Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.07(Tahu yang sebenarnya)


__ADS_3

Baskoro terperangah, masih belum bisa menerima kenyataan jika masa depan putrinya hancur begitu saja oleh Biru. Dari awal Rianlah yang akan dia jodohkan dengan Dara. Rian yang sudah jelas babat dan bebet bobot keluarganya.


"Maaf ya Om, tapi Dara sekarang adalah tanggung jawabku. Jadi dia akan ikut aturanku! Walaupun ya aku bukan lah pria yang pantas bagi Dara menurut Om, tapi aku ini bertanggung jawab. Om bisa lihat nanti." tambah Biru sedikit berseringai pada Rian dengan dua mata mengancam.


Baskoro yang masih terperangah itu menatapnya tajam begitu juga dengan Rian yang menelan saliva, jika dia mengatakannya langsung bahwa Biru bukanlah Ayah kandungnya, dia sendiri yang mati konyol. Karena Baskoro sudah pasti akan membencinya.


Sofhia yang baru saja keluar dari kamar dan mendengar semuanya pun kini berjalan ke arah suaminya.


"Itu tidak mungkin Biru, mengingat kehamilan Dara sangat rentan, dia tidak mungkin bepergian dengan naik pesawat. Itu akan berbahaya." tukasnya.


Biru kini terdiam, mungkin saja itu benar dan dia tidak mungkin melakukannya saat ini. "Kalau begitu hari ini juga aku akan membawa Dara bersamaku. Kami akan tinggal di apartemen ku." ujarnya lagi berubah rencana. Walaupun dia sebenarnya dia tidak memiliki apartemen karena dia tinggal di rumah ayahnya.


"Gak mau. Aku gak mau pergi kemana mana, aku mau di sini aja!!" ujar Dara yang tiba tiba masuk dan bergabung dengan obrolan mereka semua. "Pap ... Mam ... Aku gak mau, aku mau tinggal di sini sama kalian." ujarnya pada kedua orang tuanya.


"Untuk itu, Mami serahkan semuanya pada Papi. Gimana Pap?"


Baskoro terlihat menghela nafas berat lalu menatap Dara yang menggelengkan kepalanya. Aneh memang, kenapa Dara tidak ingin pergi dengan Biru, mengingat sebelumnya mereka di duga memiliki hubungan spesial dan sampai menyebabkan Dara hamil.


"Ayo Dara, bersiap lah! Kamu pergi bersama suamimu. Hm?" Baskoro menyentuh kepalanya dan mengelusnya lembut.


Bukan hanya Rian yang tercengang, Biru pun sedikit tercengang apalagi Dara sendiri. Bukannya melarang Biru tapi Baskoro justru mendukungnya,


Bukankah Om bilang tidak akan membiarkannya membawa Dara? Kenapa malah berubah. Batin Rian.


Aku memang harus mengetahui bagaimana Biru bertanggung jawab pada putriku.


"Pap?" Sentak Dara. Dia lantas menatap Biru dengan sinis. Lalu melangkahkan kaki ke arah Biru.


"Sini Kamu!" ujarnya dengan menariknya.


Dara membawa Biru area belakang, jauh dari pandangan kedua orang tuanya.


"Ngapain sih kita keluar dari rumah ini? Jangan banyak tingkah deh, aku gak mau!"


"Harus mau. Kau lupa poin terakhir? Aku boleh menambahkan jika merasa keberatan, dan semua berdasarkan kondisi saat ini."


"Kamu!! Ih ... Nyebelin banget."


Biru melengos begitu saja tanpa memperdulikan rengekan Dara. "Tadinya aku ingin pergi nanti malam, tapi aku berubah fikiran dan kita akan pergi sekarang juga."


Saking kesalnya Dara memukul udara dengan terus menatap punggung Biru yang berjalan ke arah paviliun.


"Gue nyesel minta tolong sama dia. Di rumah sakit aja bilangnya gak tertarik, ehhh lihat sekarang, tuh orang jadi so banget!" dengusnya kesal. "Lagian Papa kenapa sih gak ngelarang dia!"


Drett


Drett


Ponsel Biru berdering, pria berusia 22 tahun itu merogohnya dari dalam saku celana.

__ADS_1


'Hm ...!'


'Tiket pesawatmu sudah siap! Penerbangan malam jam 8,'


'Batalkan saja! Carikan aku Apartemen hari ini juga, jangan yang mewah, cari yang biasa biasa saja! Cepat kabari aku!' ucap Biru.


Tut


Tanpa menunggu jawaban dari ujung telepon yang tidak lain adalah Alex, Biru sudah lebih dulu mematikan sambungan teleponnya.


Membuat Alex berdecak dengan dua tiket pesawat yang dipegangnya. "Sialan! Emang bener bener tuh orang gila!"


***


Hampir sepekan Biru dan Dara tinggal bersama di satu unit apartemen yang tidaklah mewah, apartemen yang cukup sederhana menjadi pilihan Biru agar tidak mencolok. Entah kenapa Biru masih menutupi jati dirinya dari Dara.


Hubungan keduanya pun hanya biasa biasa saja. Dara lebih suka menghabiskan waktu di kamar dan bermain ponsel. Dan Biru lebih suka pergi keluyuran.


Tidak ada kemajuan hubungan dari mereka berdua, setiap hari akan berdebat dengan hal hal kecil saja.


"Kamu masih terus berhubungan dengan pria pengecut itu?" tanya Biru saat melihat Dara terus tersenyum seraya membalas pesan singkat di ponselnya.


"Iyalah ... Dia jauh nyenengin dari pada kamu. Tapi sayang dia harus ke luar kota karena urusan pekerjaan!"


"Benarkah?"


Dara mengangguk, "Dia itu mengelola perusahaan keluarganya, yang otomatis akan jadi milik dia ya pasti akan sibuk! Emangnya kamu ... Pengangguran! Kerjaannya cuma maen PS doang, atau keluyuran bareng si belex." Cibirnya dengan bibir yang mengkerut.


"Dih ogah!"


"Ya sudah! Lagi pula siapa juga yang mau mengajakmu." Pria itu melengos masuk ke dalam kamarnya sendiri. "Jadi tidak udah membandingkan Kepala dan ekor. Karena mereka sudah tidak akan bisa bertukar posisi!" ujarnya sebelum melangkah masuk ke arah balkon. Tempat segala alat alat olah raga dia simpan.


Ya, selama sepekan ini Biru dan Dara memang memiliki kamarnya masing masing! Area Tv yang di klaim milik Dara dan area balkon milik Biru. Keduanya sepakat dalam hal pembagian area masing masing, tidak saling mengganggu apalagi mengusik.


Hubungan Dara dengan Rian juga semakin intens, Rian begitu memperhatikan Dara dan selalu bertanya tentang perkembangan Janin di kandungannya. Dan semua tentu saja tanpa sepengetahuan Baskoro dan juga Sophia.


Kehamilan yang baru menginjak 3 minggu pun tidak membuat Dara kesulitan, tidak ada yang dia keluhkan selain bosan karena jarang sekali keluar rumah.


"Apa kamu gila!" Teriak Dara tiba tiba saat melihat Biru membuka pakaianya dan hanya mengenakan celana pendek sepaha.


Memperlihatkan otot otot lengannya dan juga otot perut yang sehat.


"Kenapa kau menyalahkan aku! Aku sedang ada di kawasanku. Tidak mengganggumu sama sekali!"


Dara berdecak, dia bangkit dari sofa hendak berjalan ke arah kamar.


Sampai mereka mendengar bunyi bel di pintu.


"Dara! Tolong buka pintunya."

__ADS_1


"Kau saja. Kenapa harus aku!" Dara mengerdik.


"Ayolah Dara!"


"Aku tidak mau. Kau buka saja sendiri! Lagi pula yang datang palingan juga si belex."


"Yang datang ayah dan ibu mertuaku Dara! Kau ingin mereka melihat kita yang aneh ini?"


Dara yang hendak menggapai pintu kamar menoleh pada Biru, dan otomatis semakin jelas melihat tubuh Biru yang bagus dan sehat sampai dia merasa gugup sendiri. "Apa kau bilang?"


"Ayah dan ibu mertuaku yang datang!"


"Papi Mami aku?" Dara bersorak dan berlari ke arah pintu, lupa jika dirinya tengah hamil muda.


"Dasar bodoh! Tidak ingat apa dia sedang hamil!"


Biru tersenyum, melihat rekaman CCTV yang sengaja disambungkan dalam ponselnya dan secara kebetulan melihat kedua orang tua Dara.


Dara membuka pintu, dan tersenyum saat melihat kedua orang tuanya datang.


"Mami ... Papi? Aku kangen ...!" ujarnya dengan berhambur memeluk keduanya.


"Dara, kemasi barang mu dan ikut pulang sekarang juga!"


Dara tersentak kaget mendengar ucapan sang ayah, juga Sang Ibu yang hanya mengangguk pasrah.


"Ada apa Pap?"


"Pokoknya kita harus pulang! Ayo berkemas. Mana anak itu?" ujar Baskoro yang langsung masuk ke dalam


Biru yang kembali memakai kaos miliknya pun berjalan menyambut mereka, walaupun dengan heran karena melihat Baskoro tampak kesal.


"Kau memang lancang! Apa tujuanmu sebenarnya. Kau ingin mengeruk harta kami dengan berpura pura. Hah?" Tuduh Baskoro dengan acungan jari ke arah Biru.


"Ada apa Om?"


"Ada apa ada apa! Kau telah berbohong pada kami. Apa yang kau mau Biru? Kau benar benar seorang penipu!" tambah Sophia.


"Tunggu sebentar Om! Apa yang terjadi?"


"Jangan berpura pura lagi! Kami sudah tahu semuanya!"


Dara dan Biru tersenyak kaget, mereka berdua saling menatap satu sama lain. Dan tidak terdengar satu kata bantahan dari mulut keduanya.


"Jadi benar begitu! Kau hanya menikahi Dara hanya karena harta. Kau bukan Ayah biologis dari anak itu." tunjuk Baskoro pada perut rata milik Dara.


Keduanya semakin tersentak kaget, bagaiaman Baskoro tahu yang sebenarnya.


Bruk!

__ADS_1


Tiba tiba Dara ambruk ke lantai, dia tidak sadarkan diri setelah mendengar ucapan ayah dan ibunya yang kinu sudah tahu yang sebenarnya.


"Dara ... Astaga!"


__ADS_2