
...Hari ini Bidara lagi seneng ... Up banyak sampai othor ngabrutt nih tapi like dan komen loncat loncat ... Sedihhh atuututuuu.... Tapi gak apa apa ... Akhir bulan gak kena review sistem aja udah syukur lah yaaa ... Biasanya degdegser sampe utak atik wkwk... Makasih buat kalian pendukung Bidara yaa.......
.
Brak!
Semua staff tersenyak, saat sang Dewan komisaris yang biasanya hanya memeriksa pekerjaan mereka via zoom meeting menggebrak meja.
Mereka semua mengira ngira dan menduga duga siapa gerangan yang berbuat kesalahan.
"Kerja kalian sangat bagus! Tapi jangan terlena dan berleha leha karena kalian bisa terkecoh. Tingkatkan!" serunya dengan tersenyum.
Staff yang awalnya tegang kini menghela nafas dan riuh tepuk tangan pun mulai terdengar, dan Zian pun keluar dari ruangan meeting.
"Apa apaan? Apa Daddy harus melakukan hal seperti itu?" tukas Biru.
"Tapi bos besar keren!"
Biru melirik ke arah Alex dengan tajam. "Kau mau aku gebrak juga?"
Alex menggelengkan kepalanya, mengikuti Biru yang juga keluar karena meeting sudah selesai. Dia masuk ke dalam ruangannya dan tersentak kaget saat melihat ayahnya kini berada di ruangannya.
"Ku dengar kau keluar kantor hari ini?" tukasnya tajam, kedua tangannya membuka lembar demi lembar berkas yang berada di meja miliknya.
"Ya ... Aku ada urusan!"
"Selain pekerjaan dan Ibumu ... Apa yang membuat urusan itu menjadi prioritas sampai kau keluar dijam kerja?"
Biru terdiam dengan raut wajah yang kini sulit di artikan. Ayahnya memang tidak pernah bisa dia tebak, selain baik tapi dia sangat tegas terlebih soal pekerjaan.
"Apa ini masalah perempuan mu?" tanya Zian lagi.
"Daddy menebaknya dengan benar!" Biru tersenyum namun sangat tipis.
Zian kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa. "Astaga ...!" lirihnya. "Kenapa sifatku menurun semua padamu?" lirihnya lagi.
"Mana aku tahu Dad!"
"Mami mu pasti tertawa jika tahu hal ini!"
"Dad ... Aku akan segera menikahinya!" tanpa menunggu lama dan tidak perlu berbasa basi Biru langsung mengutarakannya. "Manikahinya lagi!" ralatnya kemudian.
__ADS_1
Zian menatapnya tajam dan melihay keseriusan dari putra pertamanya itu. "Kau sudah yakin dengan keputusanmu. Karena Daddy tidak suka anak yang plin plan atas keputusannya sendiri!"
"Ya ... Aku yakin Dad!"
"Baiklah terserah kau saja!"
Biru kini menghampirinya dan memegang lengannya. "Daddy serius? Setuju begitu saja dan tidak keberatan sama sekali?"
Zian mengangguk, "Untuk apa keberatan dengan keputusan yang sudah kau punya, apa jika Daddy kau akan mundur?"
"Tidak!"
"Maka dari itu ... Semua keputusan ada ditanganmu! Daddy hanya akan mendukungmu dari belakang saja." "Apa karena Daddy juga seperti itu saat menikahi Mami?"
"Tentu saja ... Bahkan Daddy lebih parah! Daddy harus bertengkar dan berkelahi dengan opa mu!"
"Hah ... Sama kalau itu Dad, hanya saja aku lebih suka memakai otakku dibandingkan otot!" Ujar Biru terkekeh.
Zian menepuk pundaknya dengan kuat. "Daddy bangga padamu Nak ... Kamu tangguh dan membuktikan dirimu sendiri."
Biru tersenyum. "Karena aku punya panutan terhebat yaitu Daddy dan Mami, Aku yang bangga dilahirkan di keluarga ini terlepas dari semua materi yang Daddy berikan padaku!"
"Kamu sudah dewasa sekarang, jangan mengambil keputusan dengan gegabah karena setelah Daddy tidak ada kau lah mata tombaknya, perusahaan, Mami, Air dan tentu saja istri dan anakmu kelak!"
"Kau ini ... Memangnya kau berharap Daddy tetap hidup ratusan tahun lamanya? Kenapa harus menunggu sukses nanti. Kenapa kau tidak sukses sekarang sekarang saja!"
Biru terkekeh, "Itu hanya pribahasa Dad!"
***
Setelah selesai urusan kantor, Alex benar benar membawa Biru ke klub xx, klub cukup terkenal di kota xx untuk bersenang senang dan melepaskan rasa penat.
"Bi ... Apa aku bilang, tempat ini oke kan?" tanya Alex saat masuk.
Biru mengangguk, menyisir tempat dengan pencahayaan kerlap kerlip dengan suara musik yang memekikkan telinga.
Biru memang biasa keluar masuk klub saat di luar negeri, dan bagi anak muda sepertinya itu adalah hal yang wajar. Tapi dia hanya akan menikmati musik dan minuman. Tanpa ladys yang kerap menghampirinya.
'Nakal boleh, bodoh jangan!'
Entah kenapa kata kata dari sang ibu itu sangat melekat di kepalanya hingga saat ini, Biru tidak pernah tergiur godaan perempuan perempuan dengan pakaian minimnya, riasan wajahnya atau kemolekan tubuhnya yang berada di tempat itu.
__ADS_1
Baginya wanita baik baik itu harus pandai menjaga diri sekalipun godaan dan ombak besar menerjangnya habis habisan. Tapi kasusnya berbeda dengan yang di alami Dara, gadis itu 1 dibanding 1000 wanita kurang beruntung yang berada ditempat dan waktu yang salah saja.
"Bi ... Privat atau los?" teriak Alex padanya.
"Privat room! Seperti biasa!" jawabnya dengan berteriak juga, entah kenapa dia memang lebih suka ruangan khusus ditempat itu dari pada beramai ramai tidak jelas.
Alex mengangguk mengerti, lalu meminta petugas membuka privat room untuk mereka. Mereka pun berjalan ke tempat yang mereka pesan dengan diantarkan salah seorang pegawai, mereka melewati lorong panjang dan beberapa ruangan yang terlihat berisi.
Sampai keduanya tiba di sebuah pintu yang terbuka dengan lebar,
Brak!
Pyarrr!
Pecahan botol berserakan tepat didepannya, seorang gadis berpakaian minim bergetar memegangi sebuah botol kini tinggal sebelah. Namun juga terus tertawa.
Dan seorang pria ambruk dilantai dengan kepala yang terluka.
"Astaga!"
Kini beberapa pegawai dan juga beberapa petugas yang berjaga di sana berlari ke arah privat room itu juga, mereka bergegas mengambil botol dengan ujung runcing dari tangan gadis yang sepertinya sedang tinggi tingginya karena efek minuman dan beberapa lainnya membantu pria yang tidak sadarkan diri dengan luka di kepalanya.
Betapa terkejutnya Biru dan juga Alex saat petugas menggotong pria tersebut, wajahnya penuh dengan da rah begitu juga dengan pakaiannya.
Biru bergegas menyusulnya, dia ingin memastikan jika dia tidak salah lihat, "Tunggu ... Apa yang terjadi?"
Namun para petugas tidak ada yang menjawabnya, mereka bergegas ke arah pintu keluar dan memasukkan pria terluka tadi ke dalam ambulance.
"Bi?" Alex pun ikut menyusulnya. "Ada apa?"
Gadis yang sudah sempoyongan itu juga dibawa ke luar dengan di apit oleh dia pria, namun terhenti di depan Biru dan juga Alex.
"Kenapa aku yang salah? Udah jelas jelas dia yang salah, dia yang enak aku yang disalahkan!"
Biru dan Alex tidak paham dengan apa yang dikatakan gadis dengan tangan penuh da rah itu, mereka hanya melihatnya sampai gadis itu di dorong begitu saja di jalanan.
"Hey ... Kalian! Dasar pria pria aneh ... Botak kau hey! Mau kupukul juga?" ucapnya dengan tertawa.
"Ada apa Bi ... Kau kenal dia?"
"Tidak ... Tapi aku rasa aku mengenal pria tadi!?"
__ADS_1
"Pria tadi ... Ahk sayang sekali, wajahnya penuh dengan da rah dan aku tidak memperhatikannya! Kau melihatnya Bi ... Siapa dia?"