Bukan Ayah Anakku

Bukan Ayah Anakku
Bab.57(Titisan Zian)


__ADS_3

Prasetya mengangguk, "Kita akan pelan pelan masuk dan menusuknya dari dalam!"


Rian tentu saja tersenyum mendengarnya, memang mereka kesal bukan main karena setelah minta dipercepat sampai waktu mereka sedikit sekali dalam perencanaan kerja sama, dan kini justru dibatalkan dan dijadwalkan ulang tanpa kejelasan.


Sementara itu Biru yang berada di dalam ruangannya terkekeh mendengar kabar mereka pulang dengan kecewa.


"Mereka sudah pergi Pak!" ucap Manager umum yang Biru suruh menemui mereka.


"Bagus! Kita kembali bekerja," ujarnya bersemangat.


Alex bangkit dan menghampirinya, menunjukan sesuatu dari ipad miliknya pada Biru.


"Bi ... Lihat ini!"


Biru mengernyit, melihat grafik naik turun berwarna warni, dan merosot secara tajam.


"Mereka menjual saham semurah murahnya! Dan kau tahu yang lebih parah?"


Biru mendongkakkan kepala ke arah Alex, "Bukankah itu perusahaan Papanya Dara?"


Alex mengangguk, dan kembali duduk. "Kau mujur sekali, kita masuk kesana Bi!"


Biru mengangguk, "Kau benar! Haaiissh ... Sudah aku bilang jangan ikut campur!"


Alex menoleh, "Apa aku tidak boleh?"


Biru mendengus, "Bukan kau tapi Daddy!"


"Oh ...." Alex mengangguk sejurus kemudian terbeliak. "Hah?"


Bertepatan dengan pintu ruangan terbuka dan terdengar suara tawa renyah. Biru mendengus kesal melihatnya, dia menyimpan bolpoin di atas meja dengan sedikit kasar.


"Dad! Sudah aku bilang aku bisa mengurusnya!"


Zian mengangkat kedua tangan ke atas, sementara manager umum sudah menundukkan kepala saat melihatnya. "Daddy tidak melakukan apa apa Biru! Daddy hanya membuka peluang untukmu!"


"Itu sama saja Dad ... Apa Daddy tidak percaya padaku kalau aku bisa mengatasinya?"


Zian kembali tertawa. "Aku hanya memindahkan kerikil kerikil kecil dari jalanmu saja!"


Manager umum mulai bergerak mencari alasan agar cepat keluar dari ruangan itu.


"Maaf Pak Direktur. Apa Anda mau kopi atau teh? Aku akan membawakannya." cicitnya pada Zian.


"Aku ma__"


"Tidak perlu ... Komisaris Direktur kita tidak akan lama dan akan segera pergi." seru Biru dengan cepat, membuat Manager umum kalang kabut mendengarnya.


Zian tergelak sangat keras, Biru benar benar mirip dengannya. Tidak berfikir dua kali jika bicara. Teringat kelakukannya sendiri saat berhadapan dengan Dave. Gaya dan nada bicaranya sama persis.


"Kenapa Daddy tertawa, tidak ada yang lucu di sini!"


"Kau ini terlihat seperti titisanku. Ya sudah Daddy akan pergi berkeliling. Ah ... Satu lagi, Daddy punya info bagus untukmu!"


Biru mengernyit menatapnya, sementara Zian menoleh pada Alex lalu mengangguk. Membuat Alex salah tingkah dan menatap Biru.

__ADS_1


"Kau tahu sesuatu?" tanya Biru saat Zian menghilang dibalik pintu.


Alex mengangguk kecil lalu terdengar hembusan nafas Biru kasar.


"Kenapa kau lebih tahu dariku, padahal jelas jelas aku anaknya!"


"Om Baskoro masuk rumah sakit. Dan ...!"


Biru tersentak kaget, "Dan ...?"


"Dan ayahmu memintaku me merger perusahaannya!"


Biru lebih tersentak kali ini saat mendengarnya. Berapa kali dia harus bilang agar kedua orang tuanya berhenti ikut campur namun tidak pernah di gubrisnya.


"Tapi aku bilang untuk menunggu keputusanmu. Aku hebat kan! Tidak langsung setuju pada ayahmu?"


"Terus Daddy bilang apa?"


"Ya Ok!"


Biru tersenyum, menutup layar monitor di depannya lalu bangkit dan berdiri.


"Kita ke rumah sakit!"


Alex menahannya, "No ... Tidak sekarang, situasi tidak menguntungkan bagi kita. Lebih baik kita mengurus sesuatu yang lebih penting. Kita akan ke kantor Persadara sekarang! Kita harus membeli saham sebanyak mungkin."


Biru mengangguk, menepuk bahu Alex dengan keras. "Kau benar benar hebat. Urus saja semuanya!"


Alex menggangguk, dia langsung keluar dari ruangan Biru bersama kepala manager umum.


Sementara Alex masuk ke dalam mobil dan siap melaju. Namun Biru langsung membuka pintu mobil dan masuk.


"Kita ke rumah sakit Lex ... Aku ingin melihat kondisi Dara!"


"Astaga! Sudah aku bilang kau tunggu saja! Biar aku yang ke sana sendiri!"


Biru tidak peduli, dia tetap ingin pergi langsung. Dan mau tidak mau Alex hanya bisa menurutinya saja.


"Tapi kau tidak boleh muncul, kau akan mndapat masalah jika kau kembali meracau di rumah sakit!"


"Ya ... Ok. Baiklah!"


Keduanya datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Baskoro dan tentu saja keadaan Dara, terlihat gadis itu duduk di kursi di depan ruangan Baskoro.


Biru bisa melihatnya, merasa sedih atas apa yang menimpa Dara dan keluarganya, tapi Alex benar, dia tidak mungkin pula muncul tiba tiba dan membuat keributan lagi.


Hanya Alex yang beranjak menghampirinya sementara Biru hanya melihatnya dari jauh.


Dara terperanjat melihatnya, dia langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Alex.


"Alex ... Gimana keadaan Biru?"


"Biru baik baik saja, tapi dia belum bisa kemari untuk melihatmu dan juga ayahmu!"


"Syukurlah ... Aku sangat takut terjadi sesuatu!"

__ADS_1


"Kau tenang saja, Biru tidak selemah yang kau kira! Oh ya ... Aku hanya menyampaikan ini saja dari Biru, setelah situasi membaik dia akan segera menemuimu!"


Dara mengangguk kecil dan berterima kasih karena kedatangan Alex walaupun sebentar saja, dia juga jadi tahu kondisi Biru yang saat ini baik baik saja.


Sophia keluar dengan ponsel yang menempel di telinganya, terlihat berbicara dengan seseorang di ujung sambungan telefon.


Dara hanya memperhatikannya saja dan menunggunya sampai selesai.


"Ada apa Mami?" tanyanya dengan penasaran.


"Telefon dari kantor Papa, dan sekertarisnya bilang kantor sekarang aman. Kau tunggu disini ya ... Mami mau urus administrasi dulu!"


"Biar Dara aja yang urus! Mami di dalem aja, takutnya Papa sadar dan nyariin Mami!" Dara menggelengkan kepala dan mencegahnya.


Setelah itu barulah dia pergi ketempat administrasi untuk mengurus semuanya dengan tabungan miliknya yang sudah hampir menipis.


"Biaya administrasi atas nama Baskoro sudah lunas!" terang petugas saat Dara mengasongkan kartu debit miliknya.


"Hah ... Boleh aku tahu siapa yang melunasinya? Apa orang yang bernama Rian?"


Dara menebaknya langsung, sebab dia yakin jika Rianlah yang melakukannya.


"Bukan. Tapi orang lain!"


"Iya tapi siapa?"


"Maaf ... Tapi orangnya sendiri tidak mengijinkan kami untuk menyebarkan identitasnya." terang petugas administrsi.


Akhirnya Dara kembali ke ruangan dengan kepala penuh pertanyaan serta penasaran siapa yang melunasi biaya rumah sakit ayahnya.


Terlihat Rian dan Prasetya berada di depan ruangan inap Baskoro.


"Itu dia!" cicit Sophia menunjuk ke arahnya.


Dara mnghampiri mereka dan menundukkan kepalanya.


"Terima kasih Mas!"


"Mas?"


Rian mengernyit, panggilan Mas kembali dia sematkan pada Rian ang memang lebih terbiasa.


"Untuk apa kau berterima kasih Dara ... Aku tidak melakukan apa apa." sahut Rian.


"Hah? Emmpp..."


"Kau kenapa ... Ah aku tahu, kau menyesal kan sekarang karena berani menemui orang tidak tahu diri itu?"


Biru dan Alex yang melihatnya dari jauh tampak kesal, Ingin sekali Biru menghampirinya dan membalas perbuatan Rian padanya.


"Aku ingin memukulnya!"


Namun Alex mencegahnya, dia mencekal tangan Biru dengan kuat.


"Tidak seru kalau kau membalasnya sekarang! Tunggu sampai semua urusan selesai Bi. Percaya padaku!"

__ADS_1


__ADS_2