
... Karena terjadi kesalahan lagi dan lagi di malam hari Draff semalam pun baru berubah tadi pagi. So seperti biasa baca lebih dulu 2 bab sebelumnya yaaaa... Harap maklum dan jangan ngambek sama othor... Wkwkw...
Terus dukung Bidara jugaa ya dan makasih yang belum bosan ngikutin mereka walau othornya nyebelin dengan up dikit dikit. Bab. 102 dan 103 sudah normal lagi kok. Dan baru lolos pagi tadi.
.
.
"Dara... Hey ... Bangun sayang!"
Melihat Dara tidak sadarkan diri, Biru berteriak memanggil dokter dan juga suster. Dia mengangkat tubuh berisi Dara dan membawanya ke dalam ruangan pemeriksaan mengikuti seorang suster.
"Baringkan di sini saja ya Pak," ucap suster itu, sikapnya biasa saja mengingat Dara hanya pingsan biasa.
"Periksa dia dengan benar, kau tidak lihat istriku ini sedang hamil!" Biru sedikit emosi, suaranya bernada marah. "Pastikan dia baik baik saja!"
Sophia masuk di susul oleh kedua orang tua Biru yang juga masuk tidak lama kemudian. Melihat sang putri yang tidak sadar, Sophia mendekatinya dengan menangis. Kehilangan suami sudah sangat menyakitkan, bisa dibayangkan bagaimana sakitnya jika hal itu juga dialami putrinya, kehilangan ayahnya dalam waktu yang singkat.
Zian dan Agnia mencoba menenangkan Biru, kematian memang bukan kehendak kita. Sekalipun tampak jelas hal tersebut terjadi setelah dipicu oleh apa yang lakukan Biru.
"Sayang ... Tenanglah, Dara pasti baik baik saja!"
"Ini salah Biru Mami ... Ini salah Biru!"
"Sabarlah Bi ... Ini bukan salahmu. Semua akan baik baik saja Ok!" tegas Zian.
Dokter pun memeriksa Dara sampai dia sendiri sadarkan diri.
"Mungkin Dara sedikit shock, biarkan dia istirahat di sini sampai dia merasa lebih baik. Jika terjadi sesuatu panggil saja, untuk sementara aku tidak bisa memberikan apa apa padanya. Kita lihat kondisinya nanti." terang Dokter lalu beranjak pergi.
__ADS_1
Kesedihan tampak jelas di wajahnya sekalipun dengan kondisi dirinya yang ikut melemah. Pengurusan jenasah Baskoro pun belum usai, kondisi Dara dan dan konsentrasi Sophia yang terpecah membuat Zian dan Agnia turun tangan. Mereka membantu pengurusan jenazah sampai selesai.
Biru terus menemani Dara, sekalipun Dara terus menolak kehadirannya karena Biru menjadi penyebab kematian ayahnya sendiri.
Dara bangkit dari ranjang, dan Biru membantunya untuk duduk namun Dara menepiskan tangannya dengan kasar.
"Aku ingin kepemakaman Mam ..." ucapnya pada Sophia, dia terus mengabaikan kehadiran Biru disana.
"Aku akan menemanimu Dara," tukas Biru, dia tidak menyerah pada istrinya itu sekalipun sejak tadi terus menolak dirinya.
"Mami ... Ayo kita pergi, Papa pasti mencari kita di sana!"
Dara yang lemah memaksakan diri turun dari ranjang rumah sakit, dan mendorong Biru yang terus berada di sampingnya dan membantunya turun tanpa ingin bicara padanya satu kata pun.
"Mami ... Ayo kita per---- ...Arggghhh!"
Darah mengucur disela paha putih miliknya, disertai rasa sakit yang menyerangnya tiba tiba.
"Daraaa!" Sophia histeris melihat darah yang mengalir di kaki sang anak yang kini membungkuk kesakitan.
Begitu juga dengan Biru, dengan cepat dia memanggil suster yang berada di sana. "Dara ya tuhan, Darah ...!" sambungnya lagi dengan cemas.
Biru yang juga bisa melihatnya dengan jelas langsung keluar dari ruangan. "Panggil Dokter kesini ... Cepat!" sentaknya. "Cepat panggil!" teriaknya lagi pada suster yang kebetulan lewat.
Dokter yang tadi memeriksannya tengah berada tidak jauh dari sana, dia pun bergegas masuk dan karena mendengar teriakan Biru.
"Bagaimana ini ... Bagaimana kondisinya?" tanyanya ribut pada saat Dokter memeriksa Dara.
"Tenanglah ... Kita akan segera tahu setelah pemeriksaan."
__ADS_1
Dokter dibantu seorang suster pun memeriksa kondisi Dara, gadis itu tengah mengandung dan kehamilannya baru menginjak 7 bulan.
"Kita harus selamatkan bayi ini." ucapnya pada Biru. "Kita akan lakukan operasi caecar untuk mengeluarkan bayinya."
Biru mengangguk, dalam kondisi seperti ini yang paling tepat adalah proses penyelamatan, karena keduanya bisa saling membahayakan jika terlambat sedikit saja. Biru berfikir dengan cepat dan memutuskan dengan cepat pula.
"Apa tidak masalah jika bayi lahir sebelum waktunya? Usianya masih 7 bulan!"
"Tidak ada pilihan lain Biru ... Kita harus melakukannya, tubuh ibunya saja lemah karena shock yang dia alami. Jadi kita harus menyelamatkan anak dalam kandungannya sesegara mungkin kalau tidak kita bisa saja kehilangannya."
Biru pun memgangguk, "Lakukan yang terbaik dok!"
Dokter mengangguk, menepuk lengan Biru dengan kuat. Dan Dara kembali tidak sadarkan diri saat dia dibawa ke ruang operasi, tubuhnya yang lemah dan mentalnya yang shock karena kematian Baskoro.
Biru mondar mandir di depan ruangan operasi, dengan wajah penuh rasa bersalah karena semua yang terjadi saat ini pada Dara. Dia kehilangan ayahnya hanya karena ide dan rencana darinya. Dan semua menjadi semakin kacau karena kini Dara harus berjuang antara hidup dan mati.
"Tenanglah Bi ... Aku sangat yakin Dara dan anakmu akan baik baik saja!" ucap Alex yang berdiri tidak jauh darinya.
"Aku pun harap begitu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu terjadi pada mereka. Akulah penyebab semua ini Lex ...!"
"Bukan salahmu Bi ... Semua bukan salahmu!"
Biru menatap Alex dengan nanar, bisa dibayangkan sekecewa apa Dara padanya saat ini. Sementara Sophia tetap duduk di kursi, dia terus menangis tiada henti, baru beberapa saat tadi dia kehilangan suaminya dan kini memikirkan bagaimana anak dan calon cucunya yang tengah berjuang di dalam ruangan operasi.
2 jam sudah mereka menunggu, hingga akhirnya lampu kamar operasi berubah warna. Tanda operasi sudah selesai. Biru yang sejak tadi harap harap cemas kini terus berdiri di depan pintu ruangan. Alex yang berdiri disamping Sophia pun segera menghampirinya. Mereka sama sama menunggu pintu ruangan terbuka.
Dan sedetik kemudian pintu terbuka, para suster keluar dan dokter yang masih mengenakan pakaian operasi pun keluar.
"Bagaimana kondisi istri dan anak ku Dokter?"
__ADS_1