
Dara terus meyakinkan kedua orang tuanya agar tidak mengijinkan Rian tinggal di rumah bersamanya. Tidak ingin menambah masalah baru dengan Biru yang sudah jelas dia tahu bagaimana kemarahannya.
Rian akhirnya mengangguk setuju, dengan catatan dia bisa kapan saja datang ke rumah itu. Dan semua setuju kecuali Dara.
"Kalau gitu sama aja bohong! Dateng tiap hari sesuka hati cuma gak ikut tinggal sama aja bohong!" Kata Dara saat Rian kembali keluar bersama Baskoro, sedangkan dia bersama sang Ibu di dalam kamar.
"Bagaimanapun juga Rian lebih berhak, dia ayah dari anak yang kamu kandung. Biru mungkin akan tinggal di sini tapi kamar kalian akan berbeda."
"Ya ... Aku tahu Mam, dan mereka berdua bikin aku pusing!" dengusnya pelan. "Sekarang mana tuh orang, disaat dibutuhin kan gak ada. Dia bilang kita masih harus terikat sampai satu tahun ke depan." ujarnya lagi dengan bergumam yang jelas Sophia tidak mendengarnya.
Tiga hari berlalu, Biru masih tidak terlihat batang hidungnya. Hanya Rian yang menemaninya di kala itu. Dara tidak ingin keluar rumah atau pergi ke mana pun, dia hanya diam di kamar dan sekitar rumahnya saja. Sekalipun semua teman temannya semasa sekolah kini tahu jika Dara sudah menikah, tapi dia tidak mau bertemu dengan mereka. Entahlah, semuanya menjadi serba salah, padahal semua teman temannya pun tidak ada yang tahu jika dirinya sudah hamil lebih dulu.
Usia kandungannya sudah mencapai 4 minggu, walau belum terlihat sama sekali namun mood nya sering kali berubah ubah. Terlebih Dara tidak suka wangi farpum yang dikenakan orang orang di sekitarnya. Farpum ibunya, ayahnya, bahkan Rian. Rasanya mual dan muntah.
"Sayang. Malam ini ada undangan makan malam. Rekan bisnis Papa akan datang kemari. Jadi kamu hubungi penipu itu untuk datang kemari ya! Papa tidak ingin rekan bisnis Papa itu berfikir yang tidak tidak dan membuat mereka ragu berbisnis dengan Papa. Mereka pasti akan banyak tanya tentang menantu kita." ujar Baskoro yang terlihat raut kesal di wajahnya.
"Tapi Pap ... Aku gak tahu Biru dimana!"
"Apa lebih baik Rian saja lah Pap!" Tambah Sophia.
Baskoro menggelengkan kepalanya. "Mereka sudah tahu keluarga Prasetyo, sudah pasti mereka tahu jika Rian belum pernah menikah dan mereka akan bertanya tanya kenapa Rian ada bersama kita? Malah semakin mereka bertanya tanya nanti Mam."
Tidak ada pilihan lain selain datang langsung ketempat Biru. Apartemen yang di sewa Biru saat mereka tinggal bersama walau hanya beberapa hari saja.
Diantar supir, Dara pergi ke sana seorang diri. Dan hari ini hari pertama Dara keluar dari rumahnya. Selain panas dan gerah, Jalanan kini mengalami kemacetan dan membuatnya uring uringan.
Tak berselang lama, dia sampai di gedung apartemen dan segera masuk ke dalam. Langsung berjalan ke arah unit yang di tinggali Biru.
Gadis itu langsung mengetuk ngetuk pintu kamar, namun tidak ada sahutan bahkan sepertinya tidak ada orang di dalam.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Mana sih tuh anak!"
Tidak ada tanda tanda kehadiran Biru di unitnya itu, Dara menghembuskan nafas dengan terus mengotak atik ponselnya dan terus menghubungi Biru. Namun dering di ponselnya tidak juga di angkatnya.
Akhirnya dia memilih kembali pulang saja, selama 3 hari ini Biru tidak ada kabar sama sekali. Jangankan memberi kabar, telepon bahkan pesan singkat saja tidak ada.
"Dih ... Emangnya siapa dia! Kok aku malah nunggu dia kabarin aku!" Dara bergidig sendiri seraya terus berjalan menuju lift.
Dan saat tiba di bawah, Dara terus berjalan dengan pandangan tertunduk menatap layar ponselnya. Berselancar di dunia maya tanpa melihat langkah kakinya.
Bruk!
Dara menabrak punggung seseorang tanpa sengaja dan alangkah kagetnya saat dia tahu jika orang itu adalah Biru.
"Apa gunanya matamu itu?" sentaknya keras.
Terlihat Dara ingin tersenyum namun di tahannya karena Biru justru melihatnya dengan kesal.
"Iya justru itu kau pakai matamu dengan benar, tahu kan gunanya mata untuk apa?"
"Kok marah sih! Lagian mana tahu aku kamu di situ aku kan mau keluar!" Ujarnya dengan mencebikkan bibirnya. "Lagian ngapain juga diem di pintu keluar, noh disana ada kursi, ada taman banyak tempat buat diem. Malah diem di pintu kayak gini! Heran ...!"
"Dasar bodoh!"
Biru menolehkan kepalanya ke arah belakang dengan kedua alis yang mengernyit, tubuhnya yang tinggi menghalangi pintu kaca yang tertutup. Bisa dibayangkan jika Dara tidak dia halangi saat itu juga. Bisa bisa gadis itu menabrak kaca dan terluka.
"Kau fikir untuk apa aku berdiri di sini?" tanyanya dengan ketus.
Dara yang melihat hal itu tentu saja mengerjap, tidak bisa dia bayangkan jika Biru sengaja diam di ambang pintu karena melihatnya. Alih alih memberi tahunya justru dia memakai tubuhnya agar Dara tidak menabrak pintu kaca.
"Tahu kan? Tidak perlu aku jelaskan. Dan terima kasih!" ujarnya berlalu.
__ADS_1
Dara berdecak saat melewati Biru, anehnya dia tidak sadar parfum Biru yang semerbak tercium namun tidak membuatnya mual.
"Tunggu!" Dara berjalan menyusulnya. Merasa aneh sendiri kenapa aroma parfum yang di pakai Biru justru membuatnya menarik nafas dalam dalam. "Papa ingin kamu ke rumah! Malam ini ada acara makan malam di rumah dan kamu harus ada."
"Jadi sekarang Papamu butuh aku? Bukannya ada Rian?"
"Ya ... Gak bisa! Mana bisa, mereka tahunya aku nikah sama kamu, kalau kemarin kamu setuju pembatalan nikah bisa aja sih! Tapi kan kamu gak setuju."
Biru menghentikan langkah dan kembali menoleh ke arah belakang, melihat Biru berhenti justru Dara langsung berdiri di sampingnya dengan mengulas sedikit senyuman.
"Aku setuju, hanya saja kau yang tidak setuju dengan syarat yang aku mau bukan?"
Dara menelan saliva, baru ingat jika syaratnya adalah tidur bersamanya. "Lantas sekarang kau bilang aku lagi yang salah?"
Dara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu terkekeh. "Gak gitu juga sih! Aku gak nyalahin kamu kok. Aku yang itu ... Ya ... Aku yang salah."
Biru mendengus, kembali berjalan lurus ke depan.
"Tidak ada terima kasih, maaf, atau bahkan tolong! Kacau sekali!"
"Biru ...!" Dara kembali berjalan dengan cepat menyusulnya dan berusaha menyamai langkahnya. "Makasih udah bantu aku tadi, maaf buat yang kemarin dan tolong bantu aku lagi. Tolong bantu Papa."
Biru mengulas bibirnya satu garis saat mendengarnya. Namun langkahnya tidak berhenti sama sekali. Dia justru masuk ke dalam lift.
"Aku tidak mau! Katakan pada Papamu kalau dia sendiri yang harus datang dan menemui aku!"
Dara menyusulnya masuk dengan wajah kecewa, Biru mungkin marah juga pada Papanya yang mengatakan jika dirinya adalah penipu.
"Biru ... Tolonglah!"
Biru menatap Dara, berjalan ke arahnya lalu,
Brak!
__ADS_1
Kedua tanyannya menggebrak dinding lift sehingga tubuh Dara terkunci di tengah tengahnya.
"Aku sudah bilang! Papamu yang datang kemari dan katakan sendiri. Kau pintar dan kau pasti mengerti Dara!"