus Baskoro seraya melangkah masuk.
Biru jelas mendengarnya namun dia tidak peduli. Pria berusia 22 tahun itu mengerdikkan kedua bahunya lalu masuk.
"Dimana kamarku?"
"Dih ... Dasar gak tahu malu!" cicit Dara yang menyusulnya masuk.
__ADS_1
Drett
Drett
Ponsel Biru berdering, dengan cepat Biru melangkah ke area belakang dan mengangkatnya dengan cepat, sementara Dara mengernyit lantas mengerdikkan bahu melihatnya.
'Apa? Kau ini tidak sabaran sekali!'
'Aku hanya ingin bilang kalau hutangmu semakin banyak Biru! Biaya dua asisten rumah tangga ku, sewa taksi dan sekarang susah payah aku merayu kedua orang tuaku untuk kerja sama dengan mertuamu itu, konyol sekali.'
'Iya aku tahu Lex ... Tenang saja, aku tahu diri dan tahu bagaimana berterima kasih!'
'Bagus! Dan setelah ini ... Apa rencanamu?'
'Aku belum tahu, ah iya katakan pada adikmu ... aku menyukainya, dia sangat manis sekali!'
Tut!
Biru segera menutup sambungan teleponnya bersama Alex, dan membalikkan tubuhnya untuk kembali masuk ke dalam rumah. Namun dia tersentak saat melihat Dara yang berdiri di belakangnya dengan tatapan datar.
Dara mendengus, walaupun mendengarnya dengan jelas jika Biru menyukai seseorang sebab dia sangat manis.
"Dih ... Kagak usah kepedean ya, siapa yang nguping! Jelas jelas aku mau kesana." tunjuknya ke arah kolam renang.
Biru berjalan ke arahnya dengan berseringai, "Malam malam mau renang? Kau bodoh atau apa. Lupa kalau kau sedang hamil? Sudah konsultasi dokter? Belum kan ... Jadi tidak perlu banyak tingkah!" ucapnya dengan jari telunjuk yang mendorong dahinya lantas melangkah masuk.
Membuat Dara kesal dan menyusulnya masuk, mengikuti langkahnya yang naik ke lantai dua rumahnya.
"Heh ... Gak sopan banget sih jadi orang, gak sekolah dan belajar tatakrama?"
"Enggak ... Sekolahku terlalu bebas, tidak belajar tata krama!"
"Pantasan kurang ajar dan gak tahu malu!"
Biru menghentikan langkahnya tepat di tangga paling atas, membalikkan tubuh ke arah belakang di mana Dara terus mengikutinya. "Di sekolah aku hanya belajar untuk mentaati peraturan dan saling menghargai. Satu patuhi semua peraturan yang sudah di buat," ucapnya dengan melangkah turun satu anak tangga. "Dua ... Saling menghargai!" ujarnya lagi dengan turun lagi satu anak tangga hingga berada tepat di depan Dara. "Dan ketiga tepati janji!"
Dara tentu saja tersentak, tiga poin yang dia langgar semuanya, dan Biru seolah sengaja mengatakannya secara tidak langsung.
__ADS_1
"Kamu sengaja nyindir aku?"
"Memangnya kau merasa tersindir?"
Dara mengerjap, "Ya ... memangnya ada pelajaran seperti itu di sekolah?"
"Bodoh!" Biru kembali naik dan melenggang pergi, dia berjalan ke arah pintu kamar.
"Heh ... Makin berani tuh anak!" Dara menyusulnya kembali. "Ini kamar aku! Kamu di sebelah." ujarnya dengan menarik Biru dan membawanya keluar dari kamarnya.
"Suami istri tidur bersama bukan?" Biru kembali melangkah masuk ke dalam kamar Dara, sengaja menggoda Dara dan membuatnya terus kesal.
Sophia melihatnya dari lantai bawah dan terus berdecak, Biru yang mempesona di depan relasi bisnis suaminya nyatanya hanya pria yang masuk kedalam rumahnya dengan tidak tahu diri.
"Apa apaan sih! Sudah jelas kau tidak bisa tidur satu kamar dengan Dara, ayo kembali ke kamar mu!" sentak Sophia yang datang menghampirinya dan menariknya.
Dara tersenyum, dan menatap Biru dengan puas. "Rasain!"
"Tenang saja Mama mertua, aku tidak akan menyentuh Dara walaupun Dara istriku, dia bukan seleraku!" ucapnya dengan alis yang dia naik turunkan, setelah itu barulah keluar dari kamar Dara.
"Istirahatlah sayang, jangan fikirkan perkataannya. Kamu memang bukan seleranya, kamu memang tidak pantas untuk pria kurang ajar dan tidak tahu malu itu!" ujar Sophia yang mengelus kedua pipi Dara.
Dara mengangguk lirih, Aku memang bukan seleranya, dia menyukai orang lain dan gadis itu manis sekali. Huft ... Lagian kenapa aku gak ngarep kok please deh. Batin Dara.
Namun hampir tengah malam Dara tidak dapat memejamkan kedua matanya dengan benar, dia hanya berguling ke sana kemari dengan gelisah. Memikirkan gadis seperti apa yang di sukai Biru, pria itu selalu meninggalkan kesan baik dalam setiap ucapannya, sekalipun perkataannya sangatlah membuatnya kesal.
Sementara Biru duduk dengan menopang kaki di sudut kamarnya, menggulir layar ponsel dan membaca semua email yang masuk termasuk pesan singkat dari Alex.
Pria itu menghela nafas, lantas menghempaskan ponsel ke arah samping begitu saja. Liburannya di indonesia hanya tinggal beberapa hari lagi.
Biru pun bangkit dan keluar dari kamar, berjalan ke arah kolam renang dan duduk di kursi santai.
"Mana mungkin ... Emangnya semanis apa sih cewek itu! Bikin penasaran aja, emang ada yang suka cowok macam dia. Yang ada bikin ilfeel tiap hari!"
Biru menoleh ke arah suara, ternyata Dara yang terus menggerutu tanpa tahu dirinya ada di sana dan mendengarkannya dengan jelas.
"Bikin gak bisa tidur gara gara tuh manusia aneh! Gak mungkin aku tanya langsung kan tengsin ya! Ah ... Aku harus tanya si belek kalau gitu!"
__ADS_1