
Brak!
Tanpa mereka sadar, Dara sejak tadi mendengarkan semua perkataan ayahnya dan juga Rian. Mereka tidak mau dan tidak ingin mengerti keadaan Dara yang kini terjepit di tengah tengah. Biru yang pergi begitu saja seolah memberikannya kesempatan yang dia minta.
Walau tanpa banyak kata Dara yakin jika Biru bersikap demikian dan dia tidak mungkin mengingkarinya lagi. Selain itu Dara tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh Biru jika kali ini dia mengecewakannya lagi.
Rian dan Baskoro menengadah kaget karena suara pintu kamar yang di banting oleh Dara, gadis itu berjalan turun dan menghampiri mereka.
"Pap ... Kali ini aku mohon, biarin aku selesaikan masalahku sendiri. Apa Papa gak ngerti perasaan aku Pap?" ujarnya dengan hampir menangis. "Apa yang di katakan orang orang jika aku yang seminggu yang lalu nikah sama Biru dan nanti nikah sama mas Rian? Apa yang di fikirkan mereka Pap?"
"Dara ... Kita sudah sepakat!" Rian berjalan ke arahnya dan memegang kedua pundaknya.
Dengan kasar Dara menepiskan tangan Rian, "Ya ... Dan kesepakatan itu bikin aku tambah masalah! Jadi lebih baik kita pada kesepakatan awal aja, jangan ada lagi yang di rubah!" sahutnya dengan menatap nanar pada Baskoro. Please Pap ... Aku takut kemarahan Biru makin jadi jika dia kecewa lagi. Batin Dara yang ikut bicara.
"Awalnya ini salah aku, aku yang udah ngajak Biru buat bikin kesepakatan ini, dan aku juga yang ingkar tanpa mikir masalah apa yang akan terjadi kedepannya nanti! Gimana tanggapan orang orang Pap? Aku udah hamil di luar nikah aja itu udah bikin masa depan aku hancur, aku gak bisa kuliah dan kalau aku bikin pembatalan sekarang, itu sama sekali gak ngebantu apa apa. Malah makin rumit! Jadi please Pap ... Aku gak mau bikin masalah baru." terang Dara yang kini menangis sejadinya.
Namun sudah tentu Dara tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada kedua orang tuanya, jika dia lah yang meminta Biru untuk memberi kesempatan lagi karena permintaan Biru yang juga tidak mungkin dia lakukan,
walaupun secara hukum Biru berhak atas tubuhnya. Tapi Dara tidak mau itu terjadi.
Sudah cukup baginya melakukannya kesalahan satu kali dengan pria yang tidak dia kenal hingga menyebabkan dirinya hamil.
Baskoro tampak terdiam, menatap wajah putri satu satunya dengan nanar. Begitu juga dengan Sophia yang kini memeluk Dara.
"Pap ... Bagaimana ini? Apa kita akan membiarkan penipu itu?"
"Mam ... Udah aku bilang kalau aku yang ngajak Biru!"
__ADS_1
"Ya tetap saja Dara, bukankah kau juga mengeluarkan sejumlah uang untuk perjanjian konyol kalian?" Sela Rian yang malah membocorkannya di depan kedua orang tua Dara.
Baskoro dan Sophia jelas tersentak kaget, mereka tidak percaya itu.
"Iya itu benar! Mas tahu persis kenapa aku ngelakuin hal itu? Biru bener, kalau aja waktu itu Mas langsung muncul dan menghentikan pernikahan tepat waktu. Ini semua gak bakal terjadi Mas!" Teriak Dara.
Sudah kepalang basah, sudah berenang sekalian, Rian tidak menepati janjinya sendiri dan malah membocorkan rahasianya, dan saat itu juga Rian tersentak kaget.
"Dan sekarang itu jadi kesalahanku? Sudah jelas jelas jika Biru yang bersalah, dia tidak seharusnya membawamu pergi!"
"Ya ... Biru gak bakal bawa aku pergi kalau aku nepatin janjiku! Mas fikir siapa yang bikin aku ingkar janji, Mas Rian kan!"
Kini Dara dan Rian menjadi terus saling menyalahkan satu sama lain, membuat Baskoro dan Sophia tidak dapat berbicara lagi. Melihat hal itu Rian menghampiri Baskoro.
"Om juga tahu kenapa aku ngelakuin hal ini bukan ... Aku tidak mau kalian di manfaatkan orang macam Biru, kita tidak tahu alasannya apa, yang jelas Biru sudah memanfaatkan keadaan ini."
Baskoro menghela nafas, masalah ini seakan tiada akhirnya. Dia terus menatap Dara yang menangis di pelukan ibunya, dia juga menatap Rian sebagai calon menantu ideal menurutnya.
"Baiklah, Papa setuju. Tapi dengan syarat jika kamu kembali tinggal di rumah ini, juga Biru! Agar Papa bisa mengawasinya dengan mata kepala Papa sendiri." tegas Baskoro.
Rian jelas terperanjat, dia tidak terima keputusan Baskoro. "Om ... Bagaimana denganku. Bukankah kita sudah sepakat?"
"Maaf Rian, Om hanya ingin menyelamatkan nama baik keluarga Om. Biarlah mereka menikah satu tahun sampai anakmu lahir, baru kita urus perceraian dan pernikahan kalian." Terang Baskoro, membuat Dara lega karena berhasil menyakinkan Papanya dan membuat Biru juga kembali percaya.
"Oke kalau begitu, jika Biru tinggal di rumah ini. Aku juga akan tinggal di sini!"
Dara yang sudah lega kini menatap Rian dengan cemas. Bagaimana mungkin Rian bisa tinggal bersama Biru. Yang ada mereka berdua saling ribut setiap hari.
__ADS_1
"Gak bisa! Aku gak mau. Tolong Mas ... Jangan bikin suasana makin keruh! Mas dan Biru sama aja, bikin hidupku makin berantakan!"
"Tapi Dara!"
"Sudah ... Kita ikuti saja dulu maunya seperti apa, Om dan Tante sudah pusing dengan masalah ini, kau boleh datang kemari sesuka hatimu. Agar kau juga tahu masalah kehamilan Dara." Tukas Sophia dengan lembut.
Sementara Dara sudah lebih dulu naik ke dalam kamarnya, semua ini membuatnya pusing dan kembali mual. Hingga dia memilih merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Dara!"
Tok
Tok
"Apa aku boleh masuk?"
Suara Rian terdengar di luar pintu kamar, dan tiba tiba saja dia membuka pintu, Dara terperanjat kaget saat melihatnya. Sontak saja dia bangkit dan langsung berdiri.
"Mas bisa gak sih gak perlu masuk masuk kamar aku seenaknya gini! Mas bukan siapa siapa aku!" sentaknya kesal.
"Maaf ... Mas hanya ingin lihat keadaanmu dan calon anak kita! Itu saja."
"Kalau ada apa apa juga Papa atau Mama pasti kasih tahu Mas!" ujarnya dengan marah, entah kenapa moodnya naik turun tidak karuan.
"Sekarang Mas Rian pergi dari kamarku! Aku gak mau ngomong apapun sama Mas! Pergi Mas!"
"Tapi Dara! Aku ingin melihat keadaan anak aku!"
__ADS_1
Dara semakin geram, dia melemparkan bantal tepat kearahnya. "Pergi gak!"
"Dara ... Padahal kemarin hubungan kita semakin baik, tapi sekarang kenapa jadi berantakan begini, ini pasti karena kamu sudah tidur dengan Biru kan!"