Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.100(Terlalu Naif)


__ADS_3

"Kamu lihat perbedaan kita Intan. Awalnya aku merasa tidak akan punya masa depan. Masa depanku hancur, hamil diluar nikah dan pendidikanku juga hancur. Tapi sekarang aku sadar, masa depanku sangat cerah. Aku punya orang orang baik dan sangat tulus di sisiku! Terima kasih Intan ... Walau bagaimanapun aku pernah meyakini kalau kamu itu sahabat aku yang tulus! Jadi aku sudah gak marah sama kamu!"


Braak!


Intan menggebrak wastafel dengan keras, kedua matanya menatap tajam ke arah Dara. "Kamu naif banget Intan, benar benar naif. Itu sebabnya aku benci sama kamu, aku gak suka sifatmu yang ngerasa paling baik, padahal kamu bisa aja marah! Apa yang kamu inginkan Dara?"


Intan dibuatnya semakin marah, emosinya yang membungbung tinggi namun tidak mendapatkan lawan yang seimbang.


Dara tersenyum tipis, "Apa itu alasan kamu ngelakuin hal itu sama aku Intan, kamu dan Rian kerja sama untuk jebak aku ... Kamu marah karena aku naif ... Karena aku terlalu baik?"


"Ya ... Aku emang yang ngerencanain semua malam itu, aku yang bikin kamu mabook parah, aku yang masukkin obat di minuman kamu, sampai Rian berhasil ngambil sesuatu yang berharga di dirimu Dara, dan asal kamu tahu kalau semua udah aku rencanakan dengan baik, itu semua karena aku benci sama kamu. Karena aku gak tahan lihat hidupmu yang sempurna dengan segala ke naifanmu! Tidak hanya aku, Rian pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menguasai perusahaan ayahmu, dia akan mendapatkan apa yang dia mau, dia akan menikahimu dan membuatmu sengsara." ungkap Intan mengatakannya dengan jujur tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Dara terperangah di buatnya, sejak tadi dia sudah merasakan kedua matanya mulai terasa perih dan memanas. Namun sekuat tenaga dia berusaha menahan diri agar tidak menangis karena itu akan membuat Intan senang.


"Apa setelah itu kamu senang?"


"Tentu saja Dara, aku akan menikmatinya bersama Rian!"


"Terima kasih Intan." ucapnya dengan senyuman getir. "Terima kasih karena kamu udah jujur sama aku, maafkan aku juga karena bikin kamu gak nyaman sama aku, hanya sayang sekali karena semua tujuanmu sepertinya gagal karena aku ketemu Biru kan, sampai kamu tega mukulin Rian, pasti sekarang hubunganmu dan Rian jadi buruk atau kalian hancur sekalian kan?" ucap Dara menohok.


Intan mengepalkan tangan karena kesal mendengar ucapan Dara karena semua yang di katakannya memang benar. Sejak kejadian itu hubungannya dengan Rian malah menjadi buruk, bahkan Rian pun memperlakukannya dengan kasar.


Untuk sepersekian detik mereka hanya saling menatap tanpa kata. Sampai akhirnya Dara sadar jika Intan bukanlah sahabatnya. Maka dari itu dia berbalik dan melangkah ke arah pintu keluar, tentu saja dengan nafas yang terasa sesak dan juga pandangan mulai mengabur, sekuat tenaga dia menahan diri agar tidak menangis di hadaapannya.

__ADS_1


"Aku benar benar benci karena harus terus berpura pura jadi sahabatmu Dara!" seru Intan dari arah belakang, dia belum puas sebab Dara tidak bertindak sesuai ekspetasinya.


Langkah Dara terhenti saat itu juga, dia memejamkan kedua mata serta menggigit bibirnya agar air matanya tidak turun, jujur saja Dara merasa sakit saat mendengar Intan bicara.


Tak lama pintu terbuka, membuat Dara tersentak begitu juga dengan Intan di belakangnya.


"Dara ... Kau tidak apa apa?"


Dara menatap Biru yang kini berdiri di depannya dengan nanar lalu mengangguk kecil, "Aku gak apa apa!"


Biru pun melangkah masuk, dia tidak peduli jika dia memasuki area khusus wanita itu. Namun dia melewati Dara dan langsung menghampiri Intan.


"Sayang sekali karena kau seorang wanita, jika tidak aku tidak akan sepengecut ini karena meladenimu. Tapi asal kau tahu Intan. Lihatlah dirimu, kau sungguh menyedihkan." ujarnya dengan tersenyum. "Aku sangat yakin dan berani bertaruh kalau di dalam lubuk hati Dara, dia pasti sangat kasian padamu." ujarnya lagi, kali ini dia akhiri dengan decakan pelan serta kepala yang dia gelengkan beberapa kali.


"Ayo sayang ... Semua orang menunggumu." cicitnya pada Dara.


Dara mengangguk, dia membalas senyuman Biru dan juga merekatkan jemarinya digenggaman tangan kekar milik Biru.


Melihat pemandangan itu Intan kesal bukan main, dia bahkan berteriak dan membanting pintu toilet dengan keras seperti orang gila. Dia benar benar muak melihat Dara dan juga Biru yang selalu ada di sampingnya, menolongnya bahkan memperlakukannya dengan baik, terlebih menerima semua termasuk anak yang di kandungnya.


Mendengar teriakan Intan, Dara menoleh sesaat ke arah belakang dengan menghentikan langkah kakinya.


"Kau sudah bekerja keras Dara, dia pantas mendapatkannya!"

__ADS_1


Dara mengangguk lirih, dan saat itu juga air matanya tumpah begitu saja. Air mata yang sejak tadi di tahannya kini tidak terbendung lagi. Dara menangis sejadi jadinya, bagaimana membayangkan rencana jahat dari sahabatnya sendiri yang membuat hidupnya jadi berantakan hanya karena alasan yang tidak masuk akal.


Biru mendekapnya dengan erat, membiarkan tangisan Dara tumah ruah sampaai dia tenang dengan sendirinya.


"Aku gak nyangka Intan setega itu. Kenapa dia gak ngomong aja saama aku langsung kalau dia gak suka dan gak mau jadi temanku! Kenpadia jahat banget."


"Dia bukaan teman yang baik untukmu Dara. Dia tidak akan puas hanya dengan mengatakan kebenciannya padamu, dia akan puas kalau sudah melihatmu hancur." tukas Biru, "Dia tidak pantas kau sebut teman aapalai sahabat." tambahnya lagi seraya mengelus punggung Dara dengan lembut.


Tidak lama Biru menangkup kedua pipi Dara yaang basah, lalu kedua ibu jarinya bergerak menyusut air di wajah Dara. "Jangan menangis lagi, semua orang akan menganggap aku suami yang jahat. Bukankah sudah aku bilang berhenti bersedih karena orang ornag itu. Kamu hanya akan membuat anak kita ini ikut sedih juga. Hm?"


Dara kembali mengangguk, kali ini dia juga tersenyum. Beruntung sekali hidupnya karena bertemu Biru.


Kamu memang bukan ayah dari anakku Bi ... Tapi rasa cintamu melebihi orang yang seharusnya bertanggung jawab melakukannya sejak awal. Batin Dara.


Biru terus menyusut air mata yang mais menggenang di pelupuk mata sang istri. Hingga memastikan tidak ada lagi sisa sisa tangisan di wajahnya, lalu mengecup keningnya cukup lama.


"Aku akan pastikan kebahagianmu Dara." ujarnya lirih.


Dara kembali mengangguk, tak lama dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Biru. Sebuah benda kecil yang di siapkan sebelumnya oleh Biru dan juga Alex.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan ini Bi?"


Biru mengambil benda itu dari tangannya dan langsung memasukkannya ke dalam kantong celananya. Dia hanya tersenyum dan embali menggenggam tangan Dara lalu kembali melangkah.

__ADS_1


"Kau akan tahu nanti Dara. Aku pastikan mereka semua yaang hancur dengan rencananya sendiri!"


__ADS_2