
Zian terdiam, menatap wajah Biru dengan seksama. Wajah Biru yang tegas dengan tatapan tajam penuh keseriusan.
"Sayang, kalau nyatanya kamu memang tidak melakukannya. Kenapa harus bertanggung jawab. Bukan salahmu juga kan?" ucap Agnia membuyarkan kedua pria yang tengah bertatapan sengit.
"Mami, kau percaya pada anakmu ini bukan?" Biru menggenggam tangan sang Ibu, menatapnya dalam.
"Tentu aja, dan Mami gak akan tinggal diam kalau anak Mami yang ganteng ini di usik usik orang!"
Biru tersenyum, "Mami tidak akan berani setelah melihatnya nanti."
"Maksudmu?"
Biru menggeleng dengan seutas senyuman tipis, sementara sang adik terlihat berdecih seraya mencebikkan bibirnya. Dan Zian menggelengkan kepalanya melihat kedekatan ibu dan anak lalu bangkit dan berlalu pergi.
"Temui Daddy diruangan kerja setelah makan siang!" cetusnya seraya berlalu.
Biru mengangguk, saatnya membalas perbuatan mereka semua fikirnya. Melihat Zian masuk kedalam kamar, Agnia pun mengikutinya. Ada yang harus dia tanyakan padanya.
Setelah melihat kedua orang tuanya menghilang di balik pintu kamar, Air beringsut duduk disamping kakaknya.
"Heh kak ... Emangnya apa yang mereka lakukan sama kakak sampai kakak ingin gabung di perusahaan. Bukannya kakak gak mau kerja, maunya ongkang ongkang kaki sambil foya foya!" Air cekikikan melihat sang kakak sudah menajamkan mata padanya. "Tapi kak Biru keren deh. Apapun itu mereka wajib dikasih pelajaran!" celotehnya lagi dengan anggukan kepala.
"Diam dan jangan berisik! Suaramu seperti kaleng rombeng! Kau tahu?" Ujar Biru bangkit dan membiarkan adik perempuannya mati gaya, dia naik ke lantai atas dan menuju sebuah kamar.
Air menyusulnya, terlebih Biru kini malah masuk ke dalam kamarnya. "Heh ... Aku ini adikmu, orang yang bakal belain disaat orang orang gak ada yang peduli kau tahu."
"Terserah!" Biru menutup pintu kamar dan tidak peduli adiknya marah marah.
"Heh ... Mana bisa kau tidur di sini, ini udah aku pilih jadi kamarku ...!" serunya dengan kesal seraya menendang pintu kamar. "Lagian kamar banyak, kenapa kau milih kamar ini, kenapa aku yang selalu ngalah ... Harusnya kan kebalik! Dasar anak itik nyasar!"
***
Sementara itu Agnia yang masuk ke dalam kamar tidur mereka, melihat suaminya bersiap siap untuk mandi.
"Dad ... Apa yang direncanakan Biru? Kok aku jadi was was ya."
Zian yang hendak masuk kedalam kamar mandi pun menoleh pada sang istri.
"Anak kita sudah dewasa, dia tahu apa yang harus dia lakukan."
__ADS_1
"Ya ... Aku tahu itu, tapi masalahnya ... Kenapa dia? Ah jangan jangan dia mencontohnya dari mu?"
"Apa?"
"Bertanggung jawab atas perbuatan orang lain!" Ucap Agnia dengan duduk di tepi ranjang.
Zian menggelengkan kepalanya, menghampiri Agnia yang tengah duduk di tepi ranjang dan ikut duduk disampingnya.
"Bukan hanya soal itu saja. Tapi ini masalah hati!"
Agnia menoleh, menatap wajah suaminya yang kini mengangguk angguk. "Hati?"
"Ya ... Ini soal hati, mungkin. Dan kita akan segera tahu nanti!" ujar Zian dengan mengelus bahu sang istri. "Aku akan bicara dengannya nanti. Kau tenang saja ya. Seperti katamu, kita hanya perlu percaya. Hm?"
"Ok ... Daddy! Tapi ingat jangan terlalu keras padanya, kalau tidak aku yang akan marah!"
"Kau tenang saja, seperti katamu yang percaya Biru bisa menyelesaikannya sendiri. Kalau perlu besok kita pulang dan biarkan Biru di sini!" Zia bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi, sementara Agnia diam dan mencerna ucapan suaminya. Meninggalkan Biru sendirian dan pasti dalam waktu yang lama.
Tapi sejurus kemudian Zian kembali menoleh ke arahnya. "Tenang saja, kita tidak akan benar benar membiarkannya sendirian sayang!"
***
Biru mengotak ngatik ponselnya tidak karuan, semalaman tidak berkontak dengan Dara membuatnya penasaran apa reaksi gadis itu terhadap situasi yang kembali memanas ini, bahkan lebih parah dari sebelumnya karena saat ini Baskoro dan Rian sudah pasti langsung memproses pembatalan pernikahan.
Sampai hari menjelang siang, ponselnya sepi bak kuburan hingga Biru melemparkannya begitu saja.
Sesuai perintah sang Ayah, Biru datang ke ruang kerja setelah makan siang dan mendapati ayahnya yang duduk dengan meja penuh berkas.
Biru kali pertama masuk ke dalam ruangan itu, melihat dinding ruangan dan foto foto yang terpajang, Foto kakek buyut beserta ayah dan,
"Dad ... Kenapa ada foto Oma cantik disini?"
"Ceritanya panjang, tidak akan cukup seharian menceritakannya. Duduklah. Kita bahas sesuatu yang lebih penting!" ucap Zian dengan serius.
Biru mengangguk, kini duduk di sofa panjang dan menunggu Zian bicara. Tapi Zian tidak serta merta bicara, dia malah sibuk memeriksa berkas demi berkas.
Biru menghela nafas, mulai kesal dan bosan menunggu.
"Dad ... Ini hampir satu jam!"
__ADS_1
"Oh ya ... Dan kau menjadi tidak sabar?"
"Dad ... Ayolah, aku sedang tidak main main. Beri aku keputusan yang pasti atau aku cari cara lain dengan caraku sendiri!" Biru benar benar serius.
"Sikapmu yang seperti ini akan membuatmu dalam kesulitan Biru, kau perlu waktu lagi!"
Biru bangkit dari duduknya dengan menghela nafas berat, alih alih langsung memberinya jawaban Zian malah mempermainkannya.
"Dad ... Aku hanya perlu dukungan saja, aku ini sudah dewasa dan bisa melakukan apa yang ingin aku lakukan!"
Zian berdecak, "Kau benar benar anaknya Mami Nia, tidak sabaran dan keras kepala!"
"Itu benar! Dan kau yang membuatnya hamil!"
Zian tertawa, anaknya kini benar benar sudah dewasa, selain itu pintar membalikkan ucapan.
"Besok kau temui orang ini, dia yang akan mengatur semuanya. Mulailah bekerja dengan baik dan buktikan kedewasaanmu, dan Daddy akan mengawasimu!" ujarnya dengan menyodorkan sebuah map berwarna merah.
Biru mengambil map itu dan membukanya, keduanya matanya bergerak membaca secarik kertas di dalamnya, "Global Globe?"
Zian mengangguk, "Disanalah kau akan bekerja. Dan jangan mengacau Biru!"
"Tunggu ... Aku akan bekerja di bidang Advertaising? Bukannya di Property?"
Zian kembali mengangguk, "Tempat yang cocok untukmu. Karena di sana kau akan mendapatkan apa yang kau cari dengan mudah!"
"Benarkah. Apa itu?"
"Kau kesana saja besok pagi, dan malam ini kerjakan tugas pertamamu!" ucap Zian dengan menepuk setumpuk berkas di atas mejanya.
"Dad!" rengek Biru.
"Hasilnya akan mempengaruhi posisimu di sana! Kau mengerti?" tegasnya lagi.
Tidak mungkin Biru membantahnya lagi, tapi berkas berkas itu sangat banyak dan Biru tidak mungkin bisa mempelajari semuanya.
"Oke Daddy!"
Zian bangkit dan mengambil nafas panjang, dan menepuk bahu Biru dengan keras. "Bagus ... Daddy serahkan semuanya padamu!"
__ADS_1
Biru menghela nafas berat setelah melihat Zian keluar dari ruangan, satu persatu berkas itu dia lihat dan tidak ada yang menarik baginya.
"Astaga ... Dari mana aku mulai!"