Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.55(Terlalu ikut campur)


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan Dara! Kau ...!"


Baskoro mengusap wajahnya dengan kasar, amarahnya memuncak saat mengetahui Dara pergi bersama Biru dan Rian pun mengetahuinya. Apa yang terjadi jika keluarga Prasetya memutuskan kerja sama dengan perusahaannya, kemungkinan besar kebangkrutan yang ditakutkan akan benar benar terjadi.


"Sudah Papa duga kau menemui bocah tengil itu! Apa kau setidak tahu diri ini Dara. Hah?"


Tangan Baskoro pun sudah melayang di udara dan bersiap menampar Dara, dan Dara sudah menangis. Bukan takut jika pipinya ditampar tapi takut terjadi sesuatu pada Biru sementara Dara tidak bisa berbuat apa apa untuk membantunya.


Tangan Baskoro tertahan di udara, urung melayang lalu lunglai dengan sendirinya. "Apa yang harus Papa lakukan supaya kamu mengerti Dara! Dia tidak sederajat dengan kita, dia juga tidak bisa berbuat apa apa jika perusahaan Papa sampai bangkrut."


"Kenapa Papa hanya mikirin perusahaan, kenapa Papa gak mikirin perasaan Dara Pap!" teriak Dara.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, supir pribadi Dara yang tidak bisa membantu saat dirinya yang tidak tahu apa apa itu hanya terdiam dengan sesekali melirik ke arah belakang dimana ayah dan anak terus berdebat.


"Apa Papa pernah sedikit aja peduli perasaan Dara Pap. Papa selalu nyalahin Dara, apa Papa pernah tahu kalau Dara juga gak mau kayak gini?" selorohnya dengan terus menangis. "Semua mimpi Dara hancur, semua cita cita Dara kubur karena Dara hamil dan gak ada satupun dari kalian yang ngertiin Dara kalau Dara juga menderita! Cuma Biru yang ngerti, dia gak pernah sekalipun nyalahin Dara!"


"Diam Dara! Kenapa kau selalu membela anak itu!"


Dara akhirnya terdiam, memilih menangis sejadi jadinya sampai kedua matanya bengkak.


Sampai mereka tiba di rumah dan Baskoro menyeretnya masuk ke dalam rumah.


Sophia berlari menghampirinya, berteriak supaya Baskoro melepaskannya.


"Pap ... Hentikan, dia putri kita!"


"Ya ... Anak yang tidak tahu diri dan membuat malu! Kau urus dia dengan baik Sophia. Jangan biarkan dia keluar rumah lagi, kalau perlu kunci kamarnya dari luar sampai hari pernikahan!" Baskoro menghempaskan tangan Dara begitu saja, lalu berlalu pergi.


"Astaga ... Kau berbuat salah apa lagi sampai Papa marah besar seperti itu!"


Dara terdiam, percuma saja bicara karena Ibunya pasti tidak akan mengerti, alih alih membelanya justru ia akan menyalahkan Dara lagi atas apa yang terjadi.


Dara di giring untuk masuk ke dalam kamar oleh ibunya dengan terus menangis.


"Dara istirahat saja ya, jangan membuat ulah lagi. Apapun yang dilakukan Papa adalah demi kebaikan kita semua, termasuk kamu!"


Dara diam membisu, tidak ingin mengatakan apapun pada sang Ibu. Dia langsung menghempaskan tubuh di atas ranjang dan menangis dengan memeluk bantal guling.

__ADS_1


Sophia menghela nafas, keluar dari kamar dan menguncinya sesuai perintah suaminya meskipun dia sendiri belum tahu apa yang terjadi pada Dara.


Sementara Biru kini terduduk di tepi ranjang setelah tidak sadarkan diri untuk beberapa saat, dan beruntung luka robek di kepala belakangnya tidak cukup parah.


Alex yang sejak tadi menungguinya pun menghampirinya.


"Kau tidak apa apa?"


Biru menggelengkan kepalanya, mengusap tengkuknya yang terasa pegal tanpa melihat ke arah sahabatnya.


"Dia membawa Dara!" kata Alex lagi.


"Aku tahu!" cicitnya, itu memang yang akan dilakukan Rian yang menganggap dirinya lebih berhak atas Dara. "Lex . Jangan katakan apapun pada Daddy! Mereka pasti khawatir!"


Alex mengernyit, tentu saja pura pura tidak tahu.


"Kau dengar Lex ... Awas saja kalau kau melaporkan kejadian ini pada mereka!"


"Sorry Bi!"


Biru menghela nafas, tentu saja itu tidak mungkin. Alex memang asistennya tapi dia dipekerjakan oleh Ayahnya sendiri.


Pintu terbuka lebar, Agnia masuk dengan wajah khawatir, berjalan tergesa gesa menghampirinya. Melihat hal itu Alex mundur beberapa langkah, tidak ingin terkena imbas kemarahan Biru yang kini sudah menatapnya dengan tajam.


"Sorry!" gumamnya tanpa bersuara pada Biru yang mendengus.


"Sayang ... You ok? Apa yang terjadi. Kenapa kau bisa terluka seperti ini. Hm?"


Kedua tangan ibunya menangkup wajah Biru, menolehkannya ke kiri dan ke kanan untuk melihat sejauh mana luka luka yang dia alami.


Biru tertunduk malu, dia sudah bukan anak kecil pengadu saat berkelahi. Dia seorang pria, dan harga dirinya akan runtuh begitu saja jika berhadapan dengan sang ibu.


"Aku tidak apa apa Mami!"


Zian masuk dengan beberapa dokter yang mengikutinya dari belakang, sebelumnya mereka bicara tentang keadaan Biru di luar. Dan langsung menghela nafas saat melihat Biru, beralih pada Alex dengan tatapan tajam.


"Apa kau tidak becus menjaganya!"

__ADS_1


"Maaf Om ... Aku sudah memberi peringatan padanya, tapi sepertinya Biru tidak sempat membaca pesanku!" sahut Alex memberikan alasan.


"Dad ... Hentikan, aku tidak apa apa!"


"Tidak apa bagaimana, kau terluka dibagian kepala dan itu berbahaya!" sela Agnia, langsung menoleh pada Alex. "Kumpulkan bukti CCTV, aku akan menuntutnya!"


"Mami! Sudah aku bilang kalau aku bisa mengurusnya." Biru turun dari ranjang dan melepaskan kedua tangan Ibunya dari wajahnya. "Kalau kalian ikut campur, aku akan kabur dari rumah lagi, dan kali ini aku tidak akan pulang apapun yang terjadi!" ancamnya dengan wajah serius.


"Tapi Biru___"


Zian langsung menahan lengan sang istri lalu menggelengkan kepalanya. "Lebih baik kita biarkan Biru mengatasi masalahnya. Kita terlalu ikut campur!"


"Daddy benar, sekarang biar aku yang mengatasinya sendiri. Kalau pun aku tidak bisa, baru aku minta bantuan kalian!" tegas Biru lagi yang langsung melemparkan jas penuh darah miliknya ke arah Alex tanpa mengatakan satu kata pun.


Alex menangkapnya dengan gesit, menyesali laporannya pada Zian untuk yang satu ini karena melihat reaksi Biru, terlebih beberapa dokter berkumpul hanya untuk memeriksa Biru, membuat harga diri pria itu semakin tipis saja.


Akhirnya mereka semua keluar dari rumah sakit, Biru menyuruh kedua orang tuanya kembali pulang sementara dia kembali ke kantor.


"Kau yakin kau tidak apa apa, tidak merasa pusing, mual atau pandangan berkunang kunang?" tanya Alex saat melajukan mobilnya.


"Kau bodoh! Sudah ku bilang jangan lapor, kau tidak tahu reaksi mereka tadi? Astaga itu sangat memalukan!" dengus Biru.


Alex terkekeh, "Sorry! Aku terlalu menikmati pekerjaanku sebagai spion, sampai lupa kalau aku ini satu satunya sahabatmu! Kita harus menutupi aib masing masing bukan!"


"Kau memang brengsekk! Tunggu aku menemukan orang yang pas untuk ku jadikan asisten!"


"Hey ... Kau ingin menggantikan aku dengan orang lain! Jahat sekali!"


Biru mengdengus kasar, "Batalkan pertemuan ku dengan Prasetya Daya utama!"


"Siaalll ... Waktunya cuma 30 menit lagi dan kau akan membatalkannya begitu saja?"


Biru memukul bahu Alex dengan keras. "Kau lakukan saja!"


"Bukankah kemarin kau bilang minta dipercepat, dan sekarang kau ingin batalkan! Waktunya sudah mepet sekali Bi!" tukas Alex yang melirik jam tangan di pergelangannya, namun sejurus kemudian kedua matanya terbeliak sempurna. "Jangan bilang kau sengaja mempermainkan mereka!"


Biru terdiam, namun bibirnya tersungging tipis.

__ADS_1


"Ini akan semakin seru jika mereka kita buat kesal dulu!"


__ADS_2