
"Aku serius, Data mereka selalu berbeda dengan data yang di lakukan di lapangan! Dengan begitu dia selalu melanggar kontrak kerja sama baik dengan G.G Corps maupun perusahaan lain."
Dalam prosesnya, Biru mungkin menghadapi tantangan dan rintangan, tetapi dia bertekad untuk tetap pada jalur yang benar. Dia berharap dapat menemukan solusi yang adil dan memulihkan ketenangan dalam hidupnya tanpa harus menggunakan kekerasan atau tindakan merusak.
Alex, yang awalnya menganggap bahwa Biru mungkin akan menggunakan kekerasan dalam menghadapi Rian, terperangah oleh pendekatan yang lebih bijaksana yang dipilih oleh Biru. Dia mulai memahami bahwa Biru tidak ingin memperburuk situasi dengan melakukan tindakan kekerasan atau merusak.
Alex mendekatkan kepalanya ke arah Biru dengan rasa ingin tahu dan pengertian yang baru dia temukan dalam diri Biru yang semakin dewasa saja.
Biru, aku terkejut dengan pilihanmu. Awalnya aku mengira kamu akan mengambil jalur kekerasan, tapi sekarang aku melihat bahwa kamu ingin menyelesaikan masalah ini dengan cara yang lebih bijaksana. Apa yang membuatmu memilih pendekatan ini? Kau yakin akan melakukannya? Padahal kau tahu kita akan dengan mudah menyingkirkan mereka!"
Biru tersenyum kecil, merasa lega bahwa Alex akhirnya memahami maksudnya walaupun sahabatnya itu masih memerlukan kepastian.
"Alex, aku menyadari bahwa kekerasan hanya akan memperburuk situasi dan tidak akan membawa solusi yang baik. Aku ingin menunjukkan bahwa ada cara lain untuk mengatasi konflik, cara yang lebih damai dan adil. Aku tidak ingin mengorbankan nilai-nilai dan integritasku dalam proses ini, apa yang terjadi jika aku menyerang mereka dengan keras, apa jadinya aku jika menyerang mereka dengan licik, atau apa jadinya jika aku melakukan hal yang sama atau lebih buruk dari mereka. Bukan tidak bisa dan tidak mungkin. Tapi karena aku tidak mau! Mereka jelas akan menyimpan dendam, mereka jelas akan kembali menyerang satu hari nanti. Mau sampai kapan. Sampai semua anak cucuku merasakan impact dari ku saat ini?"
Alex mengangguk dengan wajah terperangah, tidak menyangka sahabatnya bisa sedewasa saat ini. Dia menghargai kebijaksanaan yang ditunjukkan oleh Biru kali ini.
"Aku menghormati pilihanmu, Biru. Ini menunjukkan betapa kuatnya kamu dalam menjaga kendali diri dan memilih jalan yang benar. Aku mendukungmu sepenuhnya dalam mencari solusi yang adil dan konstruktif. Jika ada yang bisa aku bantu, aku dengan senang hati membantu, tidak kau bayar pun tidak apa. Aku juga ingin menunjukan integritasku padamu!"
Biru tersenyum penuh harapan, menghargai dukungan dari sahabat sekaligus asisten pribadinya itu.
__ADS_1
"Thanks, Alex. Dukunganmu sangat berarti bagiku. Aku yakin kita bisa menemukan cara untuk mengatasi masalah ini dengan bijaksana dan tanpa kekerasan. Kita akan membutuhkan waktu dan upaya bersama, tetapi aku percaya bahwa kita bisa mencapai keadilan dan kedamaian dalam hidup!"
"Wah wah ... Lihatlah gaya bicaramu Bi ... Kau luar biasa! Aku tidak menyangka kau bisa bicara seperti itu!"
Alex dan Biru melanjutkan percakapan mereka, saling mendukung dan berdiskusi tentang langkah-langkah selanjutnya yang dapat diambil dalam menghadapi situasi yang rumit ini. Mereka berdua berkomitmen untuk mencari solusi yang terbaik dan menghentikan Rian tanpa melibatkan kekerasan atau tindakan yang tidak pantas.
Sementara itu.
Setelah Dara kembali datang ke rumah sakit dan melanjutkan pemulihannya setelah menghadiri pemakaman ayahnya.
"Mami ... Boleh pinjam ponsel Mami? Aku ingin hubungi Biru dan kasih tahu kalau aku udah di rumah sakit!" ucapnya saat tiba di ruangan inap miliknya.
Sophia mengangguk, merasa tenang dengan sikap Dara yang kini lebih baik dari sebelumnya. Dia pun memberikan ponsel miliknya pada Dara.
Dara mengangguk dengan senyuman terukir tipis di bibirnya. Kini ia duduk sendirian di kamarnya dengan ponsel yang siap dia otak otik.
Tring!
Tring!
__ADS_1
Bunyi notifikasi yang muncul secara beruntun membuatnya penasaran. Hingga dia pun membuka notifikasi yang tiba tiba membludak dan tidak dapat di enyahkan itu.
Deg!
Dara terhenyak saat melihat berita yang kini ramai beredar. Kedua pupil hitamnya membola sempurna saat dengan penuh kehati hatian dia membaca hampir semua time line mencatut nama besar Maheswara dan dirinya. Termasuk itu soal Biru.
Kini suasana hatinya dipenuhi kecemasan dan kekhawatiran saat dia menyadari bahwa berita tentang kehamilannya diluar nikah telah menyebar dengan cepat di kalangan teman, keluarga, dan mungkin juga di media sosial.
Pikiran berkecamuk dalam benak Dara. Dia merasa takut dan khawatir dengan reaksi orang-orang terhadap berita tersebut. Apa yang mereka katakan tentangnya? Bagaimana mereka menghakimi dan menilainya? Apakah dia akan dihukum, dijauhi, atau dianggap buruk oleh masyarakat? Walaupun kenyataannya berita itu hasil dari rekayasa seseorang yang tidak bertanggung jawab.
Kekhawatiran yang melanda Dara membuatnya merasa terjebak dalam belenggu ketidak pastian. Dia merenung tentang bagaimana berita ini justru muncul dan pasti akan mempengaruhi reputasinya, reputasi keluarga Maheswara dan juga hubungannya dengan orang-orang terdekatnya, dan masa depannya secara keseluruhan. Ketakutan akan stigma dan penilaian negatif menerpa pikirannya.
"Astaga!" gumamnya dengan terus menatap layar ponsel menyala di tangannya.
Dara merasa sendirian dan bingung. Dia tidak tahu bagaimana menghadapi situasi ini dan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Namun, di tengah kekacauan pikirannya, dia juga merasa penting untuk menemukan dukungan dan pemahaman dari orang-orang terdekatnya.
"Biru ... gimana sama Biru, apa dia udah tahu berita ini? Astaga ... Apa yang harus aku lakukan? Siapa yang membuat berita kayak gini. Apa Intan?"
Dalam kegelisahan dan ketidak pastian ini, Dara berharap dapat menemukan kekuatan dan keberanian untuk menghadapi berita yang telah menyebar. Dia berharap ada orang-orang yang melihat di balik keadaan ini, yang memahami tantangan dan kesulitan yang dia hadapi, dan siap mendukungnya dalam menghadapi masa depan yang belum pasti.
__ADS_1
Dara menyadari bahwa meskipun berita itu menyebar luas, dia harus tetap teguh dalam menjaga integritasnya dan memilih jalan yang benar. Dia berkomitmen untuk belajar dari kesalahan dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat. Meskipun kekhawatiran menghantui, Dara berharap dapat menemukan kedamaian dalam dirinya sendiri dan menemukan cara untuk melangkah maju dengan penuh keyakinan.
"Tapi aku tahu kalau berita ini dipastikan dibuat oleh orang orang yang licik. Mereka tidak tahu apa apa, mereka tidak tahu soal kebenarannya. Tapi aku harus bicara sama Biru. Bagaimanapun juga aku tidak mungkin melibatkan keluarga Biru juga. Ayah dan ibunya yang udah baik sama aku!"