Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.43(Cari masalah saja)


__ADS_3

Hampir satu minggu lama Biru tidak lagi melihat Dara, komunikasi mereka pin terputus begitu saja. Hari hari Biru kini hanya dikantor, mempelajari semua seluk beluk bisnis keluarga Maheswara. Dia bahkan baru tahu jika nama sang Daddy di indonesia sangat tersohor, seorang pembisnis handal saat usia muda. Bahkan para karyawan senior hapal betul bagaimana sepak terjang seorang Zian.


Zian benar, nama Maheswara yang tersemat dibelakang namanya tidak akan bisa lepas begitu saja kemanapun dan apapun yang dia lakukan. Lebih baik memanfaatkan segala keuntungan yang dia dapat dari sejak dalam kandungan. Walaupun sebenarnya dia ingin mencoba berdiri sendiri tanpa bayang bayang nama besar keluarga dan dikenal hanya sebagai Biru saja.


Sulit, tidak ada pilihan lain selain apa yang dikatakan ayahnya. Hanya memanfaatkan sebaik mungkin apa yang dia dapatkan saat ini.


Biru memutar mutar bolpoin bertuliskan namanya memberian Ibunya, menjelajah waktu dan memikirkan banyak hal disela sela proses pembelajaran hidupnya. Sampai fikirannya sendiri berujung pada sosok gadis cantik yang memikat, bagaimana hubungan rumit mereka membuatnya tidak berdaya. Katakan saja langkah awalnya salah, seharusnya dia katakan sejak awal jika dia mampu setara dengan Rian bahkan bisa melebihi. Tapi walau begitu sekarang sudah menjadi sia sia.


Ting


Bunyi notifikasi terdengar dari ponselnya, dengan malas Biru melihat pesan singkat itu. Sebuah surat keputusan pembatalan pernikahan yang telah sah dan disetujui oleh catatan sipil yang bahkan dia tidak pernah mengurusnya.


Biru menghela nafas melihatnya, tidak ingin membalas ataupun sekedar mengetikkan satu dua huruf saja, dia langsung menyimpan ponselnya kembali.


"You ok?" tanya Alex yang sejak tadi memperhatikannya.


"Hmmm ....!"


Biru hanya bergumam lirih, lantas kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara Alex yang melihatnya justru tidak karuan.


"Sepertinya kau perlu hiburan! Bagaimana kalau kita ke klub malam ini?" ujar Alex dengan kedua alis naik turun.


Biru berdecak, suasana hatinya sedang buruk dan malas kemana mana. Tapi dia juga tidak ingin sendirian sebab suasana hatinya tidak akan terobati dan justru akan semakin buruk saja.


"Ayolah ... Kita bukan lagi liburan di indonesia, tapi kita akan menetap untuk waktu yang lama. Dan kau tahu kalau kita sama sekali belum pernah bersenang senang!" ucap Alex meyakinkan.


Akhirnya Biru setuju, malam itu juga mereka berdua menuju klub yang katanya paling tersohor di kota xx. Musik tersajikan dengan efic dari Disk jokey tersohor disana.


"Gila ... Tempat ini sangat ramai!"


"Kau tenang saja, aku sudah memesan privat room agar kita lebih leluasa karena di sini terlalu ramai!" tukas Alex tersenyum.


"Kau makin gila!"


Biru tahu jika Privat room akan lebih menyajikan situasi yang berbahaya, bukan hanya akan ditemani berbagai macam minuman tapi disana juga akan tersaji gadis gadis lincah.

__ADS_1


Alex tertawa, menganggukkan kepala pada seseorang yang diduga manager klub yang mengantarkannya ke sebuah room.


Keduanya masuk dan mulai menikmati malam panjang dengan hingar bingar hiburan khas malam dengan dentuman musik yang membuat gendang telinga rasanya mau pecah dan ditemani tiga gadis dengan kemollekan tubuh sempurna yang terus tertawa riang saat Alex berceloteh.


Entah berapa botol minuman yang telah tandas oleh mereka berdua. Yang pasti Biru ma bukk parah sampai rasanya tidak berdaya, entah apa yang dia mainkan dengan ponselnya.


"Kau selalu payah kalau minum!" gerutu Alex, melihat Biru yang duduk tidak berdaya.


"Diamlah!"


"Gimana kalau kita ketempat lain?" bisik seorang gadis pada Alex. "Ini pasti akan tambah seru!"


Alex menoleh, menatap wajah kemerahan gadis itu lalu menoleh pada Biru yang menyandarkan kepalanya tidak berdaya dengan ponsel menyala ditangannya


"Pergilah. Jangan macam macam!" Serunya dengan mendorong gadis gadis itu keluar dari ruangan.


Alex mengambil ponsel milik Biru dan berdecak saat melihat pesan yang dia kirimkan pada seseorang.


"Kau cari masalah! Kenapa selalu bodoh. Lebih baik kita pergi dengan mereka dan membuat malam ini semakin seru!" ucapnya dengan melemparkan ponsel milik Biru ke arah samping.


Alex tertawa, membiarkan Biru bicara sesuka hatinya, dia sendiri tidak bisa melakukan banyak hal untuk sahabat sekaligus bosnya sekarang ini.


"Aku tidak mau ikut campur, kau tanggung sendiri akibatnya!"


Brak!


Pintu terbuka, membuat Alex tersentak lalu berdecak. Apa yang dia takutkan benar benar terjadi. Sementara Biru kini semakin tidak berdaya setelah menghabiskan kembali satu botol minuman dengan sekali tenggak saja.


"Hai Dara. Kau sudah datang! Aku ..."


"Diamlah dan bantu aku bawa dia!" ucapnya dengan berjalan menghampiri Biru.


"Tidak usah, kau pulang lagi saja. Biar aku yang urus dia. Aku tahu dia menghubungimu dan aku tidak bisa melarangnya!"


"Kalau kamu bisa ngurus dia kenapa dibiarin mab okk parah kayak gini. Dasar si belek ... Ayo bantuin!" sentaknya pada Alex.

__ADS_1


Akhirnya Alex pun hanya bisa menurut saja, memapah tubuh Biru dengan sama sama sempoyongan saat keluar dari room dan mengikuti Dara yang sudah berjalan lebih dulu.


"Kalian berdua sama aja, sama sama nyusahin!" gumamnya saat membuka pintu mobil.


"Aku ... Tidak ... Dia, arrgghh ... Percuma saja!"


Alex tidak ingin memberikan penjelaskan apa apa pada saat itu, terlebih dia tahu perasaan Biru yang mungkin sebenarnya merindukan Dara.


"Kalau begitu aku serahkan dia padamu ya! Aku akan pergi." ujarnya saat memasukkan tubuh Biru ke dalam mobil.


"Aku gak tahu harus bawa dia kemana!"


"Kau tahu rumahnya kan, kau pernah kesana. Rumah kakeknya!" Sahutnya dengan asal saja.


Akhirnya Dara pun masuk ke dalam mobil, tapi alih alih membawanya pulang ke rumah yang di sebutkan Alex Dara memilih sebuah hotel.


"Kalau aku antar dia ke rumahnya, yang ada aku akan susah pulang. Dia bisa aja macam macam di kandang sendiri! Lagian dia yang batalkan pernikahan tanpa bilang bilang tapi suruh aku datang. Nyusahin banget!" ucap Dara mengerutu.


Dengan susah payah Dara membawanya, dia juga merogoh dompet miliknya hanya untuk mencari kartu identitas miliknya.


Namun Dara tercengang saat melihat isi dompet Biru, beberapa kartu terselip di sana, juga kartu yang setahu nya adalah kartu yang bisa dipakai tanpa batas.


"Apaan nih ... Nih pasti di pake buat nipu nipu orang, bergaya sok kaya!" desisnya dengan kembali memasukkan dompet ke dalam saku celananya.


Dara memesan pintu kamar hotel atas nama Biru, lalu menyuruh seorang petugas untuk membantunya membawa Biru sampai masuk ke dalam kamar.


Bruk!


Seketika tubuh Biru ambruk diatas ranjang, sementara Dara menghela nafas dan berniat langsung pergi saat itu juga. Selain masih kesal dan marah karena Biru menghilang begitu saja dan surat pembatalan pernikahan yang dia tinggalkan.


Namun satu hal yang membuatnya penasaran, sampai akhirnya dia kembali mengambil dompet Biru dan membukanya. Memang tidak ada uang di dalamnya yang bisa dia lihat namun dia penarasan dengan sebuah amplop terselip disana.


Dara ingat betul kalau itu darinya. Amplop pembayaran pertama saat Biru menanda tangani perjanjian pernikahan dengannya. Dara pun membukanya dan memastikannya apa dugaannya benar atau tidak. Dan semakin tercengang saat nominalnya sama.


"Benar, ini uang yang aku kasih dulu. Apa dia gak pernah make uang ini?"

__ADS_1


__ADS_2