Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.117(Bi ... Aku)


__ADS_3

Dara duduk gelisah di kursi roda di ruangan rawat inap yang sudah 3 hari dia tempati pasca melahirkan, kedua matanya terus memandang pintu masuk dengan harapan melihat Biru muncul. Waktu yang terasa lambat berjalan, dan kegelisahan dalam hati Dara semakin memuncak setelah mengetahui berita yang beredar. Dia tidak bisa menahan perasaan cemas dan kekhawatiran yang melingkupinya.


Pintu terbuka, Dara melonjak dengan mulut sedikit terbuka. "Bi ....!"


Namun dia harus menelan kekecewaan karena nyatanya bukan Biru yang masuk melainkan sang Ibu. Sophia.


"Ada apa Dara?" tanyanya saat melihat putrinya gelisah.


"Mami ... Lihat ini Mi, ini ...!" tunjuknya pada layar ponsel yang kini dia nyalakan lagi. "Ini ... Ini...!" Dara menggulir layar satu persatu.


"Apa ... Ini apa? Bicara yang jelas, Mami tidak faham."


Dara mengernyit, berita yang beberapa menit yang lalu kini mendadak tidak muncul. Semua artikel yang dia cari tidak ada lagi.


"Apa ... Ada apa dengan ponsel Mami?"


Dara mengambil ponsel miliknya dan mencari artikel keluarga yang mencatut keluarga Maheswara dan nama dirinya namun tidak ada.


Setiap detik terasa seperti sebuah kekalutan. Dara memainkan jari-jarinya, menggigit bibirnya, mencoba mencari cara untuk mengalihkan pikirannya dari kekhawatiran yang tak henti-hentinya. Dia merasakan denyut jantungnya semakin cepat dan perasaan sesal mulai merayap di hatinya.


Sedalam apa aku terjebak? gumam Dara dalam hati. "Ada apa ini sebenarnya. Aku tadi lihat artikel itu dengan jelas. Batinnya lagi.


Rasa bersalah dan penyesalan mulai menghantuinya. Dia merasa bertanggung jawab atas segala kesulitan yang terjadi, dan tidak tahan dengan pikiran bahwa dia mungkin telah kehilangan Biru selamanya jika nama baik keluarganya yang tersohor terlibat isu ataupun skandal yang jelas akan merugikan mereka.

__ADS_1


"Mami ... Jam berapa ini?" tanyanya, jelas jelas Dara bisa melihat waktu di dalam dua ponsel yang dia pegang.


Sophia yang heran dan semakin tidak mengerti justru mengernyitkan dahi. "Dara ... Ada apa? Jelaskan dengan jelas kenapa, ada apa. Mami tidak mengerti sayang."


"Kenapa Biru belum juga kesini Mami? Ini udah 3 jam lebih." wajah Dara terlihat frustasi.


Dara mencoba memahami mengapa Biru belum datang. Apakah dia terlalu marah untuk menghadapinya? Ataukah dia telah kehilangan segala harapan pada Dara? Semua kemungkinan itu menghantui Dara, membuatnya semakin tidak tenang.


Pandangan Dara terus terfokus pada pintu masuk, mencari tanda-tanda kehadiran Biru. Setiap suara langkah kaki yang mendekat membuat hatinya berdebar-debar. Namun, setiap kali pintu terbuka dan tidak ada Biru di sana, kekecewaan dan keputusasaan merasuki pikirannya.


Dara merasakan tekanan emosional yang meningkat. Dia merindukan kehadiran Biru, mendambakan kehangatan dan kekuatan yang biasa diberikan oleh sosok itu. Namun, dengan setiap menit yang berlalu tanpa kedatangan Biru, rasa cemas Dara semakin tak terkendali. Dan pelan pelan menjelaskan apa yang dia lihat di sosial media.


Sophia berusaha menjaga ketenangan dan sabar, tetapi pikirannya terus dipenuhi oleh pertanyaan dan ketidakpastian. Dia menginginkan kejelasan, dia ingin tahu apa yang terjadi dan mengapa Biru tidak kunjung datang.


Dara menggelengkan kepalanya. "Aku gak sempat Mami, tadi aku keburu lihat artikel itu, dan ponsel Biru gak bisa aku hubungi.


Dalam kegelisahan dan keresahan ini, Dara berusaha mencari ketenangan dan keyakinan. Dia berharap dapat menemukan kejelasan dalam waktu yang tepat, dan bahwa ada alasan di balik ketidak hadiran Biru. Namun, saat ini, kegelisahan Dara semakin memuncak, membuatnya merasa terombang-ambing di tengah kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapa pun selain Biru.


Dra merasa hatinya melonjak saat pintu masuk terbuka dan dia melihat Biru memasuki ruangan. Wajahnya terpancar rasa lega dan sukacita, meskipun masih terlihat bekas-bekas kekhawatiran yang terpantul di matanya. Mereka berdua saling memandang, namun suasana terasa tegang dan penuh dengan ketegangan yang belum terselesaikan.


Biru berjalan perlahan mendekati Dara, dan setiap langkahnya terasa berat. Dara bisa merasakan kebingungan dan ketidak pastian yang melingkupi Biru. Walaupun Dara merindukan sentuhan dan pelukan hangat, dia memilih untuk memberi ruang pada Biru untuk memulai percakapan mereka.


"Bi ... Kenapa aja? Apa yang terjadi?" tanyanya dengan kedua manik yang berbinar,

__ADS_1


Biru mengernyitkan dahi. "Ada apa?"


"Mengapa kamu baru datang?" tanya Dara dengan suara yang bergetar, mencoba menahan kekhawatiran di dalam hatinya.


Biru menatap Dara dengan tatapan penuh penyesalan dan keraguan. Dia menghela nafas dalam sebelum akhirnya menjawab dengan suara lembut, "Aku datang karena aku gak bisa menghindari kenyataan bahwa kita perlu berbicara, Dara. Ada begitu banyak hal yang harus kita bicarakan dan selesaikan."


Dara menelan ludah, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjawab. "Aku juga merasa ada banyak yang harus kita bicarakan, Biru. Tapi kenapa kamu ninggalin aku gitu saja? Kenapa kamu gak ada di sampingku saat aku paling membutuhkanmu?"


Biru merasakan kesedihan yang melanda Dara, dan raut wajahnya mencerminkan penyesalan yang mendalam. "Aku tahu aku membuatmu merasa sendirian, dan aku menyesalinya. Tapi percayalah, langkah yang kuhadapi tidak mudah, Dara. Aku mencoba mencari cara terbaik untuk membantumu, untuk menjaga kita berdua. Aku berharap kamu bisa memahami itu."


Dara mengangguk perlahan, meskipun masih ada kekesalan yang terasa di dalam hatinya. Dia memahami bahwa situasi ini rumit dan tak terduga. Namun, keraguan dan kekhawatirannya masih ada.


"Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan semuanya," kata Biru dengan suara lembut. "Tapi aku perlu tahu, apakah kamu masih ingin berada di sisiku? Apakah kamu masih ingin memperbaiki hubungan kita?"


Biru menatap Dara dengan tulus, mencoba mengekspresikan rasa penyesalannya. "Dara, meski situasi ini sulit, aku masih peduli padamu. Aku masih ingin memperbaiki hubungan kita dan menemukan jalan bersama. Aku tahu ada banyak yang harus diperbaiki dan diatasi, tapi aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga."


Dara merasakan campuran emosi di dalam hatinya, tetapi ada secercah harapan yang muncul. Meskipun masih ada keraguan, dia ingin memberikan apa yang seharusnya diberikan pada suaminya itu.


"Bi ...!"


Biru mendekati Dara, pria itu membungkukkan tubuhnya dan bertumpu pada satu lututnya."Apapun itu Dara. Aku yang akan bertanggung jawab. Hm?"


Kedua manik hitam Dara semakin berkaca kaca, menatap Biru yang kini semakin terlihat mengabur karena air mata yang mulai bergenang.

__ADS_1


"Bi ... Aku ...!"


__ADS_2