
"Ingat Pras ... Aku punya uang dan kuasa!"
Prasetya tersentak kaget mendengarnya, tatapan tajamnya kini perlahan memudar kemudian menjadi sayu.
Dasar bocah tengil, dia benar benar berani mengancamku. Batin Prasetya.
Melihat Prasetya terdiam, Biru berseringai. "Hey ... Aku tahu kau mengumpat di dalam hati! Jangan ditahan tahan ... Ucapkan saja di depan orangnya langsung."
Prasetya mendengus kasar, dia lantas berbalik arah dan meninggalkan pekarangan rumahnya, pria paruh baya itu masuk ke dalam rumah dengan menutup pintu dengan keras.
"Lihat apa kalian? Sana pergi susul bos kalian itu!" sentak Alex.
Dua pengawal Prasetya akhirnya pergi begitu saja.
"Bi ... Ini semakin seru, apa aku terlihat kejam dan bengis tadi?" Alex masuk ke dalam mobil, bersama dua orangnya yang kini menyetir dan satu lagi disampingnya.
"Tidak sama sekali!"
"Kau ini, apa aku harus memanjangkan jambangku agar terlihat menyeramkan?" katanya lagi dengan menggosok lwmbut rambut jambangnya yang pendek.
"Terserah kau saja Lex."
Alex terdiam, mulai membayangkan berbagai mimik dan raut menyeramkan yang akan membuat orang orang segan saat melihatnya. Pekerjaan pertamanya itu membuat adrenalinnya semakin terpancing dan semakin seru saat orang orang menatapnya berbeda.
"Sepertinya aku kurang galak, atau begini agar terlihat menakutkan!"
"Terserah!"
"Jangan begitu Bi ... Wajahku ini sangat innocent seperti bayi, beda denganmu yang memiliki aura kegelapan sejak lahir!" tukasnya lagi saat Biru hanya dengan kata terserah saja.
"Aku tidak paham denganmu, kenapa kau ingin terlihat seram dan menakutkan jika tahu wajahmu seperti pantatt bayi?"
"Bi ... Ayolah, semua orang yang menjadi asisten itu sangat menakutkan, kau tahu sekretaris oh ... Atau sekretaris Wu ... Mereka sangat keren. Dan satu lagi sekretaris fenomenal yang mengguncang dunia pembisnis bawah tanah. Bruce ...!" celoteh Alex dengan meninju jok mobil berulang kali, hingga pria tegap berkaca mata hitam di depannya berguncang dan meliriknya ke belakang.
"Apa kau lihat lihat?" tukasnya dengan suara yang sengaja di keraskan.
Biru tergelak, memukul bahu Alex dengan keras. "Kau ini konyol ... Wajah mu akan tetap innocent walau kau keras kerasin, segala sekretaris kau sebut pun tidak akan merubah wajah pantatt bayimu!"
__ADS_1
"Bi ....!"
***
Keduanya kembali pulang ke rumah Biru, dua orang pria yang di sewa pun kini sudah kembali. Tugas mereka hanya akan mengawal jika di butuhkan saja, terlebih semua tingkah polahnya di awasi Zian dari jauh.
Biru menghempaskan tubuhnya di sofa, begitu juga dengan Alex disampingnya. Mereka berdua kembali ke mode setelan pabrik. Sama sama seorang laki laki yang beranjak semakin dewasa. Usia mereka hanya terpaut 1 tahun saja. Keduanya adalah adalah sahabat sejak kecil.
Tingkah mereka tentu saja berbeda saat di rumah, terlebih di depan sang ibu.
"Astaga ... Apa kalian baru pulang? Kenapa tidak langsung membersihkan tubuh?"
"Sebentar lagi Mami ... Aku lelah sekali! Hari ini pekerjaanku sangat berat!"
Zian yang baru saja keluar dari kamar untuk mencari keberadaan sang istri berdecak saat melihat interaksi anak dan ibunya itu. Agnia memijit pundak Biru dengan lembut.
"Duda muda ini sangat keren!" gumamnya.
Alex tertawa mendengarnya, sementara Biru sendiri mencebik. "Bagaimana aku bisa jadi Duda semuda ini! Mami jahat sekali!"
"Asal kau tahu saja, Daddy mu juga sepertimu, lebih parah malah, Daddy menikah dan jadi duda di usia sangat muda dibandingkan dengan mu."
"Baby ... Kenapa kau ceritakan hal seperti itu padanya?" Zian menghampirinya dengan membawa segelas air putih. "Aku mencarimu dan kau ada di sini rupanya!"
Agnia terkekeh, lalu bersembunyi dibalik pundak Biru yang tegap. "Aku hanya cerita sedikit Dad ... Karena nasib anak mu ini sama persis, astaga, aku jadi ingat masa lalu!"
Zian mendengus, menatap Alex dengan tajam. "Heh ... Kau sudah jalankan pekerjaanmu dengan baik?"
Alex merubah posisi duduknya dengan semakin menegakkan punggungnya tanpa bersandar. "Siap ... Sudah Om!"
"Bagus ...! Kau ingat, jika ada kesalahan Biru sedikit saja, aku tidak akan mencari orang lain!" tunjuknya dengan tegas.
"Siap ... Baik Om!"
Agnia terkekeh, begitu juga dengan Biru. "Heh ... Kau ini bukan aparatur negara! Siap siap terus!"
"Kau juga sama saja! Jangan memakai kekuasaanmu untuk hal hal yang tidak perlu!" tunjuk Zian pada Biru pada akhirnya. "Apa yang kau lakukan itu sangat beresiko, kau hanya akan mengundang musuh!"
__ADS_1
"Dad ... Aku tahu apa yang aku lakukan, so please jangan terus memantau ku! Aku tidak akan menggunakan uang dan kekuasaan untuk sesuatu yang tidak akan membuatku untung besar!"
"Mami tahu keuntungan tersebarmu adalah Dara ... Iya kan?"
"Mami memang paling mengerti!" Biru menyelusupkan kepalanya pada sang ibu.
Zian menarik tangan sang istri hingga pelukan anak dan ibu itu terlepas. "Jangan bawa bawa istriku dalam masalahmu Bung! Ayo sayang, aku sudah mengantuk!"
Zian membawa sang istri pergi begitu saja, meninggalkan putra pertama mereka yang kini berusia 22 tahun itu menatap keduanya seraya berdecak.
"Orang tuamu sangat kompak. Membuat ku iri!"
"Orang tuamu juga sangat baik! Kau harus bersyukur Lex!"
"Kau benar ... Aku bersyukur dibesarkan ayah dan ibuku dengan baik sampai hari ini."
Mereka akhirnya saling menatap lalu tertawa bersama. Biru bangkit begitu juga dengan Alex.
Mereka berdua naik ke atas dimana kamar Biru berada.
"Aku penasaran dengan cerita masa lalu kedua orang tuamu. Bahkan sampai saat saja sepertinya lebih seru dibandingkan masa muda kita Bi!"
"Kau benar Lex ... Mereka luar biasa, bahkan sampai saat ini dan pastinya lebih seru mereka dibandingkan cerita hidupmu Lex!"
Alex mendadak diam, dia hanya mengikuti langkah Biru yang masuk ke dalam kamarnya.
"Kau benar, itulah kenapa Tuhan memberiku wajah se innocent ini. Kau tahu kenapa?"
Biru menoleh ke arah sahabat sekaligus asistennya itu lalu tertawa lagi.
"Karena tuhan kasihan padamu, syukur syukur kau diberi wajah innocent agar bisa dibedakan mana wajah manusia mana wajah hewan. Kau juga tidak ling lung soal kandangmu!"
Alex berdecak lalu berkacak pinggang saat mendengar sindiran Biru. "Apa maksudmu Bi! Kau baru saja menghina asistenmu ini!"
Biru kembali tertawa. "Sudah sana! Kau tidak menyeramkan. Kamarmu ada di sebelah ... Apa kau mau tidur bersamaku di sini!"
Alex menghela nafas, tidak lama kemudian dia keluar dari kamar Biru dan menuju kamarnya. Ya, semenjak bergabung dan bekerja pada Biru, Alex pun menginap di rumahnya juga.
__ADS_1
Sementara itu Dara tidak dapat memejamkan kedua matanya padahal sudah larut malam. Dia terus berfikir sikap Biru dan juga sikap Ayahnya terasa berbeda. Ayahnya tampak bersedih dan terlihat tidak berani memandang ke arah Biru sejak mereka bertemu di rumah sakit.
"Sepertinya ada yang tidak beres!"