Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.69(Tidak Sudi)


__ADS_3

"Benarkah. Apa kau ingat kalau kau juga melakukan hal seperti ini padaku? Tapi bedanya apa yang aku lakukan lebih menguntungkan kalian!"


Biru langsung menghempaskannya begitu saja, dia memilih mundur beberapa langkah dengan mendekap kedua tangan di dadanya seraya melihat Rian dengan puas.


Prasetya sendiri tidak bisa berkutik, bahkan dia hanya diam saja dan tidak membantu putranya saat kedua pria itu memaksanya. Dia hanya menatap berkas yamg akan sangat menguntungkan bagi perusahaan miliknya.


Rian dihempaskan begitu saja oleh kedua pria itu setelah berhasil membuatnya menanda tangani berkas itu. Sementara Biru kembali berseringai, dan menyuruh mereka mengantarkan keduanya untuk keluar.


Dua pria itu langsung menggiring Prasetya dan Rian keluar dari ruangan, mereka juga terkaget saat melihat pengawal yang diperintahkan masuk tadi kini dijaga oleh orang yang jumlahnya lebih banyak lagi.


"Jangan ada keributan, kami akan pergi dengan damai!" ujar Prasetya.


"Papa sudah gila! Dara mengandung anakku Pap. Cucu Papa!"


"Itu tidak penting lagi Rian!" jawab Prasetya yang segera menyuruh orangnya mundur.


Sementara Biru kini tertawa melihat salinan berkas berkas yang sudah di tanda tangani.


"Kau berhasil membuat mereka terperangkap sendiri!" tukas Alex.


"Ya ... itu yang aku inginkan, tidak perlu mengeluarkan tenaga dan otot. Cukup ikuti keinginannya dan mereka akan bersujud di kakiku satu hari nanti!" tukas Biru, "Aku masih belum puas sebelum melihat mereka terkena jebakannya sendiri!"


"Pantas saja kau begitu bersikeras dengan keinginanmu! Bahkan tidak peduli saat Daddy mu marah besar semalam."


"Aku selalu tidak suka kalau mereka ikut campur!"


Flash Back On


Biru pulang dengan keadaan babak belur, wajah tampannya luka luka. Zian yang melihatnya tentu saja marah terlebih Agnia, sang ibu.


"Apa yang terjadi padamu?"


Biru hanya diam, menghempaskan tubuhnya di sofa. Sementara Zian melirik Alex. Mau tidak mau Alex menceritakan semuanya pada Zian termasuk pemukulan yang dialami putranya.


"Kenapa kau diam saja! Apa sabuk hitammu tidak ada gunanya Biru? Kqu biarkan mereka melakukannya? Apa perlu Daddy juga yang turun tangan?"

__ADS_1


"Dad ... Jangan ikut campur, Daddy hanya akan membuat semua rencanaku berantakan! Aku tidak akan membalas otot dengan otot. Aku punya otak yang bisa aku gunakan Dad!"


"Persetan dengan otakmu Biru! Daddy tidak akan tinggal diam." Zian sudah mengambil ponsel miliknya dan hendak menghubungi seseorang untuk membalasnya.


Namun Biru mencegahnya dengan cepat. "Dad ... Apa Daddy tidak percaya padaku. Sudah aku bilang kalau Daddy ikut campur aku tidak akan pulang ke rumah ini lagi!"


Zian menatapnya dengan geram, rahang tegasnya semakin keras. "Baiklah. Terserah padamu Biru! Kau memang keras kepala!"


"Ya tentu saja kepalaku keras karena menuruni sifat kalian berdua!"


Zian mendengus sementara Agnia menggelengkan kepalanya. "Kita biarkan dia menyelesaikannya sendiri dulu Daddy!"


"Dia keras kepala sepertimu!" tukas Zian menghela nafas.


"Dan amarahnya seperti mu Dad!" Agnia tentu saja tidak akan mau kalah mendengar ucapan dari suaminya.


Biru berjalan naik menuju kamarnya. Sementara Zian mencegah Alex untuk pulang.


"Apa yang dia rencanakan?" tanyanya pada Alex.


Alex mengangguk, "Yang Tante ucapkan benar, Biru ingin menyelamatkan perusahaan Baskoro dan juga menyelamatkan Dara. Dan percayalah Om Tante ... Biru tidak akan membuat semua orang kecewa dengan keputusannya!"


Zian dan Agnia akhirnya menghela nafas, tidak bisa berbuat banyak jika Biru sudah bertekad dengan keputusannya dan juga memiliki rencana nya sendiri karena mereka tahu Biru akan menjalankannya sebaik mungkin.


"Baiklah ... Bantu dia Alex, jangan biarkan dia kesulitan! Laporkan semuanya padaku apapun itu!"


Flash back Off.


Dan pagi itu juga Prasetya dan Rian menuju rumah Baskoro, Baskoro yang masih beristirahat di rumah tentu saja senang saat mereka berdua datang.


Dara yang juga hari itu tidak pergi kemana mana diam diam mendengarkan pembicaraan mereka. Tampak wajah Rian yang muram dengan sedikit memar di pipi kanannya, rambutnya juga tidak rapi seperti biasanya.


"Bagaimana Pras. Kapan kita akan menggelar pernikahan. Semakin lama perut Dara akan semakin besar. Dan aku tidak mau orang orang berfikir yang tidak tidak pada putriku!"


Prasetya menghela nafas, melirik ke arah Rian yang hanya bisa diam saja.

__ADS_1


"Maaf Baskoro! Kami tidak ada pilihan lain selain membatalkan pernikahan Rian dan Dara."


"Apa maksudmu?"


"Maksudku tidak akan ada pernikahan diantara mereka. Terserah kau saja jika kau ingin kembali menikahkan putrimu dengan Biru. Karena Rian tidak akan pernah menikahi Dara!" ungkap Prasetya lagi.


Deg!


Baskoro memegangi dadanya sendiri, merasa nafasnya menjadi sesak dan sulit bergerak. Sophia yang berada di sampingnya itu langsung menenangkannya.


"Apa maksud kalian. Kalian benar benar mempermainkan kami!"


"Tidak ada pilihan lain lagi Sophia. Toh putrimu juga tidak mencintai Rian, dia selalu bertemu dengan Biru. Apa jangan jangan anak yang dikandung Dara adalah anaknya. Bukan anak Rian!" tukas Prasetya dengan tidak tahu malu.


"Prasetya! Kau keterlaluan sekali. Apa kau tidak pernah berfikir sebelum bicara. Hah?" ucap Baskoro marah.


"Maaf Bas! Seperti yang aku katakan tadi. Itu bisa saja terjadi. Bukan kah seperti kita tahu jika dari awal mereka selalu berdua. Kau sendiri tahu itu Bas!"


Dara yang geram mendengarnya kini turun ke bawah, dia menghampiri semuanya dengan kesal.


"Bagus ... Aku emang gak sudi nikah sama orang yang gak ada niat bertanggung jawab dari awal. Sok jadi pahlawan sebenarnya hati kalian yang busuk, dan anak ini anggaplah bukan anak keturunan kalian. Makasih karena udah batalin pernikahan, dengan gitu aku gak perlu lagi mencari alasan untuk mencegahnya!" seloroh Dara yang pada akhirnya lega.


Rian bangkit dan mencekal lengannya, tidak terima begitu saja karena hal ini membuatnya kehilangan calon anaknya yang saat dikandung Dara.


"Dara ... Aku tidak mau kau mengatakan hal itu. Itu benar benar anakku bukan?"


"Rian! Cukup ... Kau hanya akan mempersulit semuanya!" timpal Prasetya.


Dara menepiskan tangan Rian dengan kasar. "Kamu dengar ya baik baik! Aku masih diam saat kamu rusak masa depanku. Aku juga masih sabar saat kamu maksa Biru dan rusak rencanaku! Tapi aku gak bisa sabar lagi saat kalian sama sekali gak peduli dengan anak ini! Dan mulai sekarang aku katakan kalau anak ini bukan anakmu! Dia keturunan Prasetya!"


"Dara!" Sophia bangkit dan menarik Dara.


Namun Dara menepiskan tangan Ibunya. "Lebih baik kamu dengar ucapan Papamu itu! Apa pun yang terjadi aku tidak akan sudi menikah denganmu!"


"Ayo kita pergi Rian! Percuma saja berurusan dengan mereka mereka ini. Lebih baik kita fokus pada kesuksesan yang akan kita raih nanti!" Prasetya bangkit juga, dia menarik tangan Rian dan mengajaknya untuk pergi.

__ADS_1


"Baguslah, itu lah sifat kalian yang sebenarnya!"


__ADS_2