
Dara mengangguk lirih, dengan bibir yang melengkung tipis. Dia memang tidak ingin mengurus persoalannya dengan Rian, namun masih banyak pertanyaan yang belum dijawab Intan untuknya.
Suara mic sudah bergaung, tanda acara di mulai. Satu persatu sambutan dari orang orang penting yang naik ke atas panggung, terdengar beberapa gelak tawa beriringin dengan tepuk tangan dari para tamu undangan.
Terlihat juga Baskoro yang baru saja datang, dia berjalan bersama Sophia menuju tempat yang sudah di sediakan. Baskoro tampak kaget, saat tempat duduknya persis di belakang Zian dan keluarganya. Mereka yang tidak tahu apa apa sudah tentu bertanya tanya kenapa Baskoro bisa duduk paling dekat dengan sang Bisnisman terbaik se asia itu.
Begitu juga dengan Rian dan Prasetya yang dongkol melihatnya, bahkan mereka tidak bisa membayangkannya sedikitpun.
Zian masih terlihat kesal pada Baskoro karena masalah yang terjadi di antara mereka, namun Biru yang menenangkan ayahnya itu agar tidak berlarut larut.
Hingga tiba waktu di mana Zian harus naik keatas panggung untuk memberikan kata sambutannya.
Riuh tepuk tangan mendadak berhenti, juga suasana yang kini tampak hening. Semua mata tertuju pada Zian yang justru mengajak Biru untuk naik bersamanya.
Mau tidak mau Biru akhirnya ikut naik, walaupun kedua lututnya kini bergemetaran.
"Sebagaian mungkin sudah tahu siapa pria gagah ini, tapi sebagaian mungkin belum tahu. Inilah putra ku ... Putra kebanggaanku yang akan menjadi penerus perusahaan. Biru Sagara Maheswara ... Dan di kesempatan ini juga aku juga ingin kalian tahu jika aku sudah memiliki menantu yang sangat cantik,"
Semua mata kini memandang sosok Dara yang manis dengan senyuman tipisnya, gadis itu terlihat sangat gugup karena diperkenalkan dengan banyak orang.
Zian tidaklah malu maupun keberatan terlebih saat ini perut menantunya tidak bisa lagi di sembunyikan.
"Dara. Kemarilah ...!" ucap Zian pada Dara.
Biru ikut tersenyum, betapa bangga pada ayahnya yang sangat mendukung apapun yang dia lakukan. Dia pun beranjak membantu Dara untuk naik ke atas panggung.
"Bi ... Aku malu!" Bisiknya.
"Kau tidak akan ditelanjangi Dara, untuk apa malu?"
"Ih kamu ini! Aku serius,"
__ADS_1
Biru terkekeh, memegangi tangan Dara yang terasa sedikit basah. Keduanya berdiri di samping Zian.
"Inilah Aldara Dwi Prastiwi, menantu keluarga Maheswara."
Terdengar tepuk tangan yang terdengar riuh saat Zian menyebutkan nama lengkap Dara, yang tidak Biru juga Dara duga jika Zian tahu namanya secara lengkap.
"Dan sebentar lagi aku juga akan segera punya cucu!" Kali ini Zian terkekeh, menatap sekilas pada istri dan putrinya yang juga ikut tertawa.
Hanya Rian dan Prasetya yang tidak senang mendengarnya, keluarga triliuner itu tidak memandang sebelah mata Dara sekalipun mengetahui jika anak yang dikandungnya bukanlah darah daging mereka. Namun mereka juga tidak bisa membantah apalagi mengatakan hal yang sebenarnya di depan umum seperti ini sebab semua justru akan merugikan mereka sendiri.
"Kamu akan diam aja anakmu di akui mereka Rian?" desis Intan memanas manasi.
"Jangan ikut campur Intan, kalau kau banyak bicara lebih baik kau pergi saja dari sini! Dan jangan katakan apapun." tukas Prasetya yang terlihat marah.
Intan mendengus kesal, membuat Rian juga kesal padanya. Berbeda sekali dengan pemandangan di depan panggung yang tampak bahagia.
"Dan hal yang paling penting untuk kalian tahu jika kami sangat mendedikasi tinggi bagi para rekanan yang baru bergabung. Terobosan baru yang didirikan oleh Biru sebagai langkah awalnya di perusahaan, dan aku sendiri yang akan terjun langsung dalam mengevaluasi para rekanan baru itu. Dan jika tidak layak maupun tidak berkompeten maka kalian akan rugi sendiri."
Semua yang selama ini bekerja sama dengan G.G Corp tentu tahu bagaimana sepak terjang Zian. Bahkan sejak dulu posisinya tidak pernah terkalahkan. Tentu saja sebagian akan ketar ketir termasuk Rian dan Prasetya.
Melihat mereka memperlakukan Dara saja membuatnya kehilangan muka, apalagi tahu jika perusahaannya dibantu secara keseluruhan.
Pandangannya mengabur saat melihat Dara tampak bahagia karena mereka menerimanya dengan senang hati, berbeda dengan saat Biru datang kerumah untuk pertama kali.
Agnia melihatnya dari arah depan, tampak kedua pasangan suami istri itu saling menggenggam tanpa kata.
"Pak Baskoro ... Kau tidak apa apa kan?"
Baskoro tersentak, dia menyusut ujung matanya dengan cepat. "Kami baik baik saja Nyonya!"
Agnia tersenyum, "Baguslah Pak ... Pak Bas tenang saja, kami semua menerima apapun keadaan Dara karena putra kami pun menerimanya dengan tulus. Jadi berterima kasih lah dan perlakukan Biru dengan lebih baik lagi ya Pak ... Bu Sophia?"
__ADS_1
Malu ... Jelas, sudah tidak ada lagi muka yang bisa diperlihatkan. Keluarga Maheswara yang berlapang dada pada keadaan putrinya membuat Baskoro tidak sanggup menatap Agnia.
"Maafkan kami Nyonya! Kami benar benar menyesal atas perlakukan kami pada Biru dan keluarga." Sophia kini yang bicara, mengingat suaminya yang hanya bisa diam saja.
Agnia mengangguk, "Tentu saja Bu Sophia."
Sampai akhirnya ketiga orang itu turun dari panggung dan kembali duduk di tempatnya. Dan acara kembali ramai oleh beberapa penampilan dan ramah tamah.
Prasetya bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah Zian dan juga Biru yang tampak sedang berbincang dengan beberapa rekannya. Sementra para istri juga berkumpul dan saling tertawa.
"Lihatlah Papamu yang nekad Rian. Apa kamu gak ikut dia?" Tukas Intan.
Rian menoleh ke arah ayahnya berjalan, dia lantas menyimpan minumannya dan menyusul ayahnya.
"Pak Zian ...?" Sapa Prasetya.
Zian menoleh, "Oh kau ...!"
"Apakabar Pak. Pak Biru?" sapanya juga pada Biru.
Biru hanya mengangguk kecil, tatapannya kini beralih pada Rian yang berjalan ke arahnya.
"Aku ingin memberikan sedikit cinderamata." pungkas Prasetya dengan menyimpan sebuah kotak diatas meja dihadapan Zian.
"Kenapa kau repot repot Pras ... Apa yang kau inginkan?" Tanpa basa basi Zian langsung bicara to the point.
"Sesuatu yang diberikan secara pribadi atau hanya perwakilan. Tapi aku rasa itu tidak perlu!" sela Biru dengan enteng.
Zian tergelak menempuk bahu sang putra dengan bangga. "Kau dengar itu Pras ... Jadi ambil lagi dan sembunyikan di kantongmu. Kami tidak pantas mendapatkan apa apa kecuali kinerja baikmu! Dan ingat Pras ... Aku mengawasimu secara langsung mengingat hubungan kita akan jauh lebih rumit ke depannya!"
Prasetya menelan saliva, dia buru buru mengambil kotak hitam itu dan memasukkannya ke dalam saku jas sebelum orang lain melihatnya. Tepat pada saat Rian berdiri disampingnya.
__ADS_1
Raut wajah Biru terlihat berubah saat Rian melirik ke arah Dara yang tengah berbincang dengan Air, terlihat Rian juga melirik perut buncitnya. Biru langsung bergeser ke hadapannya, hingga pandangan Rian terhalang tubuhnya, terlihat dia yang tersentak lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Apa kau masih pantas melihatnya Rian? Aku rasa tidak sekalipun itu tanpa sengaja!"